Inginku Samawa Bersamamu

Inginku Samawa Bersamamu
Episode 13


__ADS_3

Lamaran Aqmal diterima. Kedua keluarga sepakat menikahkan Fauziah dan duda keren. Dari hasil musyawarah, pernikahan akan diadakan dua pekan mendatang di KUA. Dan pastinya hanya saudara yang diundang. Kerabat dan kolega bisa hadir saat acara resepsi yang akan diadakan setelah Fauziah lulus Sekolah nanti.


Keluarga Malik kembali ke rumah mereka usai melamar Fauziah. Di rumah, mereka kembali membahas pernikahan yang nantinya akan dilangsungkan di KUA.


Aqmal, Duda keren itu tak henti-hentinya memikirkan calon istrinya yang dengan cantiknya mengenakan gamis Siena renda. Tentu hal itu membuat Aqmal begitu bahagia. Dia akan mempersunting wanita yang mau belajar agama bersamanya. Menjadikan keluarganya menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah.


"Andai aku melihatnya lebih dulu sebelum kau datang menemui ku. Mungkin aku akan meninggalkan Khalisa dan akan memilih pilihan keluarga" David berbisik di dekat Aqmal.


Kalimat barusan cukup membuat Aqmal memelototi David. David terkekeh pelan. Dia berhasil membuat Kakak sepupunya kesal.


"Sabar, ini ujian" David mengelus bahu Aqmal. Jujur, Aqmal ingin melayangkan tinju padanya namun dia harus sabar menghadapi sikap jaim David. Aqmal yakin, David menguji kesabarannya.


"Berani kau memandang Ziah dengan syahwat, akan aku pastikan, Khalisa akan menghubungimu dan meminta berpisah denganmu!" Aqmal mengancam adik sepupunya.


Ancaman itu tak sedikitpun membuat seorang David gemetar ataupun merasa takut. Pria itu justru menarik senyum manisnya. Kulitnya yang putih mulus, belum lagi gaya rambutnya yang selalu mengikuti perkembangan zaman, ditambah dengan hidungnya yang mancung. Masya Allah, itulah alasan kenapa pria itu selalu menjadi pusat perhatian di Universitas.

__ADS_1


"Kakak ngak perlu bersusah paya menghubungi Khalisa, karena ngak lama lagi, Khalisa akan menghubungi Kakak. Kakak pasti tahu kan tujuan dia menghubungi Kakak"


David mundur, ia duduk di samping Ibunya. Dan benar saja, ponsel Aqmal berdering. Aqmal menatap layar ponselnya, ada nomor baru yang melakukan panggilan. Tanpa berbasa basi, Aqmal menjawab panggilan tersebut. Ia menempelkan benda pipi itu di telinganya.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam. Halo Kak, aku Khalisa"


"Iya. Bagaimana, Dek?"


"Apa David yang mengatakannya padamu?"


"Ya, David yang mengatakannya. Sekali lagi terima kasih ya, Kak. Aku izin undur diri dulu. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"

__ADS_1


Aqmal menerbitkan senyum. "Pengantin pengganti? Ada ada saja" gumamnya pelan.


Di kediaman Bunda Santi. Mereka pun sama, sama-sama membahas persiapan pernikahan nanti. Terkecuali Fauziah dan Neneknya yang anteng di kamar. Nenek Fauziah berbaring menatap langit-langit kamar. Ada rindu yang tak bisa dijelaskan. Rindu anaknya yang telah lama mendahuluinya. Siapa lagi kalau bukan Ayah kandung Fauziah.


"Zah" panggil Nenek.


Fauziah yang berbaring sambil memeluk Neneknya, menjawab seadanya. "Ya, Nek"


"Apa yang sedang kau pikirkan sekarang?" tanya Nenek. Fauziah mengubah posisinya. Ia terlentang seperti Neneknya.


"Sama seperti yang sedang Nenek pikirkan. Ne_nenek lagi mikirin Ayah kan?" Fauziah terisak. "A_a_akupun sama, aku rindu Ayah"


Tangis Fauziah pun pecah. Ia kembali memeluk Neneknya. "Nek, Apa Ibu ngak rindu padaku? Kenapa Ibu ngak hubungi kita" ucap Fauziah disela sela tangisnya.


"Nenek yakin, Ibumu pasti merindukanmu. Ibumu itu wanita yang hebat. Dia hebat karena mempertaruhkan nyawanya demi kamu. Tentang bagaimana dia mengabaikan mu, itu memang salah, tapi apa kau tahu, Ibumu pergi karena dia tahu, kau lebih aman bila berada bersama kami dibandingkan bersamanya"

__ADS_1


Tak ada tanggapan, yang ada hanya isak tangis. Fauziah tak tahu harus bagaimana lagi. Yang pasti, dia rindu–rindu sosok seseorang yang sudah 14 tahun pergi.


__ADS_2