
Dua gadis cantik menghabiskan waktu lenggangnya di bawah pohon Delima yang berada di halaman belakang rumah, Savana. Keduanya saling curhat tentang kisah mereka.
"Tanyakan langsung padanya, Zah. Jangan kau menyimpulkan sesuatu sebelum kau bertanya pada orangnya" Savana berdiri mengambil segelas air es yang dicampur segar sari. Meneguknya untuk menghilangkan dahaga saat ini. Udara yang panas membuat gadis itu menghabiskan segelas air es dalam sekali tegukan.
Fauziah beranjak dari tempatnya, menghampiri Savana yang sedang minum. "Apa itu perlu?"
Savana meletakkan gelasnya di tempat semula. "Tentu saja"
Dua gadis itu mengakhiri percakapan mereka. Keduanya masuk ke dalam rumah menemui sang Nenek yang terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Wanita yang dulunya di puja dan di puji bak bidadari mulai menua, keriput mulai berada dimana-mana. Rambutnya yang hitam kini menjadi putih, matanya pun perlahan tak bisa melihat lagi.
"Nenek, kau begitu cantik hari ini" Fauziah mengambil tempat di samping Nenek sahabatnya. Memberi pujian untuk memberi semangat pada wanita tua itu.
Nenek Puji tersenyum. Dia tak bisa melihat, namun pendengarannya masih normal. "Aku tahu aku cantik. Bahkan kau kalah cantik bila dibandingkan denganku"
Fauziah dan Savana terkekeh. Nenek Puji begitu percaya diri. Tapi memang benar, saat muda dulu, Nenek puji sangat cantik. Tetapi cantik tak menjamin masa depan. Yang menjamin masa depan adalah usaha dan kerja keras.
Dering ponsel menghentikan tawa kedua gadis itu. Fauziah mendekat, mengambil tasnya yang dia letakkan di atas meja. Merogoh isi dalamnya guna mengambil ponsel. Nama Aqmal terterah di sana. Ada apa gerangan? Fauziah tak menggubris, dia kembali meletakkan ponselnya.
"Zah, ngak baik mengabaikan panggilan telepon. Terlebih lagi itu dari Dokter Aqmal, calon suami kamu" Savana mengingatkan.
"Apa harus, paling sekarang dia bersama anak dan mantan istrinya" Fauziah menggeser kursi lalu duduk dengan santai.
__ADS_1
"Aku memang mencintainya, menginginkan dia menjadi imam shalatku. Tapi aku juga ngak suka pria pembohong" jelasnya dengan santai.
Dering ponsel kembali terdengar. Fauziah kembali mengabaikan. Hingga teguran Savana membuat sahabatanya mengesampingkan egonya.
"Kamu dimana? Kenapa baru dijawab?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut pria yang bergelar Duda anak satu.
"Aku di rumah sahabatku" Fauziah beranjak dari tempatnya. Melangkah ke halaman belakang.
"Kenapa kamu ngak bilang? Jam berapa mau pulang?"
"Karena aku tahu, Kakak pasti sibuk mengurus putra dan mantan istri Kakak. Mungkin satu jam lagi, aku masih ingin di sini"
"D__dari mana kau tahu Fitra anakku?"
"Zah, a_aku____"
Dari sikap Aqmal yang gugup, pertanyaan yang sejak tadi belum terjawab kini terjawab jua.
"Kakak dimana sekarang?" tanya Fauziah.
"Masih di kontrakan Lis"
__ADS_1
"Oh. Ya sudah, Kakak lanjut dulu. Ada yang mau aku kerjakan sekarang" hanya alibinya saja. Sebenarnya gadis itu cemburu. "Assalamualaikum"
Sebelum Aqmal menjawab, Fauziah lebih dulu menekan aikon merah tanda memutuskan panggilan.
"Zah .." panggil Savana berdiri di pintu belakang
Gadis yang bernama Fauziah menoleh. "Ya"
"Nenek memanggilmu" ucap Savana. Fauziah beranjak, mengidahkan panggilan Nenek Puji. Ia duduk di samping sang Nenek.
"Ziah, tadi Nenek dengar kamu mau menikah?" tanya Nenek Puji memastikan.
"Iya, Nek"
"Di saat kamu sudah menerimanya, kamu juga harus menerima masa lalunya. Nenek hanya mau kamu bicarakan dengan baik mengenai anak yang tadi kau maksud. Ingat! Dia anaknya. Dia lahir setelah mereka menikah. Maka itu berarti, diwajibkan baginya untuk menafkahi anaknya"
"Kau, kau harus siap. Siap cemburu dan siap untuk sakit hati. Kenapa? Ada kemungkinan dia akan ke rumah mantan istrinya, menghabiskan waktu sehari bersama anaknya"
"Dan kau, kau dituntut untuk memaklumi semuanya. Beda halnya dengan anak yang ikut Ayah nya"
"Kau masih punya peluang untuk membatalkan pernikahan mu. Pikirkan baik-baik"
__ADS_1
Fauziah menyimak setiap nasehat dari Nenek Puji. Dia membenarkan semua itu.