
Sebelum bersiap-siap, Fauziah meraih gawai nya untuk menghubungi Aqmal. Panggilan pertama belum dijawab oleh Duker itu, untuk yang kedua kalinya Aqmal menjawab panggilan dari gadis kecilnya.
"Assalamualaikum, Ziah" dengan suara seraknya Aqmal mengucap salam. Pria itu masih terbaring di atas tempat tidur.
"Waalaikumsalam. Kakak, 15 menit lagi kita ke Kota ya"
"Hmmm. Tunggu aku di bawa"
Fauziah sudah rapih. Kali ini dia tampil beda. Jika biasanya dia mengenakan baju tunik dan celana panjang hingga di atas mata kaki, maka kali ini dia mengenakan gamis serta jilbab motif. Masya Allah, syahdu dipandang.
"Ziah" panggil Aqmal yang begitu penasaran. Pasalnya gadis itu duduk di atas motor membelakangi Aqmal.
Fauziah menoleh, dan tak lupa mengukir senyum. Bibir mungil yang di tap tap dengan lip cream warna rose pink membuat bibirnya terlihat fresh dan tentunya menambah daya tariknya.
"Ya, Kakak. Ayo kita berangkat"
"Masya Allah cantiknya" batin Aqmal. "Kamu bisa bawa mobil?" tanyanya menghampiri.
"Iya bisa, Kak" jawab Fauziah.
"Ya sudah, kamu pakai mobilku, aku pakai motormu" kata Aqmal menyerahkan kunci mobilnya.
"Loh, kok gitu sih. Ada apa memangnya?" tanya Fauziah tak paham.
"Sudah, jangan banyak tanya" kata Aqmal. Ia meminta Fauziah turun, lalu dia sendiri naik di atas motor bersiap ke Kota.
__ADS_1
Sesuai pengakuan Fauziah, gadis itu memang pandai membawa mobil. Mobil pertama yang dia kendarai adalah mobil milik Tante Sakila. Tapi itu dulu, saat Fauziah masih kelas 1 SMK dan Aqmal masih tinggal di Surabaya bersama mantan istrinya.
"Ya Allah, kabulkan doaku" batin Fauziah. Fauziah mulai mengendarai mobil yang dipercayakan Aqmal padanya. Tak ada rasa takut sedikitpun, yang ada hanya tanda tanya besar kenapa Aqmal memintanya mengendarai mobilnya. Dan lagi, Aqmal selalu berada di belakang mobil. Pria itu tak ingin mendahului sekalipun Fauziah memberinya jalan untuk Aqmal menerobos ke depan.
Setibanya di Kota, Aqmal mengurangi kecepatan dan berhenti di samping jalan raya. Ia mulai mengetik sesuatu lalu mengirimnya pada Fauziah. Tanpa menunggu balasan dari Fauziah, Aqmal melanjutkan perjalanannya namun dengan arah yang berbeda.
Aqmal kembali mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Lisna tetapi nomor wanita itu diluar jangkauan. Aqmal mencoba menghubunginya lagi, lagi dan lagi, tetapi nomor wanita itu masih tidak aktif. Awalnya dia mengira jaringan bermasalah, lalu dia mencoba menghubungi adiknya, Muli. Panggilan terhubung.
"Kemana lagi wanita itu? Kenapa nomornya ngak aktif" gumam Aqmal. Ia terus mengendarai motornya hingga di perempatan, pria itu mengambil arah kanan menuju rumah Oma Tantri. Alasannya pergi lebih awal karena dia ingin bertemu Lis, menanyakan siapa Ayah dari bayi yang dia rawat. Bukankah Lis belum menikah setelah bercerai dengannya. Dan alasan Lis yang sebenarnya apa, kenapa dia menggugat cerai Aqmal. Sementara Aqmal bukanlah pria pengangguran atau pria yang berasal dari keluarga yang kurang mampu.
Aqmal tiba di rumah Oma Tantri. Bertepatan dengan Oma yang mau ke ATM menarik sedikit uang untuk diberikan kepada ART yang putrinya sedang sakit dan butuh biaya pengobatan.
"Aqmal, bisa Oma minta tolong?" tanya Oma Tantri.
"Bisa, Oma. Oma mau minta tolong apa?" Aqmal balik bertanya. Dia masih duduk di atas motor.
"Ya sudah, nanti aku pergi tarik" kata Aqmal.
Oma Tantri memberikan ATM serta memberitahu kode pin nya. Kemudian masuk ke dalam rumah menunggu Aqmal kembali. Di tempat lain, Fauziah dan Savana sedang melayani pembeli. Kali ini Fauziah dihadapkan dengan pembeli yang banyak tanya namun tak memberi kepastian.
"Ini mau beli obat atau mau beli pakaian sih" batin Fauziah. Bagaimana tidak. Wanita cantik yang mukanya tak asing lagi–datang dengan tujuan mau membeli sirup untuk bayi. Fauziah memperkenalkan beberapa jenis sirup dengan rasa yang berbeda namun memiliki khasiat yang sama, tapi wanita yang tak lain adalah Lis, wanita itu berkata.
"Sepertinya sirup yang aku cari tidak ada di sini"
Fauziah hanya bisa tersenyum dan menanggapinya dengan ramah dan sopan. "Coba Mba ke Kimia Farma. Mungkin di sana ada. Oh ya, disekitar sini ada Kimia Farma" jelas Fauziah.
__ADS_1
"Di bagian mana?" tanya Lis. Dia juga orang baru di Kota yang sekarang dia jadikan tempat berlindung.
"Nanti Mba lurus terus, ada pertigaan, Mba ikut kiri" jelas Fauziah.
Wanita yang tak lain adalah Lisnawati, janda anak satu itu berlalu setelah membuat Fauziah geram namun sebagai penjual dia harus sabar.
"Ukhti harus sabar ya" ucap Mba Diana tersenyum. "Tapi ukhti, bukankah itu mantan istri Dokter Aqmal. Kok bisa ada di sini. Apa mereka rujuk lagi?"
"Iya, Mba. Untuk rujuk lagi aku ngak tahu" jelas Fauziah tersenyum.
"Kau cukup mempercayai pria yang datang melamar mu langsung di hadapan orang tuamu" ucap Savana menepuk pundak Fauziah.
"Ziah, apa rencana mu di masa mendatang?" tanya Farul yang sejak tadi memasang telinga untuk mendengar.
"Hanya satu, membahagiakan wanita yang membesarkan ku" jawab Fauziah. "Sekarang Bunda belum bahagia karena aku masih Sekolah" sambungnya.
"Semangat anak muda!!" Farul dan Savana serta Mba Diana menyemangati Fauziah. Mereka tahu, Fauziah adalah gadis periang yang dibesarkan oleh Tantenya yang dia panggil Bunda.
Fauziah, Savana dan Farul. Tiga anak muda yang menghabiskan waktunya dengan bekerja untuk menghasilkan pundi-pundi uang guna membahagiakan keluarga. Farul, anak yatim piatu yang mempunyai dua orang adik yang baru SD kelas 3 dan SD kelas 5. Sementara Savana tinggal dengan Neneknya yang sudah rentan sakit-sakitan. Dan Fauziah, dia tak punya Ayah lagi. Ayah kandungnya sudah meninggal sementara Ibunya menikah lagi setelah setahun berpisah dengan Ayah Fauziah. Fauziah yang kala itu baru berusia 3 tahun, dia diasuh oleh Bunda Santi karena Ibu Fauziah mengaku kalau dia tidak punya anak. Dia takut, suami barunya akan menolak kehadiran Fauziah. Fauziah sendiri tak ingin mengganggu rumah tangga Ibunya, hingga tak sekalipun berkunjung di rumah Ibunya. Terlebih lagi Ibunya tinggal di Jakarta bersama keluarga barunya. Rindu? Sudah jelas Fauziah merindukan sosok wanita yang rela mempertaruhkan nyawanya.
"Assalamualaikum" Aqmal mengucap salam sebelum masuk ke dalam Apotek.
"Waalaikumsalam"
Fauziah bersikap biasa saja. Dia tak mau Aqmal tahu kalau dia bahagia melihat Aqmal. Karena mencintai dalam diam adalah cara terbaik yang bisa dia lakukan. Bahkan dalam doanya, Fauzia tak menyebut nama Aqmal. Bukan berarti dia tak menginginkan Aqmal, tetapi dia tahu, rencananya belum tentu sama dengan rencana Allah.
__ADS_1
Jangan lupa like dan tap love ya. Katakan padaku bila ada kalimat yang sulit dipahami 😆😆