Inginku Samawa Bersamamu

Inginku Samawa Bersamamu
Episode 32


__ADS_3

Untuk pertama kalinya setelah perceraian tempo dulu, Lisnawati bersama Fitra bermalam di rumah orang tua Aqmal. Di halaman belakang, Aqmal duduk bersama Lis dan Fitra yang sedang tidur di pangkuan Aqmal. Tak jauh dari tempat mereka duduk, ada David, Muli dan Jihan, sepupu Aqmal yang dari Bandung.


"Mal, makasi ya. Kau dan keluargamu banyak membantuku" ucap Lis tersenyum.


Menatap Lis sekilas, Aqmal tersenyum setelahnya. "Walau bagaimana pun, kau pernah menjadi bagian dari keluarga ini. Kau pernah menjadi istriku. Dulu, aku begitu penasaran kenapa kau ingin bercerai. Lambat laun, aku tak ingin lagi mengetahui kebenaran itu. Aku yakin, kau punya alasan yang tak ingin dibagi denganku. Lis, jika percerain dulu disebabkan sikapku atau yang menyangkut diriku. Maafkan aku"


Lis menundukkan kepala sejenak sebelum akhirnya kembali mengulas senyum. Tanpa orang-orang tahu, wanita itu banyak menyembunyikan luka. Sejak tadi bulir bening menumpuk di kedua kelopak matanya. Ingin ia tumpahkan apa yang dia simpan selama ini, tetapi tetap saja, alasan itu takan mengembalikan Aqmal padanya.


"Andai kau tahu, Bee. Aku pergi karena aku mencintai mu. Aku takut kau akan membenciku bila mengetahui alasan yang sebenarnya" batin Muli.


.


.


.

__ADS_1


.


Ingin merasakan bagaimana rasanya tidur dipeluk Ibu kandung, Fauziah mengajak Mufida untuk tidur bersamanya. Tentunya sudah ada persetujuan dari Bunda Santi. Kehadiran Mufida, tak membuat Fauziah melupakan siapa yang membesarkannya.


Malam semakin larut, namun Fauziah masih terjaga. Menatap lama wajah Mufida untuk pertama kalinya setelah pertemuan sore tadi. Bulir bening berhasil jatuh walau sudah berulang kali gadis itu berusaha untuk tidak meneteskan air mata.


"Aku yakin, Ibu pasti lelah. Bu, maafkan aku yang sejak kecil hingga kini menjadi beban pikiran Ibu" gumam Fauziah. Tatapannya tak lepas dari wajah teduh Mufida saat terlelap. Usianya tak lagi muda, tetapi wajah wanita itu begitu mulus dan bersih. Sepertinya suami keduanya bukan pria biasa.


"Dan Ibu tidak tahu harus bagaimana, Nak. Bunda mu tidak baik-baik saja. Apa yang harus Ibu lakukan" batin Mufida yang tanpa sengaja mendengar ungkapan hati putrinya.


"Aku yakin, diluaran sana banyak orang yang mengataiku Bunda tak layak menjadi Bunda. Bahkan saat putriku masih Sekolah pun, aku menerima lamaran pria untuk putriku. Maafkan Bunda, Ziah. Bunda melakukan ini semua demi kamu. Bunda yakin, kamu bisa membangun rumah tangga yang sakinah mawadah warahma. Ya, walaupun usia mu baru 18 tahun, tapi Bunda yakin, kamu bisa melewati semua problem yang akan menghampiri rumah tanggamu" batin Bunda Santi.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Suara merdu Burung pipit kembali terdengar, membuat suasana di pagi hari menjadi tenang. Sebagian orang-orang mulai bersiap-siap berangkat kerja. Sebagian pula ada yang masih bersantai bahkan ada yang masih tidur.


"Ziah bangun, Nak. Ini sudah pagi" Mufida merapikan anak rambut putrinya.


"Bu, aku masih mengantuk" sahut Fauziah dengan manja. "Ibu, bisakah Ibu menemaniku sebentar" pintahnya. Ia berangsur bangun dan duduk di tepi ranjang.


"Ke mana?" tanya Mufida.


"Ke Toko Bandung. Ada yang mau aku beli" jelas Fauziah. Ke Toko Bandung hanyalah alibinya saja. Niat sebenarnya ingin berkeliling Kota bersama Ibunya sebelum wanita itu pulang.

__ADS_1


__ADS_2