
Pemandangan sawah kembali menyeret langkah kaki Fauziah untuk sering berkunjung di sana. Udara segar dan pemandangan yang indah, dua tanda kebesaran Allah yang membuat binar bahagia terukir indah di wajah cantik gadis itu
"Aku terlalu sibuk bekerja, hingga padi yang ku tanam tempo hari sudah saatnya di panen. Rasanya baru kemarin aku menanamnya bersama Bunda" gumam Fauziah. Gerakan matanya tak lepas dari pohon padi yang tumbuh subur.
"Kak Ziah!!!"
Fauziah menoleh mencari asal suara. Makhluk ciptaan Allah yang satu itu kembali menarik senyum. Di sana, yang jaraknya sekitar 50 meter, teman mainnya memanggil dirinya. Rasanya sudah sangat lama mereka tidak bermain bersama.
Ada beberapa pertanyaan yang terbesit di pikiran Ziah. Tatkalah melihat gadis kecil yang sedang berlari ke arahnya. Muli, gadis cantik itu nampak berpenampilan tak biasanya.
Dengan alis yang saling bertaut dan kening mengkerut, wajah Fauziah heran memperhatikan penampilan wanita yang baru saja menghampirinya. "Dari mana?" tanyanya.
Mengatur napas, Muli duduk di tanah yang kotor. "Dari Bandara" jawabnya singkat.
Fauziah ikut duduk, namun sedikit memberi jarak. "Ngapain ke sana?" tanyanya menyelidik.
Muli terseyum menanggapi. "Jemput keluarga. Kan Kak Aqmal mau nikah jadi mereka semua harus datang" jelasnya.
__ADS_1
Mata Fauziah membulat sempurna. Bahkan kedua bola matanya nyaris melompat ke luar. " Menikah?" tanya Fauziah memastikan.
Kedua kening Muli berkerut, ia menatap wajah calon Kakak iparnya dengan tatapan heran. "Emang Kakak nggak tahu?" Muli balik bertanya.
Fauziah menggeleng cepat. Tergambar kesedihan di wajahnya. Harapannya untuk menikah dengan Aqmal sepertinya kembali pupus. Pria itu akan menikah sementara Fauziah masih mencintainya dalam diam.
"Kak Ziah, kok bisa gitu" ucap Muli heran.
Genangan air di kedua mata Fauziah mulai tak kuasa dibendung. Gadis itu mulai menitikkan air mata. "Li ... hatiku sakit sekali ..." tangisnya pun pecah.
Muli semakin bingung. Namun dia berusaha untuk tetap waras walau dia sendiri hampir saja gila. "Loh, sakit hati kenapa?" tanyanya sambil mengelus pundak temannya.
"Zah, kok nangis" tegur David heran.
Fauziah melirik Muli untuk tidak memberitahu David. Muli menghela napas panjang. Haruskah dia berdiam diri dan membiarkan Fauziah salah paham. "Entahlah, Kak. Aku pun sama bingungnya dengan Kakak"
"Zah, pengantin kok nangis" ucap David mengambil tempat di samping Muli.
__ADS_1
Fauziah terdiam. Bola matanya mulai berputar. Sejurus kemudian dia menatap Muli dan David bergantian. "Jangan bilang___"
"Ya, kau yang akan menikah dengan si duda itu" sambung David menjelaskan.
"Apa?!!"
"Ziah bangun Ziah .." David panik. Dia tidak berani menggendong Fauziah yang pingsan di sawah.
"Kak Daviiid, bagaimana ini" Muli juga ikut panik. "Kakak ... cepat telepon Kak Aqmal!" titanya.
Beberapa puluh menit kemudian, Fauziah membuka matanya. Dia mendapati dirinya di ruang tv rumahnya. Di sekelilingnya ada Bunda Santi, Bunda Sakila, David, Muli, dan Aqmal.
"Bun, kok aku bisa di rumah? Bukannya tadi aku di sawah bersama Muli dan David"
"Tadi kamu pingsan" jawab Bunda Santi cemas.
Fauziah menarik dirinya bersandar di dinding. "Bun, kenapa nggak bilang kalau aku bakal menikah?"
__ADS_1
Bunda Santi menghela napas pelan. "Bunda hanya ingin memberimu kejutan. Kan Bunda sahabat Ziah, jadi Bunda tahu siapa yang Ziah suka"
Wajah merah merona terlihat di kedua pipi Fauziah. Dia malu, bukankah penjelasan Bundanya membuat mereka yang mendengar bisa mengambil kesimpulan.