
Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa, hari kelulusan telah tiba. Di SMK Misbahul Aulad Labuha, para Siswi dan Siswa, baik dari Jurusan Farmasi, Teknik Komputer & Jaringan (TKJ), Akutansi dan Sekretaris–semuanya berkumpul di Aula Sekolah. Semua siswa dan Siswi dinyatakan lulus seratus persen. Senyum sumringah, tawa, tangis yang pecah begitu saja. Semuanya memiliki arti yang tak dapat dijelaskan.
Beberapa Siswa dan Siswi dari jurusan Teknik Komputer & Jaringan (TKJ) dan Akutansi, menyumbangkan sebuah lagu yang mereka cipta sendiri. Lagu berjudul "Guru". Lirik lagu begitu menyentuh hati, tak diminta, tangis pecah dari para guru dan murid mulai terdengar. Susunan acara tak berhenti sampai di situ saja. Kini giliran Savana maju ke depan menyampaikan rasa terima kasih nya pada guru yang selama ini berperan penting dalam hidupnya.
"Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaiakum Warahmatullahi Wabarakatuh" Savana mengucap salam. Berulang kali gadis itu menyeka air matanya. Dia bukan anak kecil tapi saat ini dia menangis sesenggukan.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh"
"Alhamdulilah, hari ini kita semua masih diberi kesempatan untuk menghadiri dan merayakan hari kelulusan angkatan 08"
"Lagsung saja, kehadiran saya di depan sini, saya ingin mengucapkan__" Savana tak kuasa menahan tangis, ia memalingkan wajah ke arah lain, berusaha untuk tegar.
"Terima kasih Ibu Arwina, Ibu yang membawaku ke Sekolah ini. Ibu menjadi orang tuaku, mendaftarkan nama ku dan Ibu pula yang membantu membiayai biaya selama saya di sini. Terima kasih juga untuk semua para guru, teman sejurusan maupun jurusan lain yang telah sudih mengajariku banyak hal. Tanpa kalian semua, saya tidak mungkin bisa berada di sini"
Savana terisak, begitu juga dengan yang lain. Tidak mudah baginya berusaha untuk tidak mengecewakan guru yang membiayai biaya sekolahnya selama 3 tahun belakangan ini.
"Mungkin itu saja, lebih dan kurangnya mohon maaf, saya akhiri dengan Bismillahirrahmanirrahim, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh"
Savana menyeret langkahnya dan berhenti di samping sahabatnya, Fauziah. Keduanya berpelukan erat. Usaha mereka selama tiga tahun lamanya membuahkan hasil. Keduanya masuk dalam list juara umum. Fauziah berhasil berada di posisi pertama, Savana berhasil berada di posisi ke dua. Sementara Farul berada di posisi ke lima.
...---...
__ADS_1
Fauziah mengendarai Si Jago ke rumah. Dia sudah tidak sabar berbagi kebahagiaan bersama keluarganya. Senyum sumringah tak luput dari wajah cantik gadis itu. Masya Allah, begitu cantik makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini.
Tak membutuhkan waktu lama, Fauziah tiba di rumah. Ia meninggalkan si Jago di garasi. Berlari kecil ingin membuka pintu tapi pintu terkunci.
"Assalamualaikum ... Bunda ... Nenek ... Paman Bibi ..." Fauziah berteriak memanggil orang-orang yang berperan penting dalam hidupnya. Di dalam rumah, keluarganya bersiap siap memberi kejutan pada cucu pertama keluarga Darusalam.
"Tante .. Lihat Bunda Nggak?" tanya Fauziah pada Bunda Sakila yang kebetulan keluar di jalan menunggu penjual pentolan.
"Nggak lihat. Mungkin di rumah Nenek" balas Bunda Sakila.
Sebulan setelah kejadian dulu, tentang pernikahan yang dibatalkan. Keluarga Bunda Sakila dan keluarga Fauziah mulai menjalin kekeluargaan sebagaimana dulu mereka bersikap. Hanya Fauziah dan Aqmal yang tidak seakrab dulu lagi. Fauziah membatasi bahkan dia menjauh dari Aqmal. Bukannya dia memutuskan talisilahturahmi, tetapi gadis itu belajar menghargai dirinya sendiri. Dia tidak boleh egois pada dirinya. Aqmal menegur, dia akan membalas sapaan itu. Aqmal mengirim pesan, Fauziah akan membalasnya sesuai pertanyaan. Aqmal menghubunginya, dia akan menjawab panggilan, menjawab sesuai apa yang ditanyakan.
"Nggak ada" ucap Fauziah lesuh. Dia duduk di teras rumah mencoba menghubungi Bunda nya. Berulang kali dia mencoba tapi nomornya di luar jangkauan. Di saat dia mulai frustasi, tanpa sengaja melihat sepatu. Ia mengukir senyum.
"Bunda dan Nenek pasti di pasar. Bibi dan Paman juga pasti di kebun" gumam Fauziah. Ie cemberut dan berkata. "Bukankah mereka tahu hari ini pendengaran hasil. Harusnya mereka menungguku di rumah" gumamnya kesal.
Fauziah membuka pintu rumah dengan kunci yang ada di tangannya. Pintu rumah tiba-tiba terbuka. Kening tebal Fauziah menukik naik. Ia merasa ada yang aneh.
Dia di lema, antara mau masuk dan duduk di teras saja.
Dan benar saja, wanita itu penakut. Dia memilih duduk di teras rumah. Hanya beberapa puluh detik, Bunda Santi tiba-tiba muncul dengan motor. Fauziah mengukir senyum. Sudah tidak sabar berbagi kebahagiaan dengan Ibunya.
__ADS_1
"Bunda ... Darimana saja?" tanyanya cemberut.
"Dari pasar" balas Bunda Santi berbohong. Sebenarnya, wanita itu keluar dari dapur dan jalan ke kompleks bawah, lalu menghentikan ojek mengantarny ke rumah. Itu semua demi kelancaran rencana mereka.
"Dari pasar tapi nggak beli apa-apa" gumam Fauziah pelan.
"Ayo masuk" Bunda Santi menarik lengan putrinya. Sebenarnya sejak tadi mereka menunggu Fauziah masuk tapi gadis itu malah duduk di teras.
Cek--lek--- Pintu terbuka.
Fauziah membulatkan mata dengan mulut terbuka lebar. Ia berlari kecil masuk ke dalam rumah memeluk Bibi Nova. Tangis haru pun pecah, ia memeluk erat Bibi nya. Wanita yang rela meninggalkan rumah orang tuanya hanya untuk mengabdi pada suaminya. Wanita yang rela meninggalkan kekayaan hanya demi cinta. Bukan berarti Bibi Nova bodoh, tapi wanita itu tahu, suaminya adalah pria yang begitu menghargai wanita, terutama Ibunya. Dan benar saja, Bibi Nova diperlakukan seperti ratu oleh suaminya.
"Selamat, Sayang. Alhamdulilah, Bibi turut berbahagia" ucap Bibi Nova.
"Bibi, terima kasih" ucap Fauziah kembali memeluk erat Bibi Nova.
Fauziah melerai pelukannya, ia memeluk Nenek, lalu Paman dan terakhir Bunda nya.
"Bun, makasih ya. Bunda udah mau rawat aku. Alhamdulilah, hari ini usiaku udah 18 tahun dan hari ini juga aku juara 1 umum" ucap Fauziah. Ia melerai pelukannya, mengeluarkan uang dari dalam tas.
"Bunda, ini untuk Bunda" Fauziah menyodorkan uang sebanyak satu juta. "Uang itu dari Kepala Sekolah. Yang juara 1 umum dapat sejuta" jelasnya.
__ADS_1
Di tempat lain, tepatnya di Toko Bandung. Aqmal membayar tagihan gamis yang dia beli. Tiga gamis dan tiga jilbab. Sudah cukup untuk hadiah.
"Semoga Fauziah suka" gumam Aqmal