
Di Bandara Oesman Sadik Bacan, Fauziah melambaikan tangannya pada sang Ibu. Sorot matanya bagaikan closed circuit television yang terus memantau pergerakan wanita yang melahirkannya. Salah satu kategori sakit namun tak berdarah, ya seperti saat ini. Fauziah berusaha mengulas senyum walau sebenarnya hatinya hancur berkeping-keping. Bahkan terdapat genangan air di kedua bola matanya yang siap menerobos namun dikalahkan oleh sang pemilik mata.
Melihat istrinya yang mulai tak seimbang, Aqmal mendekap tubuh wanita itu. Sedetik kemudian, Fauziah kehilangan keseimbangan. Pandangannya mulai buram, samar-samar terdengar seseorang memanggilnya. Saat sadar, Fauziah melihat lingkungan kamar yang berbeda. Interior kamar ini bukan kamarnya di rumah Bunda Santi, juga bukan kamarnya yang di rumah Nenek. Fauziah berusaha untuk bangun dari pembaringan, menyandarkan kepalanya di head board.
Cek--lek ...
Mendengar suara pintu, Fauziah mengalihkan pandangannya di sana. Di ambang pintu, Aqmal berdiri seraya melakukan panggilan telepon. Mengakhiri panggilan, dan dengan langkah dipercepat, Aqmal menghampiri istrinya.
"Gimana, udah mendingan?" tanya Aqmal. Ia mengecek kondisi Fauziah. Lalu mengambil teh hangat di atas nakas. "Minum dulu" titahnya.
Fauziah menurut, dia menyeruput teh hangat itu. Lalu kembali menatap di sekeliling dan terakhir menatap Aqmal penuh tanya.
"Ini tempat tinggal kita yang baru" ungkap Aqmal yang paham akan tatapan istrinya. "Rumah ini dulunya rumah Opa dan Oma, tapi nggak dihuni lagi. Oma menyerahkan rumah ini pada kita"
"Bagaimana, apa kau suka desain kamarnya?" tanya Aqmal.
Fauziah mengangguk. Sedetik kemudian dia terdiam. Aqmal menaikkan sebelah alisnya, tanda tanya menghampiri saat melihat perubahan istrinya.
__ADS_1
"Kau kenapa?" tanya Aqmal. Fauziah menggeleng, walau sebenarnya pikirannya terganggu.
"Abang tahu kau sedang memikirkan sesuatu. Katakan, kau kenapa?" tanya Aqmal serius.
Fauziah menunduk sejenak kemudian menatap serius suaminya. "Apa hanya kita berdua yang tinggal di sini?" tanyanya.
Aqmal paham, istrinya itu pasti sedang memikirkan Bunda Santi, Ibu mertuanya. "Kenapa? Apa kau ingin tinggal dengan Bunda?"
Fauziah menunduk, ragu-ragu untuk menjawab.
.
.
.
Sore hari, Fauziah dan Aqmal berkeliling Kota menggunakan sepeda motor. Keduanya berencana ke tepi Pantai Mandaong, menyaksikan pemandangan laut lepas di sana. Saat tiba di Labuha, Aqmal menepikan motornya di tepi jalan samping Apotek 24 jam.
__ADS_1
"Mau tahu atau pentolan?" tanya Aqmal menawarkan.
"Dua duanya, tapi kalau bisa banyakin tahu" balas Fauziah.
Aqmal mengangguk paham, menghampiri penjual tahu keliling. Mengambil beberapa tusuk tahu dan pentolan, ia mencelupkannya ke dalam toples sambal ektra pedas. Meminta kresek pada penjual kemudian meletakkan belanjaan di dalamnya. Setelah membayar, Aqmal menghampiri Fauziah. Keduanya kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat tujuan.
Tak jauh dari tempat star, Aqmal dan Fauziah tiba di Pantai Mandaong. Saling berpegangan tangan, kedua berjalan menuju swering. Lautan yang teduh, membuat masyarakat setempat menggunakan waktu itu untuk bermain perahu dayun kayu. Bahkan ada yang pergi memancing untuk memenuhi kebutuhan.
Satu tahu dilahap habis oleh Fauziah. Sambil menatap laut lepas, dia kembali mengingat masa-masa dulu. Dimana dia, Savana dan Farul ke sini. Ketiganya duduk termenung, memandangi laut lepas yang kadang menunjukan keindahannya.
"Zah, kamu mau kuliah di mana?" tanya Aqmal.
Fauziah mengalihkan pandangannya, menatap sekilas suaminya yang menatap laut lepas.
"Jika Abang mengizinkan, aku mau kuliah di Manado. Savana dan Farul juga akan mencoba tes di sana" jelas Fauziah.
Aqmal terdiam, Manado terlalu jauh menurutnya. Fauziah menggigit bagian dalam bibirnya, dia yakin, Aqmal akan keberatan.
__ADS_1