Inginku Samawa Bersamamu

Inginku Samawa Bersamamu
Gagal bertemu


__ADS_3

Gawai yang dalam sehari terkadang tidak berdering, tiba-tiba terdengar berdering nyaring. Muli, sang pemilik gawai menautkan kedua alisnya. Menoleh ke rumahnya, dia melihat sang Kakak di balkon menunjuk ponsel.


"Apaan sih!" ketus Muli. Ia menolak panggilan lalu membaca pesan dari Kakaknya.


"Kak Ziah, ayo ke rumah" ujar Muli. Ia menarik tangan Fauziah untuk ikut bersamanya.


"Muli, tugasku belum kelar ..." protes Fauziah.


"Nanti saja, Kak. Kakak ngak mau kan Kak Aqmal rujuk lagi sama mantan istrinya" cecar Muli. Fauziah diam namun dia menurut. Dia dan Muli pun masuk ke dalam rumah.


"Dia siapa?" Lisna menunjuk Fauziah.


"Dia adiku" balas Aqmal. Muli membulatkan mata. Bukan itu yang tadi dia baca. Isi pesan tadi, Aqmal akan memperkenalkan Fauziah pada Lisnawati. Mengatakan padanya bahwa Fauziah adalah calon istrinya. Sementara Fauziah, dia hanya diam.


"Dia yang namanya Fauziah" tanya Lisnawati lagi.


"Iya, dia Fauziah" balas Aqmal.


Lisnawati mengangguk paham. Aqmal pernah bercerita kalau dia punya adik perempuan selain Muli. Ya, itu dulu–saat Aqmal masih berstatus suami dari Lisnawati Bakri. Itu sebabnya Lisnawati tahu nama Fauziah.


Cukup lama menjadi obat nyamuk, Muli mengajak Fauziah pulang. Aqmal yang keasikan bercengkrama dengan mantan istrinya setelah setahun lebih tak ada kabar, dia lupa kalau waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Aqmal mengambil ponselnya, ia mengirim pesan pada Fauziah dan Muli.


"Maafkan aku"


Fauziah membacanya dan hendak membalas, namun Muli mencegahnya. Muli yakin, pesan itu pasti dari Kakaknya, karena dia juga menerima pesan dari kakaknya.


"Ngak perlu dibalas. Biarkan dia mata panda. Pria seperti itu memang harus diberi pelajaran" kata Muli. Fauziah hanya bisa terkekeh.


Sesuai perkataan Muli, Fauziah tidak membalas pesan dari Aqmal. Gadis cantik itu menarik selimutnya lalu terlelap di samping Muli. Sementara di tempat lain, Aqmal tidak bisa tidur.


.


.

__ADS_1


Pagi hari, usai shalat subuh, Fauziah dan Muli langsung sarapan dan bersiap-siap ke Sekolah. Mereka berencana pergi lebih awal dari sebelumnya. Bukan karena jam apel pagi dimajukan, tetapi mereka malas melihat Aqmal.


"Kak Ziah, aku nebeng ya" ujar Muli seraya mengikat tali sepatunya.


"Iya," balas Fauziah sambil mengambil kunci motor diatas meja.


Fauziah dan Muli berangkat ke Sekolah pukul 06:21 AM. Sesuai dugaan Muli, Aqmal tak bisa tidur. Dia mengirim pesan pada Fauziah dan Muli namun tak satupun dibalas oleh kedua gadis itu. Jangankan dibalas, dibaca pun tidak. Pukul 07:50 AM, Aqmal terbangun setelah memaksa matanya untuk bisa diajak bekerja sama.


"Sial, aku sudah terlambat" kata Aqmal. Ia bergegas ke kamar mandi. Membersihkan tubuhnya lebih cepat dari biasanya.


"Mba, aku berangkat kerja dulu" Aqmal pamit pada ART yang kebetulan berada di dapur.


"Ngak sarapan?" tanya Mba Fina.


"Di Puskesmas saja. Aku udah telat" balas Aqmal. Pria itu mengendari mobilnya dengan pelan. Di kompleks, banyak anak-anak yang memilih jalan kaki ke Sekolah–menambah kecepatan sama halnya dengan menjemput masalah. Bagaimana tidak, banyak anak SD yang suka menyebrang jalan tanpa pengawasan orang tuanya. Setelah melewati kompleks, Aqmal menambah kecepatan mobilnya.


"Bukannya itu Ziah dan Muli" gumam Aqmal. Pria itu melihat Fauziah dan Muli duduk di atas motor depan Sekolah SMP. Aqmal ingin berhenti, tetapi waktu tak memungkinkan lagi.


Ting...


"Selamat pagi, Be"


"Drama apa lagi yang kau mainkan sekarang. Dulu kau memberiku alasan yang konyol dan sekarang kau hadir kembali dan bersikap amnesia" batin Aqmal.


Sesuai dugaannya, Aqmal terlambat. Dia tiba saat orang-orang sudah selesai apel pagi. Tak ingin membuang-buang waktu, Aqmal bergegas ke kantin sebelum pasien datang. Usai sarapan, dia masuk ke ruangannya.


Di tempat lain namun masih dengan waktu yang sama, Fauziah sedang belajar bersama teman-temannya. Ia belajar dengan bersungguh-sungguh. Jika tak bisa bersanding dengan Aqmal, tak mengapa. Manusia boleh berencana, tetapi sebaik-baiknya rencana adalah rencana Allah.


Jam pelajaran pertama telah usai, seperti biasa para siswa yang punya uang saku akan ke kantin. Kali ini Fauziah memilih membaca catatannya di dalam kelas. Tekadnya sudah bulat, dia akan menghemat agar bisa membuka usaha kuliner.


"Ni untuk Kakak" Muli tiba-tiba datang. Dia membawa es coklat dan dua bungkus nasi kuning.


"Aku masih kenyang" ucap Fauziah berbohong.

__ADS_1


"Kak Ziah, berbohong juga butuh tenaga. Aku tahu, Kakak lapar. Jadi berhentilah berbohong" kata Muli mengambil tempat di samping Fauziah.


"Kak Savana dimana?" tanya Muli mencari cari keberadaan Savana.


"Nggak masuk. Katanya sih lagi ada urusan" jawab Fauziah.


Fauziah menghabiskan nasi kuning yang Muli beli untuknya. Sayang kalau tidak dimakan. Usai makan, Fauziah dan Muli duduk di depan kelas. Keduanya bercerita layaknya saudara kandung.


"Kak Ziah, semalam Kak Aqmal mengirim pesan ini padaku" Muli memperlihatkan pesan yang semalam Aqmal kirim.


Fauziah mencoba menyembunyikan kenyataan bahwa dia senang membaca isi pesan itu.


"Ya Allah, semoga apa yang aku baca ini adalah kenyataan. Bukan skenario baru yang Kak Aqmal coba mainkan" batin Fauziah.


"Kakak, aku kembali ke kelas dulu" Muli pamit karena jam istirahat telah usai.


Di tempat yang berbeda, Aqmal sedang duduk di ruangannya. Dia mengirim pesan untuk Fauziah namun gadis itu hanya membacanya.


Ting... Satu pesan masuk di App Whatsapp, Aqmal segera membuka App hijau itu. Berharap itulah balasan pesan dari Fauziah. Namun lagi-lagi bukan dari Fauziah, melainkan dari Lisnawati. Aqmal tergiur dengan isi pesan itu, dimana Lisnawati mengajak bertemu guna menjelaskan alasan kenapa dia menggugat cerai Aqmal.


"Baiklah, nanti malam aku ke sana"


"Oke, Bee. Aku tunggu ya"


Sialnya, Aqmal tersenyum membaca panggilan Sayang dari mantan istrinya. Apa itu tandanya Aqmal masih menyimpan perasaan untuk mantan istrinya? atau ada hal lain yang membuatnya tersenyum. Entahlah, hanya Aqmal yang tahu arti senyum itu.


Waktu yang ditunggu telah tiba, Aqmal bersiap siap menjemput mantan istrinya. Ketukan pintu dari luar menghentikan aktivitas yang Aqmal lakukan di kamar. Pria itu menoleh, mendapati ART berdiri di depan kamar.


"Ada apa, Mba?" tanya Aqmal sambil merapikan rambutnya.


"Bapa baru saja menelepon, diminta jemput Ibu dan Ibunya Fauziah di Bandara" jelas Mba Fina.


Aqmal mengambil napas panjang dan menghembuskan pnya perlahan. Mau tidak mau, dia harus menjemput Ibu dan Bunda Santi. Tak ingin mengecewakan mantan istrinya, Aqmal mengirim pesan pada wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2