
"Ziah, jadilah wanita yang profesional. Kini kau di tempat kerja, kau harus bersikap profesional" Masih berdiri di depan ruangan Dokter Aqmal, Fauziah mengumpulkan keberanian untuk masuk.
"Assalamualaikum .."
"Waalaikumsalam .."
Perlahan ia melangkah masuk, berdiri tepat di depan Aqmal yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu.
"Ziah, ada apa?" tanya Aqmal. Jujur, betapa bahagianya dia saat melihat Fauziah berdiri di depannya. Diabaikan oleh gadis kecil itu membuat Aqmal terluka, namun dia sadar, perubahan itu ada karenanya, dialah penyebabnya. Dia yang menciptakan benteng pemisah itu.
"Dok, saya mau konfirmasi resep yang baru saja masuk" ucap Fauziah. Lalu menjelaskan niatnya menemui pria itu. Dokter juga manusia yang tak luput dari kesalahan. Dan tugas seorang Farmasi selain menyediakan obat juga mengecek kembali resep dari dokter. Memperhatikan sediaan dan usia pasien.
"Terima kasih, Dok. Saya permisi dulu. Assalamualaikum" ucap Fauziah.
"Iya, Waalaikumsalam"
Sepeninggal Fauziah, Aqmal mengusap wajahnya dengan kasar. Belum lagi dengan Lis yang selalu menanyakan kapan Aqmal akan membawanya ke keluarga Malik.
__ADS_1
"Astaghfirullah. Ada apa denganku, ya Allah. Kenapa aku seperti orang gila yang punya akal tapi tidak bisa berpikir jernih" gumam Aqmal.
Di kediman keluarga Malik, mereka semua nampak geram. Pernikahan sudah dibatalkan dan kenyataan baru terungkap. Itulah hebatnya dunia maya, mempermudah kita mencari informasi. Seperti itulah cara Muli dan David mencari tahu kehidupan Lis setelah bercerai dengan Aqmal. Nyatanya dia bertengkar dengan mertuanya. Lalu keluar dari rumah membawa Fitra.
"Ini semua karena anak itu! Ayah juga, kenapa mengambil keputusan sebelum mencari tahu kebenaran yang sebenarnya" Ucap Bunda Sakila dengan marah.
"Loh, kok Ayah yang disalahin? Salahkan saja putramu yang bodoh itu" Ayah Fikram membela diri.
"Sudah ... kalian jangan bertengkar lagi" Ayah David melerai keduanya.
"Mba, Mas, gimana kalau kita temui keluarga Fuziah lagi" saran dari Mama David.
Kalimat itu tidak dilanjutkan. Ada Oma Tantri dan Opa Dama yang baru saja datang. Kedua pasangan itu nampak tidak baik-baik saja. Ada apa dengan mereka? Baik Oma Tantri dan Kakek Dama mengambil tempat tak jauh dari anak-anak mereka.
"Tegah sekali kalian ya! Apa kalian pikir kami sudah meninggal!!" bentak Opa Dama.
Baik Ayah Fikram maupun yang lainnya diam. Mereka takut untuk membantah. Kakek Dama dikenal pendiam tapi sekali dia marah, maka bersiaplah untuk menerima konsekuensinya.
__ADS_1
"Fikram, berikan aku alasan kenapa kalian mengambil keputusan tanpa sepengatahuan ku?" tanya Opa Dama dengan tegas.
"I_itu ..."
"Itu apa!!" bentak Opa Dama.
"Assalamualaikum"
Seseorang mengucap salam dari luar. Langkah kaki perlahan terdengar mendekat. Aqmal, pria itu adalah Aqmal. Lalu di susul David yang baru saja pulang dari menjemput Muli di sekolah.
"Opa, Oma, tumben datang" Aqmal tersenyum. Tanpa dia ketahui, orang-orang di dalam sedang diamuk karena kebodohannya.
"Ada apa? Kenapa kalian semua tegang?" tanya Aqmal menatap Bunda, Ayah, Paman dan Bibinya.
"Habislah mereka" gumam Muli dan David bersamaan. Keduanya masuk lalu mencium tangan Bunda Sakila, Ayah Fikram, paman, Bibi dan Oma serta Kakek. Giliran Aqmal, Muli berbisik.
"Bersiaplah untuk dimarahi"
__ADS_1
"Ya, Kakak harus siapkan mental" bisik David.
David dan Muli ke lantai dua. Meninggalkan Aqmal yang pikirannya penuh tanda tanya.