Inginku Samawa Bersamamu

Inginku Samawa Bersamamu
Episode 17


__ADS_3

Pukul sebelas malam, Aqmal tiba di rumah bersamaan dengan Fauziah yang juga baru pulang dari kajian. Gadis itu memarkirkan motornya di garasi. Siang tadi, usai mendengarkan nasehat dari Nenek Puji, dia langsung pamit ke Apotek mengambil motornya yang ditinggalkan beberapa malam yang lalu. Usai magrib, dia dipanggil oleh Bibinya untuk ke kajian, kebetulan temanya tentang rumah tangga.


"Dia dari mana. Kenapa baru pulang jam segini?" gumam Aqmal yang hanya bisa menatap calon istrinya dari jauh.


Di dalam rumah, keluarga besar Malik sedang berkumpul di ruang keluarga. Mereka menunggu kedatangan Aqmal. Terlihat Ayah Fikram menyandarkan kepalanya di kursi sofa. Sepertinya pria paruh baya itu sedang tidak baik-baik saja.


"Assalamualaikum" Aqmal menghampiri keluarganya. Ayah Fikram perlahan membuka matanya, menatap lekat putrnya yang perlahan mendekat.


David, pria itu juga ada di situ. Ingin menyaksikan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh Kakak sepupunya.


"Duduk" titah Ayah Fikram.


Aqmal mengerutkan alisnya. Dia menatap satu persatu keluarganya. Hingga tatapannya berhenti di David. David mengedikkan bahu tanda tak tahu apa-apa. Walau sebenarnya dia tahu alasan kenapa Aqmal diminta duduk.


"Apa benar Lis mengontrak rumah di Hidayat?" tanya Ayah Fikram dengan tegas.


Aqmal mengambil napas, mengehembuskannya perlahan."I_iya, Ayah"


"Lalu apa benar kau punya anak darinya?"

__ADS_1


Aqmal terdiam, sementara keluarga menanti jawabannya. "Iya, namanya Fitra"


Bunda Sakila dan Ibunda David mengulas senyum bahagia. Tak terkecuali Ayah Fikram dan Ayah David yang mulai memutar otak mereka untuk membahas kembali pernikahan Aqmal dan Fauziah. Keluarga besar Fauziah berhak tahu kenyataan yang sebenarnya.


Muli dan David pamit ke lantai dua. Tepatnya di kamar lantai atas. Yang tak lain adalah kamar kesayangannya.


"Li, apa aku harus melakukan sesuatu?" tanya David.


"Sudah terlambat" kata Muli berdiri menghadap kamar Fauziah yang lampunya masih menyala. Sepertinya gadis di rumah sebelah belum tidur.


Kembali ke lantai satu, Aqmal memberanikah diri untuk meminta pendapat pada keluarga. Pria itu mengumpulkan keberaniannya untuk menceritakan semuanya. Mulai dari alasan Lisna pergi hingga lahirlah Fitra dan mengapa dia bisa datang di Kota ini, Kota dimana Aqmal dilahirkan dan dibesarkan.


"Aku mencintai Fauziah" Aqmal berhenti sejenak. "Tapi aku juga ingin anaku tumbuh besar di samping Ayah dan Ibunya" sambungnya.


Duarr... jawaban yang berhasil membuat semua yang ada di ruang keluarga menarik nafas kasar.


"Jawaban yang pasti apa?" tanya Ayah Fikram. Pernikahan semakin dekat, masalah ini harus segera diselesaikan.


"A__a_aku .. Aku bingung"

__ADS_1


Ayah Fikram mengusap wajahnya dengan kasar. "Kau bingung apa? Apa kau masih mencintai Lis? Hingga kau dilema membuat keputusan? Hah!!"


Aqmal menggeleng. "Ayah, yang aku pikirkan hanyalah anakku. Aku ingin dia tumbuh besar di dekat Ayah dan Ibunya"


Dari penjelasan itu, keluarga menyimpulkan jawaban. "Kalimatmu mengatakan keputusanmu. Ya sudah, kalau kau memilih anakmu. Besok, kita temui keluarga besar Fauziah. Kumpulkan keberanianmu untuk meminta maaf pada mereka"


"Tapi____"


"Sssttttt .... Berhenti memprotes. Fauziah berhak bahagia. Dan kau tidak pantas menjadi suaminya" kata Ayah Fikram.


...----...


Waktu yang di tunggu pun tiba, dimana keluarga besar Malik membicarakan kembali mengenai rencana pernikahan mereka. Awal pertemuan masih terlihat aman, namun setelah masuk ke inti pertemuan, tampak keluarga besar Fauziah marah karena putra keluarga Malik telah menginjak harga diri putri keluarga Darussalam. Sekalipun mereka kurang mampu, tapi mereka juga punya harga diri.


"Maafkan kami, kami akan menyanggupi semua konsekuensinya" ucap Ayah Fikram.


"Pergilah, bawa putramu dari sini" tegas Paman Fauziah.


Fauziah yang berada di belakang meneteskan air mata. Karenanya keluarga mereka malu. Harusnya dia menolak pernikahan dini.

__ADS_1


"Lihatlah, Ziah. Kau tidak ditakdirkan untuk menikah muda" batin Fauziah. Kalimat itu untuk menyemangati dirinya yang sedang patah hati. Sakit? Tentu saja sakit. Malu? Tentu saja malu. Tapi ya sudahla, rencana Allah adalah sebaik-baiknya rencana.


__ADS_2