
Setelah melewati beberapa malam berduaan, Fauziah sedikit mengetahui sikap Aqmal yang sebenarnya. Pria itu nyatanya mesum dan gokil. Lihatlah, dalam perjalanan menuju Pantai Dermaga Biru pun dia masih menyempatkan mulutnya untuk berkata mesum.
"Abang ni ... aku kira pria yang kek mana lagi. Nyatanya kek gini. Mesum amat sih, Bang ..." ucap Fauziah. Sungguh, dia baru tahu Aqmal orangnya seperti itu.
Aqmal yang fokus menyetir, pria itu dibuat tertawa. Memang benar apa yang dikeluhkan Fauziah. Aqmal memang orangnya seperti itu, suka bercanda tentang hal mesum. Tapi dia hanya ngelakuin itu pada istrinya, bukan pada orang lain.
"Sekarang Abang kasih pilihan, mau Abang jajan di luar atau di rumah?"
Fauziah membenarkan cara duduknya, secepat kilat menatap Aqmal yang senyam senyum. "Maksudnya?" tanyanya tak paham.
"Kamu pasti akan paham kok, mikir aja dulu" kata Aqmal tak mau menjelaskan.
Menghela nafas pelan, Fauziah mengeluarkan ponselnya. Dia mulai mencari tahu tentang kalimat tadi lewat bantuan geogle. Hati yang sejak tadi bertanya-tanya, kini terjawab jua. Namun jawaban itu membuat matanya membulat sempurna.
"Coba aja kalau berani" Fauziah mengancam. Dia tidak membenarkan perbuatan itu. Suami yang sudah menikah, hanya boleh jajan di rumah. Jikapun di tempat lain, harus dengan istri sah. Tapi bukan berarti dia menyukai poligami. Tidak! Fauziah menolak itu, walau dengan alasan yang kuat dan akurat.
__ADS_1
"Mana berani Abang, Zah ... Abang masih mau hidup. Masih mau gendong anak, bahkan kalau Allah memberi kesempatan, Abang mau gendong cucu dulu"
Lama berbincang, akhirnya mereka sampai di Pantai Derbi. Sambil menunggu yang lain, Aqmal mengajak istrinya mengambil gambar berdua. Berbagai gaya, mulai dari saling berjauhan hingga berpegangan tangan dan saling tatap.
.
.
.
Sementara keluarga Aqmal yang lain sudah pulang waktu subuh tadi. Walau hujan deras, mereka tidak membatalkan jadwal keberangkatan. Bukannya tidak punya uang untuk membeli tiket lagi, tapi ada pekerjaan kantor yang menunggu mereka.
Kembali ke Muli, gadis itu terus menempel pada David. Dia malu bergabung dengan Farul dan lainnya. Farul, sahabat Fauziah yang Muli kagumi sejak hari pertama ke Sekolah.
"Kamu kenapa sih?" tanya David yang mulai curiga dengan gerak gerik sepupunya. Dia ingin bergabung dengan yang lain, yang sibuk menikmati hidangan di tepi pantai sambil menyaksikan air laut yang teduh dan jernih. Tapi mau bagaimana, setiap kali akan ke sana, Muli menariknya.
__ADS_1
"Jangan bilang kau jatuh cinta pada pria itu" David menatap Farul yang sementara tersenyum menyapa Bunda Santi dan Bunda Sakila.
"Sok tahu!" elak Muli. Dia pergi meninggalkan David yang mulai paham. Menjauh dari keluarga, Muli duduk di bawah pohon kelapa. Sementara David bergegas menemui keluarganya.
"Muli mana?" tanya Aqmal.
"Sana" David menggerakkan jarinya menunjuk ke arah Muli.
"Dia ngapain di sana? Astaga ... anak itu" Bunda Sakila menghela nafas pelan. "Biarkan saja dia sendirian" sambungnya tak mau mengambil pusing akan sikap putrinya.
"Tante, aku dan Savana mau minta izin ke sana" Farul membuka percakapan baru. Dia menunjuk ke arah Muli.
Bunda Sakila mengangguk. Sepeninggal Savana dan Farul, Ayah Fikram dan Paman Zaki mencari suasana baru. Begitu juga dengan Bunda Santi, Bunda Sakila dan Bibi Nova. Yang tinggal, hanyalah Lisnawati, David, Aqmal, Fauziah dan Baby mungil. Bila ada yang bertanya, dimana Nenek, Oma dan Opa, maka jawabannya sederhana. Oma dan Oma ke luar kota. Sementara Nenek tidak mau dengan alasan sudah tua.
Aqmal mengajak Fauziah ke gardu pandang. Meninggalkan Lisnawati bersama putranya dan juga David. Tak ingin menyaksikan kemesraan Aqmal dan Fauziah, Lis mengajak putranya bermain. Lis tahu, bagaimana Aqmal. Pria itu begitu romantis. Dan satu, dia tidak perhitungan.
__ADS_1
"Ya Allah, maafkan aku yang masih menyimpan rasa ini. Aku sudah berusaha, tapi inilah hasilnya. Aku masih mencintainya, mencintai dia yang dulunya milikku" batin Lis.