Inginku Samawa Bersamamu

Inginku Samawa Bersamamu
Episode 38


__ADS_3

Hujan begitu awet di larut malam, bahkan frekuensinya semakin bertambah. Walau begitu, Fauziah tetap merasa hangat dalam pelukan suaminya. Akibat hujan yang tak kunjung mereda, Aqmal melewatkan waktu shalat subuh. Dengan tergesa gesa, dia masuk ke kamar mandi melakukan rutinitas pagi dan tak lupa mengambil wudhu. Segerah ia menunaikan shalat subuh di kamar. Usai shalat, ia menghampiri istrinya yang dengan telaten menyisir rambutnya yang sepinggang.


"Zah, pagi nanti kita ke rumah Mama. Semalam Mama meseg Abang tapi lupa beritahu Ziah" ucap Aqmal mengambil alih sisir di tangan istrinya. Perlahan, namun pasti, dia menyisir rambut sang istri.


"Iya" sahut Fauziah menjawab. Menarik senyum, Fauziah merasa seperti ratu yang diperlakukan istimewah oleh sang raja.


"Apa orang pacaran juga melakukan hal yang seperti ini?" tanya Fauziah menatap Aqmal lewat cermin.


Aqmal terkekeh. Entah dia harus mengiyakan atau mengatakan tidak. Pasalnya, saat dia dan Lis pacaran dulu, dia pernah melakukan hal itu. Tapi itu saat keduanya belum resmi menjadi pasangan halal. Lantas? Apa itu bisa dikatakan iya. Pantaskah pasangan yang belum halal berduaan di kamar? Kan tidak boleh, takutnya mereka khilaf.


"Yang belum sah menjadi pasangan suami istri, hal ini tak dianjurkan untuk dilakukan. Karena rambut seorang wanita muslimah adalah aurat. Kau tahu, Abang pernah melakukan kesalahan itu. Maklum, dulu Abang kurang membaca" jelas Aqmal.


.


.


.

__ADS_1


Ali-alih meminta Aqmal dan Fauziah ke rumah, Bunda Sakila dan Ayah Fikram justru bertamu di rumah keluarga Fauziah. Rumah besar Nenek yang masih satu kecamatan, satu kabupaten, namun beda kompleks. Keluarga Malik dan keluarga Darussalam duduk menikmati kopi panas dan beberapa potong kue yang dibeli di warung tetangga.


Lama berbincang-bincang, Bunda Santi undur diri ke kamar mengambil uang pemberian tamu undangan, saat Fauziah dan Aqmal menikah berapa hari yang lalu. Uang pecahan 100 ribu dan 50 ribu tak sedikit jumlahnya. Kembali dengan wajah berbinar bahagia, Bunda Santi duduk di samping Bunda Sakila.


Tumpukan uang yang dipegang Bunda Santi mengundang pertanyaan, hingga pertanyaan itu berhasil keluar dari mulut Ayah Fikram.


"Kau mau ke bank?" tanya Ayah Fikram.


"Mana mungkin aku ke bank, mau ngapain di sana" jelas Bunda Santi meletakkan uang itu di atas meja kaca.


Bunda Santi menghela nafas pelan. Hanya Paman Zaki dan Ayah Fikram yang tidak tahu menahu tentang uang itu. "Ini uang dari mereka yang memenuhi undangan kita"


"Semuanya?" Paman Zaki membulatkan mata tak percaya.


"Tentu saja. Harusnya kau mengucap syukur, uang itu bisa digunakan oleh keponakan kita dan suaminya" balas Bibi Nova menimpali.


"Bagaimana dengan hutang beras dan belanjaan lainnya?" tanya Paman Zaki lagi.

__ADS_1


"Sudah lunas" Nenek menjawab. Karena memang Nenek yang memegang uang waktu itu, jadi Nenek tahu berapa besar pengeluaran mereka saat acara pernikahan itu. Kurang lebih 100 juta, sudah dengan menyewa alat pesta dan kelengkapan lainnya.


Pandangan mereka teralihkan saat Aqmal dan Fauziah keluar dari kamar.


"Apa kita membuat salah?" tanya Fauziah serius.


Aqmal menghela nafas pelan. Pertanyaan itu juga yang ada dibenaknya. "Aku juga nggak tahu" balasnya singkat.


Seperti Ayah Fikram dan Paman Zaki, Fauziah dan juga Aqmal menatap uang yang jumlahnya tidak sedikit. Ingin bertanya, tapi malu.


Nenek berdehem, membenarkan posisi duduknya. Kemudian menatap Fauziah lalu Aqmal. "Itu uang untuk kalian, dari orang-orang yang menghadiri acara pernikahan kalian"


"Sebanyak itu?!!" Aqmal maupun Fauziah membulatkan mata dengan mulut terbuka.


"Iya, jumlah keseluruhan 63 juta " jelas Bunda Santi.


"Masya Allah ... Semoga Allah melipat gandakan rezeki mereka. Aamiin" Aqmal berdoa.

__ADS_1


__ADS_2