Inginku Samawa Bersamamu

Inginku Samawa Bersamamu
Episode 34


__ADS_3

Fauziah baru saja keluar dari kamar mandi usai membersihkan diri. Dia terlihat malu saat hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuh seksi yang menunjang daya tariknya. Detak jantung wanita itu berdetak begitu cepat. Saat tanpa sengaja tatapan keduanya berpapasan. Menyadari dirinya masih terbalut handuk berwarna putih, pikiran Fauziah mulai gesrek ke hal-hal negatif.


"Sial! Kenapa aku bisa berpikiran kotor" batin Fauziah kesal.


Aqmal terkekeh kecil. Untuk pertama kalinya dia menyaksikan wajah merah merona wanita di depannya. Beranjak dari tepi tempat tidur, Aqmal menghampiri Ziah yang berdiam diri seperti patung di depan pintu kamar mandi.


"Tunggu aku mandi dulu, setelah itu kita lakukan bersama" ucap Aqmal berbisik ditelinga istrinya.


Dengan susah payah Fauziah menelan salivanya. "Melakukannya bersama?" gumam Fauziah pelan bahkan sangat pelan. Lagi, pikiran liarnya mulai ke hal-hal mesum.


Aqmal menggeleng-gelengkan kepalanya. Menebak pikiran liar sang istri hingga membuatnya menarik senyum. "Iya, apa kau ingin melakukannya sendirian?" tanyanya menggoda.


Fauziah menggeleng cepat, membuat Aqmal gemes dan pada akhirnya satu jitakan tangan mendarat sempurnya di jidat istrinya.


Tak!! Jemari Aqmal menjitak jidat Fauziah membuat wanita itu meringis kesal. "Pikiranmu terlalu kotor".


"Ih ... Abang apaan sih .." ketus Ziah seraya menyentuh jidatnya.

__ADS_1


"Maaf" ucap Aqmal lirih. Belum juga ditanggapi oleh Fauziah, pria itu kembali iseng.


Cup


Cup


Cup


Aqmal mendaratkan tiga ciuman singkat di bibir mungil istrinya. Perbuatannya yang tiba-tiba membuat mata Fauziah membulat sempurna.


"Cepat kenakan pakaianmu sebelum kau menyesalinya" titah Aqmal, ia menyeret langkahnya ke dalam kamar mandi dengan senyum penuh kemenangan. Akhirnya, setelah setahun lebih dia menduda, dia bisa merasakan kembali bagaimana senangnya tidur dipeluk, diberi kecupan di pagi dan sore hari. Dan yang paling ia rindukan, menjadi imam di sepertiga malam.


Suara pintu mengalihkan pandangannya saat itu juga. Ia mengakui kegantengan pria yang kini berstatus suaminya.


"Zah, bisa ambilkan pakaian untuk Abang" ujar Aqmal berdiri di depan cermin merapikan rambutnya yang acak-acakan.


Fauziah menghampiri koper milik suaminya. Membukanya dengan hati-hati. "Abang, baju tidur atau baju apa?" tanyanya serius.

__ADS_1


"Kalau ada baju koko dan dan baju tidur. Abang belum shalat" jawab Aqmal tanpa mengalihkan pandangannya dari cermin.


.


.


.


.


Aqmal mendesah kasar. Semangatnya melewati semangat 45 tetapi bercak noda darah membuat semangatnya berangsur hilang. Bukankah malam pertama adalah malam yang ditunggu-tunggu oleh pasangan suami istri yang baru sah. Namun malam yang panjang itu terpaksa di tunda oleh Aqmal karena datangnya tamu tak di undang. Aqmal yang awalnya tersenyum mesum ke arah wanitanya, pria itu harus menahan diri untuk beberapa hari ke depan.


"Za, sepertinya Abang akan puasa lagi" ujar Aqmal merebahkan dirinya di samping sang istri.


Kedua kening Fauziah terangkat naik. "Kenapa?" tanyanya tak paham.


"Apa kamu nggak tahu? Kau sedang haid" jelas Aqmal.

__ADS_1


Fauziah terkekeh. Sebenarnya dia merasa ada yang keluar tetapi dia tidak tahu kalau itu darah. Pasalnya belum saatnya dia haid. Bukankah dua pekan lalu dia baru saja haid. Sepertinya keberuntungan memang tidak berpihak pada Aqmal.


__ADS_2