
Semua petugas medis bubar dari barisan. Begitu juga dengan anak magang. Fauziah dan tiga orang temannya duduk bertukar tempat. Seperti biasa, gadis itu akan mengutamakan tugasnya dibandingkan beban pikirannya. Satu persatu resep mulai masuk, bagian menggerus mulai melakukan tugasnya. Begitu juga bagian menyediakan yang obat tablet atau kapsul. Dari sekian banyaknya resep, ada satu resep yang menyita perhatian Fauziah. Anak Fitra Junaid Malik, nama itu ada di salah satu resep.
"Jadi benar, bayi itu anaknya Kak Aqmal. Kenapa Ka Aqmal tidak memberitahu kami" batin Fauziah.
Layaknya seorang tenaga Kefarmasian, Fauziah melakukan tugasnya dengan baik. Kinerja gadis itu tak bisa diragukan lagi. Dia pandai dalam bidangnya, terutama tentang penyerahan Obat.
"Anak Fitra Junaid Malik .." Wanita dengan rambut yang digerai perlahan maju ke depan.
"Apa Ibu orang tuanya Fitra Junaid Malik?" tanya Fauziah memastikan. Takutnya dia salah memberi obat.
Wanita dewasa itu mengulas senyum. "Iya benar"
"Apa anak Ibu demam?" tanya Fauziah kembali memastikan.
__ADS_1
"Iya benar"
Fauziah mengukir senyum manisnya. Bersikap layaknya petugas medis yang seharusnya. Ramah dan sopan. "Bu, ini obat demamnya. Empat kali sehari tiap enam jam. Setiap pemakaian, cukup 6 tetes saja. Ada pipet nya di dalam untuk mempermudah Ibu menakar Obat saat diberi ke bayi Ibu nantinya"
Lis mengangguk paham. "Terima kasih" ucapnya bersamaan dengan tangannya yang terulur ke depan mengambil obat dari tangan Fauziah. Wanita dengan nama lengkap Lisnawati Bakri pergi setelah mengambil obat.
Tak terasa, dua puluh menit lagi waktunya pulang. Fauziah mengirim pesan pada Bundanya. Gadis itu ingin ke rumah Savana, ada sesuatu yang mau mereka kerjakan bersama.
Di lain tempat, Aqmal duduk termangu mendengar alasan yang sebenarnya kenapa mantan istrinya meminta cerai. Perasaan bersalah menyeruak begitu saja. Harusnya dia mencari tahu alasan yang sebenarnya, bukankah dia sudah lama mengenal Lisna, mantan istrinya.
"Maafkan aku" Hanya dua kata itu yang bisa mewakili perasaan Aqmal saat ini. Dalam sekejap, rasa bersalah menghantuinya. Harusnya dia ada disaat Lis melawan rasa sakitnya.
Kanker mata stadium awal. Itulah penyakit yang katanya diderita Lisnawati kala itu. Berbagai upaya ia lakukan tanpa sepengatahuan suaminya. Namun semakin hari dia semakin dihantui rasa takut, takut menjadi beban bagi suaminya. Seminggu setelah perceraian itu, Lis didiagnosis hamil oleh dokter. Sejak saat itu, semangatnya kembali berkobar. Dia menjaga kandungannya dengan baik, bahkan dia aktif melakukan pengobatan untuk kesembuhan dirinya. Dan kini, penyakit wanita itu telah sembuh setelah menjalani operasi. Itulah alasan yang Lis ceritakan pada Aqmal. Benar dengan tidaknya, hanya Lis dan Tuhan yang tahu.
__ADS_1
"Nggak Papa, Bee. Akulah yang bersalah dalam hal ini. Ngak seharusnya aku berbohong padamu"
"Bee, bisakah kita rujuk kembali. Kasihan Fitra, dia butuh kasih sayang dari seorang Ayah"
"Tapi Lis_____" Lis menempatkan jari telunjuknya di bibir Aqmal.
"Aku tahu kau masih mencintaiku. Itu sebabnya kau belum menikah. Iya kan?" Dengan penuh percaya diri, Lis mengatakan itu dengan lugas.
"Bee, lihatlah" Lis menunjuk putra mereka yang terlelap setelah diberi obat. "Dia butuh sosok Ayah"
Aqmal dilema, dia tak tahu harus jawab apa. Di satu sisi, dia mencintai Fauziah dan pernikahan mereka akan berlangsung dalam waktu dekat. Disisi lain, Fitra juga butuh dirinya.
"Kali ini aku ngak boleh gegabah dalam mengambil keputusan. Lebih baik aku meminta solusi pada mereka" batin Aqmal.
__ADS_1