Inginku Samawa Bersamamu

Inginku Samawa Bersamamu
Episode 14


__ADS_3

Pagi hari, Fauziah bersiap-siap ke Puskesmas. Ia turun ke lantai satu, di sana sudah ada Bibi dan Bundanya. Sementara Pamannya ke kebun memotong pisang yang sudah tua.


"Bibi, Aska mana?" tanya Fauziah mencari-cari adik sepupunya yang semalam tidur lebih awal.


"Ada di kamar, lagi tidur" jawab sang Bibi.


Fauziah menghembuskan napasnya. "Ya sudah, ini untuk Aska. Semalam mau aku kasih tapi Aska nya udah tidur"


Drtt ... Drtt ... Drtt ... Dering telepon terdengar dari dalam tas Fauziah. Gadis cantik itu merogoh tasnya lalu mengambil ponselnya. Seketika dia menerbitkan senyum bahagia. Aqmal, ya Aqmal. Duda keren itu menghubunginya.


"Assalamualaikum, Mas"


Tak ada sahutan atau balasan salam dari lawan bicaranya. Aqmal, pria itu terdiam. Mas, panggilan baru yang disematkan Fauziah padanya.


Di depan rumah, Aqmal tersenyum bahagia. Dia seperti pria ABG yang kembali merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Mas?" batin Aqmal.

__ADS_1


"Tunggu sebentar ..." Fauziah tiba-tiba keluar dari rumah. Mengambil sepatunya di rak sepatu dan memakainya. Setelah selesai, ia menghampiri Aqmal di mobil. "Mas, ayo"


"Hah?"


Satu helaan napas kasar terdengar. Fauziah kesal melihat sikap Aqmal yang tidak seperti biasanya. "Ya sudah, aku panggil Kakak saja. Lagian usia kita terpaut jauh"


"Loh, kok gitu" Aqmal memprotes.


Fauziah mengabaikan respon balik dari calon suaminya. Jujur, dia ingin marah karena Aqmal belum menyalakan mesin mobil. Sementara jarak dari rumah ke Puskesmas lumayan jauh.


"Kakak, apa kita akan terus di sini?" tanya Fauziah mencoba menguasai dirinya. Dia tidak boleh marah, kenapa? Karena itu mobil bukan miliknya. Dia hanya numpang saja.


Fauziah diam. Dia duduk dengan santai namun berulang kali dia mengucap istighfar dalam hati. Sepertinya dia tidak perlu memanggilnya, Mas. Cukup Kakak saja.


Dalam perjalanan, ponsel Aqmal berdering. Aqmal melihat layar ponselnya, nama Lis ada di sana. Aqmal ragu untuk menjawabnya.


"Kenapa ngak diangkat?" tanya Fauziah.

__ADS_1


"Apa boleh?" Aqmal balik bertanya.


"Silahkan" Fauziah mempersilahkan. Aqmal pun menjawab panggilan telepon dari mantan istrinya. Tangis seseorang diseberang telepon membuat Aqmal mengerem mobil mendadak. Membuat Fauziah kaget bukan main. Ini bukan yang pertama kalinya akan melakukan hal yang seperti ini. Pria itu betul-betul menjemput maut.


"Kamu tunggu disitu, aku ke sanah sekarang .." kata Aqmal yang nampak cemas. Pria itu memutuskan panggilan–menoleh kaca spion kemudian menepikan mobil di pinggir jalan.


"Zah, maaf. Aku harus ke kontrakannya Lis. Fitra nangis terus, aku harus ke sana" ucap Aqmal kemudian turun dari mobil.


"Kakak, biar aku saja yang naik ojek" ucap Fauziah yang juga turun dari mobil.


"Kamu yakin?" tanya Aqmal serius.


Fauziah mengangguk. Aqmal pun masuk ke dalam mobil, mengendarainya dengan kecepatan tinggi. Usai kepergian Aqmal, Fauziah menghentikan kendaraan roda dua.


"Pa, Puskesmas Labuha, ya" jelasnya pada tukang ojek. Dalam perjalanan, Fauziah terus diam. Pikirannya berkelana di beberapa menit yang lalu. Dimana Aqmal begitu cemasnya mendengar tangis mungil baby Fitra.


"Ya Allah, apa ini termasuk ujian darimu?" batin Fauziah.

__ADS_1


Kendaraan roda dua menepi di depan Puskesmas Labuha. Fauziah turun dan tak lupa membayar tagihan ojek. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ada Savana yang juga baru tiba. Selang beberapa menit, kendaraan roda empat berhenti di tempat parkir. Fauziah dan Savana menoleh, ada Dokter Aqmal di sana bersama seorang wanita dan anak bayi.


"Itu pasti anaknya Kak Aqmal" gumam Fauziah.


__ADS_2