Inginku Samawa Bersamamu

Inginku Samawa Bersamamu
Episode 37


__ADS_3

Tak perduli dengan orang-orang, Aqmal tertawa lepas. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aqmal kembali ceriah seperti saat memperistri Lisnawati Bakri.


"Zah, udah pernah pacaran?" tanya Aqmal.


"Nggak pernah" balas Fauziah.


Aqmal menarik senyum. Tidak sia-sia dia kembali melamar Fauziah. Lagian, Aqmal menikahi Fauziah bukan karena dia masih perawan melainkan dia mencintai wanita itu. Dia bersyukur, karena Fauziah mau menikah dengannya.


"Zah, ayo kita pacaran" kata Aqmal serius. Fauziah mengangguk tanda setuju. Memang itu yang dia mau, pacaran setelah menikah.


Fauziah dan Aqmal berdiri, menelusuri swering sambil berpegangan tangan. Tak perduli dengan sekelilingnya, Aqmal tak melepas tangan sang istri. Toh dia dan Fauziah pasangan halal, lagian mereka hanya berpegangan tangan, bukan melakukan hal yang aneh-aneh.


"Abang, aku malu .." ungkap Fauziah pelan.


Aqmal terkekeh. "Ngapain malu, orang pacaran itu seperti ini. Jalan berduaan sambil bergandengan tangan"

__ADS_1


Merasa bosan duduk di swering, Aqmal mengajak istrinya ke gardu pandang. Di sana, mereka akan menikmati pemandangan alam sambil mengambil beberapa gambar. Di gardu pandang, Fauziah dan Aqmal duduk menyaksikan senja yang hampir tenggelam.


"Zah, berjanjilah padaku, kau akan selalu ada di sisiku. Setia hingga menua bersamaku. Jika aku membuat kesalahan yang nggak aku sadari, mohon untuk menegur ku. Jangan kau mengabaikan ku dan membiarkan aku hidup dalam ketidaktahuan"


Fauziah menatap manik mata Aqmal, kalimat itu terdengar sunguh-sungguh diungkapkan. "Aku janji, aku akan setia menemani Abang dalam kondisi apapun"


Merasa tinggal beberapa puluh menit lagi waktunya shalat magrib, Aqmal mengajak istrinya ke rumah Oma Tantri dan Opa Dama. Dalam perjalanan, Fauziah memegang baju bagian belakang suaminya. Wanita itu tidak berani memeluk sang suami, dia malu dilihat orang. Aqmal pun tidak memprotes, dia memaklumi itu. Tak mengapa tidak bermesraan di atas motor, asal di kamar tetap bermesraan.


Tak membutuhkan waktu lama, mereka sampai di rumah Opa dan Oma. Rumah nampak sunyi, seperti rumah tak berpenghuni. Aqmal memencet bel rumah, namun tak ada yang membukakan pintu. Hampir dua menit menunggu, ART datang membuka pintu dan mempersilahkan Fauziah dan Aqmal masuk.


Usai shalat, keduanya melanjutkan agenda mereka. Apalagi kalau bukan menikmati wisata kuliner yang disediakan oleh beberapa penjaja makanan yang tidak jauh dari tepi pantai. Bercanda gurai, mengambil beberapa gambar, saling bertukar cerita, itulah kelanjutan dari agenda mereka malam ini.


Melihat ke langit, sepertinya hujan akan turun. Aqmal mengajak Fauziah pulang dan diiyakan oleh Fauziah. Hampir 25 menit berada di perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah.


"Abang ... aku cape .." Ungkap Fauziah, ia duduk di kursi teras rumah. Aneh tapi nyata, yang mengendarai motor siapa yang mengeluh cape siapa. Tapi itulah wanita, cukup di iyakan dan dibilang nanti Abang pijitin, hatinya akan jauh lebih baik.

__ADS_1


"Nanti Abang pijitin" balas Aqmal menghampiri.


Fauziah tersenyum. Ia beranjak dari kursi kemudian mengetuk pintu rumah, tak lama, Paman Zaki keluar membukakan pintu. Ya, mereka masih tinggal di rumah Nenek sampai 5 hari kedepan. Paman Zaki pamit ke kamar setelah membuka pintu untuk menantu dan keponakan mereka.


"Abang mau makan?" tanya Fauziah menawarkan.


"Nggak, Abang masih kenyang" balas Aqmal. Pria itu masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sementara Fauziah menuju dapur meletakkan gorengan di dalam kulkas.


Sambil bernyanyi, Fauziah masuk ke dalam kamar. Mendapati Aqmal yang tidur tanpa mengganti pakaiannya, dia hanya bisa menghela nafas pelan. Bergegas mengambil handuk, mengambil baju tidur, kemudian ke kamar mandi. Tak lama ia pun keluar dengan baju tidur.


Kembali bernyanyi, Fauziah mendudukan bokongnya di tepi ranjang. Mengamati pria yang tertidur pulas. Menarik senyum, saat mendapati suaminya tidur dengan mulut terbuka.


"Zah .. Ayo tidur" Aqmal membawa Fauziah dalam pelukannya. Wanita itu tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti ajakan suaminya.


Alih-alih ajak tidur, Aqmal kembali berulah. Fauziah hanya bisa pasrah, Aqmal memang duda mesum yang sok kalem.

__ADS_1


__ADS_2