Inginku Samawa Bersamamu

Inginku Samawa Bersamamu
Episode 26


__ADS_3

"Kakak, apa Mba nggak masak malam ini?" tanya Fauziah.


"Masak, malahan banyak sekali" balas Aqmal. Dia menghabiskan ayam dengan lahap.


"Ziah .." tegur Bunda Santi. Wanita itu tahu tujuan Fauziah bertanya seperti itu.


Fauziah kembali diam. Dia menunduk menatap piringnya. Bukannya dia tidak suka Aqmal datang makan di rumahnya tetapi wanita itu kesal karena ayam yang Aqmal adalah miliknya–yang sengaja dia simpan untuk di makan tengah malam nanti.


Setelah makan, Aqmal duduk di ruang tv bersama Bunda Santi. Sementara Fauziah membilas piring di dapur. Entah apa yang Aqmal dan Bunda Santi bahas, keduanya nampak serius sekali. Bahkan percakapan mereka pun tak terdengar oleh Fauziah.


"Bun, bahas apaan? Kok aku nggak dengar" tanya Fauziah penuh selidik. Dia menatap Aqmal bergantian dengan Bundanya.


"Kamu nggak perlu tahu. Ini urusan orang tua" ucap Bunda Santi.


Fauziah menghela napas panjang. Dia mengambil tempat di samping Bunda nya. "Alhamdulilah, dulu aku nggak jadi nikah sama orang tua" gumamnya pelan namun masih bisa di dengar oleh Aqmal dan Bunda Santi.


"Ziah .." tegur Bunda Santi lagi.


Aqmal tersenyum. Untuk pertama kalinya dia merasa bahagia, setelah terbongkarnya kebohongan Lisna, pria itu merasa sebagian dunianya telah hancur. Cintanya mulai cuek padanya, bahkan terlihat seperti mulai membencinya. Jangankan memulai panggilan atau pesan di mesenger, Watshap ataupun pesan biasa, berpapasan di depan rumah pun Ziah enggan untuk menyapanya. Dia melihat Aqmal seperti orang asing.


"Iya, Bunda. Aku ke kamar dulu" ucap Fauziah. Ia beranjak dari tempatnya. Melirik Aqmal sekilas, namun tatapan keduanya bertemu. Aqmal tersenyum, sementara Fauziah segera bergegas ke kamar.

__ADS_1


"Haiss ... duda tua itu dia semakin tampan" batin Fauziah.


Di lantai satu, Aqmal dan Bunda Santi terlihat serius. Entah apa yang mereka bahas, bahkan Fauziah pun tak mendengarnya dengan jelas. Dia kesal, dia juga ingin mendengar pembicaraan mereka yang serius itu. Tetapi Fauziah tak ingin melihat Aqmal. Takut dia sulit move on.


Merasa bosan di kamar, Fauziah berniat membuka satu persatu hadiah yang diberikan sanak saudara, serta dari tetangganya. Tatapannya tak lepas dari paper bag kuning yang diberi pita diluarnya. Ia meraih paper bag itu. Tangannya mulai merogo ke dalamnya. Ada sebuah benda berbentuk love. Rasa penasaran membuatnya segera melihat isi di dalam. Matanya terbalalak seakan mau melompat ke luar. Isi dalam kotak itu bukan benda kaleng-kaleng. Kalung emas 24 karat 4 gram.


"Siapa yang ngasi ini?" gumam Fauziah. Ia melihat di dalam paper pag, sempat ada surat cinta di sana. Dan benar saja, ada surat cinta.


"Berkah umurnya, berkah pencapaiannya, Sayang. Oma dan Opa hanya bisa ngasi itu. Semoga bermanfaat untuk Ziah ke depannya"


Fauziah menitikkan air mata haru. Oma Tantri dan Opa Dama memberinya hadiah emas. Sejak kecil sampai usinya 17 tahun, Fauziah tak punya emas. Bukannya dia tidak mau membeli, tapi bagaimana dengan biaya sehari-hari mereka bila dia membeli emas. Alhamdulilah, di usianya yang ke 18 tahun, gadis itu memiliki emas.


"Bismilah. Berkah umurnya dan selamat untuk pencapaiannya, Dek. Semoga tetap istiqomah"


Belum berhenti di situ, Fauziah membuka paper bag dari tetangganya yang lain. Ia semakin terisak.


"Ziah, udah 18 tahun ya sekarang. Tadi Tante dengar kamu juara satu umum, Tante sekeluarga turut berbahagia. Tante hanya bisa ngasi itu. Tetap jadi anak yang rajin berbuat baik. Love you sekebun Sayang ku"


Sepatu vans asli yang harganya hampir sejuta. Dan sendal cantik.


Ada sembilan paper bag yang dia terima di usianya ke 18 tahun. Dia membukanya satu persatu. Tangis haru semakin pecah. Ia menangis bahagia. Semua isi paper bag adalah kebutuhannya saat dia akan kuliah nanti. Jilbab, gamis, sepatu, binder serta isinya, bahkan ada ponsel baru untuknya.

__ADS_1


"Terima kasih ya Allah. Engkau mempertemukan aku dengan orang-orang baik"


Fauziah melakukan sujud syukur. Setelahnya, ia turun ke lantai satu mengambil air dingin di kulkas.


"Zah, siapa yang marahin kamu? Kok kamu nangis?" tanya Bunda Santi saat Fauziah melewati mereka.


"Hah .."


Seketika Fauziah lari ke kamar. Dia tidak menyadari kehadiran Paman dan Bibinya. Entah sejak kapan mereka datang, yang pasti, Fauziah tidak tahu kedatangan Bibi dan Pamannya. Bahkan dia mengirah Aqmal sudah pulang ke rumahnya, nyatanya belum.


"Kok aku bisa lupa sih kalau Kak Aqmal masih di sini!" ketus Fauziah. Ia menggaruk garuk rambutnya bak anak kecil.


Ting!!


Satu pesan masuk, Ziah meraih ponselnya. Ada pesan masuk dari Aqmal.


"Pekan depan kita menikah"


Fauziah tersenyum. Dia berfikir Aqmal menghiburnya karena tadi melihatnya menangis.


"Apa ini juga termasuk hadiah?" balas Fauziah sekedar bercanda. Untuk pertama kalinya, dia merespon Aqmal dengan pertanyaan balik. Apa karen isi pesan kali ini berbeda? Atau mungkin dia mau memulai hidup baru di usianya yang kini sudah 18 tahun? Entahlah.

__ADS_1


__ADS_2