
Setelah mendapat izin dari Bunda Santi, Fauziah melangkah perlahan memeluk Ibu kandungnya. Tangisnya pun semakin pecah.
"Aku benci Ibu!!" ucapnya sambil memukul pelan Ibunya. "Ibu ninggalin aku dan tak sekalipun menghubungi ku" lanjutnya terisak. "Apa Ibu nggak kangen aku"
Hiks ... Hiks ... Hiks ... Fauziah semakin terisak. Matanya semakin sebam. "Saat aku SD, Bunda berkata padaku, jikalau aku rajin belajar, Ibu akan datang. Nyatanya nggak, Ibu nggak datang ..."
Ibu Mufida tak kuasa menahan sakit yang tak berdarah. "Maafkan Ibu" ucapnya seraya mengelus kepala putrinya yang terbalut jilbab.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Matahari mulai tenggelam, senja pun perlahan menghilang. Berganti lampu jalan yang terlihat menerangi semesta. Hilir angin mulai terasa, Ziah dan Ibunya duduk bersampingan di teras rumah. Keduanya bertukar cerita hingga tak mengenal rasa bosan. Topik yang dibincangkan selalu saja ada.
"Ibu, apa suami Ibu tahu Ibu ke sini?" tanya Ziah sekilas melirik Ibunya perlahan kembali menatap ke depan.
Ibu Mufida tersenyum. "Nggak, dia ngggak tahu"
Fauziah terdiam. Ia menunduk menatap lantai. "Maafkan aku" lirihnya pelan.
"Bu, apa suami Ibu menyayangi Ibu sama seperti Ayah?" tanya Fauziah lagi. "Kalau Ibu nggak mau jawab juga nggak Papa" lanjutnya.
"Papa sangat baik. Bahkan Ibu nggak dibolehin cari kerja. Di rumah, Ibu hanya ngurus adik-adik kamu serta menyiapkan keperluan Papa saat berangkat kerja" jelas Ibu Mufida.
Akhirnya Fauziah bisa bernapas legah. "Alhamdulilah" Hening, Fauziah memejamkan mata sejenak. "Bu, maafkan aku ya. Karena kehadiranku di dunia ini, Ibu harus berbohong pada suami Ibu. Aku yakin, Ibu pasti menderita kan menyimpan rahasia sebesar ini darinya"
__ADS_1
Berulang kali Mufida mengedipkan matanya. Berusaha untuk tidak menitikkan air mata. "Bukan kamu yang bersalah. Juga bukan Papa tirimu yang salah. Dalam kebohongan ini, Ibu lah yang bersalah"
"Za" panggil sang Ibu pelan.
"Hmm" masih bersandar di bahu Ibunya, Fauziah menggenggam kuat lengan sang Ibu.
"Jika Ibu pergi nanti, kamu baik-baik ya di sini. Jagain Bunda, Nenek, serta Paman dan Bibi. Dan jika nanti kamu sudah sah menjadi istri dari Aqmal Malik, kau harus patut padanya"
Fauziah membenarkan duduknya. Kali ini dia menghadap sang Ibu. "Bu, apa yang harus aku lakukan agar rumah tanggaku menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahma?" tanyanya serius.
Mufida menarik senyum. "Sulit, tapi Ibu yakin kamu pasti bisa. Buang egomu saat ada masalah. Artinya, kamu harus meminta maaf sekalipun kamu tidak bersalah. Layani suamimu saat dia meminta haknya. Bahkan kau bisa meminta duluan, tapi .. kau harus lihat mood suami kamu bagus apa nggak"
"Yang ke dua, selain melayani suamimu, kamu juga harus menjadi istri sekaligus teman atau sahabat baginya. Itu berarti, kamu harus membuat suamimu nyaman dan percaya padamu"
"Selain itu, suamimu juga punya orang tua dan adik. Dia pria, dia harus berbakti pada Ibunya. Mau itu berupa uang atau benda lainnya. Kamu, sebagai istri, kamu harus mengingatkan apabila Allah memberi kalian rezeki lebih lalu suamimu lupa akan kewajibannya sebagai anak. Orang tua kadang nggak butuh uang, menjenguknya pun itu sudah Alhamdulilah"
__ADS_1
"Pandai pandailah mengatur keuangan, terkadang hancurnya rumah tangga karena salah satu dari pasangan ada yang boros"