
Berulang kali Fauziah menelan saliva nya. Kalimat itu yang dia ingin dengar sejak dulu. Dan saat ini, dia mendengarnya secara langsung. Oh Tuhan, bagaimana ini. Bagaimana dengan David yang sudah dalam perjalanan.
"Tapi, Kak. Aku––––"
"Kau cukup memberiku jawaban ya atau tidak. Aku ngak butuh kata tapi" kata Aqmal memotong kalimat Fauziah.
Fauziah masih ragu. "Apa Kakak yakin dengan ucapan Kakak yang tadi?"
Aqmal menatap manik mata Fauziah. Wajah gadis kecilnya terlihat seperti wanita yang usianya dua puluh tahun. Fauziah yang muka tua, atau Aqmal yang awet mudah? Entahlah. "Aku serius, Zah. Bukti apa yang kau inginkan agar kau yakin dengan ucapan ku?"
"Lalu bagaimana dengan Kak David dan keluarganya? Mereka sudah dalam perjalanan ke Ternate" ucap Fauziah.
"Untuk itu biar aku yang mengurusnya. Kau jawab dulu, Zah. Kau mau apa nggak?" Kali ini Aqmal benar-benar butuh jawaban yang pasti.
Fauziah menarik senyum. "Iya, Aku mau. Tapi_____"
"Zah, tapi apa lagi. Kau jangan takut, aku yang akan mengurusnya. Setelah menikah, kau masih bisa Sekolah, bahkan kau masih bisa mengejar impianmu" ucap Aqmal meyakinkan.
"Ya sudah, ayo kita pulang"
Fauziah menyerah. Masih ada yang mau dia tanyakan tapi ya sudah lah. Masih ada waktu di sore hari atau di malam hari nanti.
Aqmal kembali mengendarai mobilnya. Dalam perjalanan, Fauziah hanya diam saja. Sementara Aqmal melakukan panggilan dengan seseorang.
"Bun, dimana?"
"Di rumah. Kenapa?"
"Ya sudah, sampai rumah baru ku beritahu"
__ADS_1
"Iya, Sayang"
Sekitar setengah jam, akhirnya mereka tiba di rumah. "Hari ini kau tak perlu masuk kerja. Cukup persiapkan dirimu untuk nanti malam" kata Aqmal.
"Hah?" Fauziah tercengang. Nanti malam? Mau ngapain. Pikir Ziah.
Aqmal masuk ke rumahnya, begitu juga dengan Fauziah. Gadis itu memikirkan cara bagaimana menjelaskan pada Bundanya. Dia bingung bukan kepalang. Ini bukan tentang ujian melainkan tentang pernikahan dini.
"Bagaimana ini" gumam Fauziah sebelum dia membuka pintu rumah. "Assalamualaikum"
Bunda Santi yang sementara berada di kamar, menghampiri Putrinya yang baru pulang.
"Waalaikumsalam. Ziah, mana tupperware Bunda?" Dua pasang matanya menilisik mencari cari keberadaan Tupperware kesayangannya.
"Habislah aku ..." batin Fauziah. Lamaran mendadak membuat Fauziah lupa untuk singga di rumah Kak Nina.
"Aku lupa mengambilnya, Bun. Hehehehe. Maaf ya," Fauziah hanya bisa tersenyum, memperlihatkan sederetan giginya. Hanya itu cara dia memadamkan amarah Bundanya yang saat ini mulai tak stabil. Jika perasaan Bundanya sudah tidak stabil, bagaimana Fauziah memberitahu Bundanya tentang lamaran Aqmal tadi. Astaga, benar-benar ini Bunda.
Derrr, kalimat terakhirnya mengundang gelak tawa Fauziah. Bisa-bisanya sang Bunda mengungkit tentang gaji. "Jadi ceritanya aku bisa tidur sampai malam, Bun"
Mata Fauziah berbinar. Ia tersenyum sumringah. Kapan lagi ada kesempatan itu, tidur siang sampai malam. Iya, kan?
"Enak saja, kau harus ingat! Nanti sore ke rumah Nina. Ambil Tupperware Bunda. Kalau mereka ngak ngasi dan cuma ngasi alasan, bilang saja. Kata Bunda nanti kalian yang lanjut bayar cicilannya" Bunda Santi ngedumel seenaknya. Tupperware yang cicilannya belum lunas di bawa jalan-jalan oleh orang. Bukan main sadisnya.
"Iya, Bunda" Fauziah menyerah. Dia pamit ke kamarnya dilantai dua. Dia lupa memberitahu Bundanya tentang ajakan Aqmal pas pulang dari magang tadi.
Totebag berukuran sedang sengaja di buang diatas tempat tidur. Diikuti dirinya yang terjun bebas di sampingnya. Kesempatan yang langkah. Suatu kebahagiaan tersendiri bisa libur kerja tanpa pemotongan gaji. Mata indah itu mulai tak bisa diajak bekerja sama, perlahan mulai tertutup rapat. Mimpi buruk disiang bolong pun terjadi.
Waktu menunjukan pukul 5 sore dan Fauziah masih dengan aktivitas ternyamannya. Bekas noda darah menandakan adanya tamu yang tak diundang. Sepertinya tamu tak diundang sedang berpihak padanya, membuat gadis kesayangan Duda keren enggan untuk bangun. Karena sama saja, sekalipun dia bangun, dia belum bisa menjalankan kewajibannya.
__ADS_1
"Ziah ...!!!" Lagi dan lagi, Bunda Santi berteriak di lantai satu. Bukannya tadi dia sudah mengingatkan putrinya untuk ke rumah Nina. Belum lagi nanti malam mereka akan kedatangan tamu dan anak gadisnya masih bermimpi disore hari.
"Bangun ngak, mau Bunda yang ke rumah Nina?" Bunda Santi mengacam putrinya.
"Isss, Bunda apaan sih. Lagian hanya tupperware kok. Nanti aku beliin yang baru" ketus Fauziah. Dia kembali memejamkan matanya.
"Kamu mau bangun atau Bunda tolak lamaran Aqmal?" Ancaman yang ampuh. Fauziah yang mendengar itu sontak bangun dan memeluk Bundanya.
"Jangan ditolak ... Ya Bunda ya ... Aku mohon ..." Fauziah menggoyang goyangkan tubuh Bundanya.
Bunda Santi menarik senyum. Dia tahu niat baik kelurga Malik mau datang ke rumahnya. Sekalipun begitu, Bunda Santi tidak mau mengambil keputusan sendiri. Dia harus bertanya pada Nenek Fauziah dan Paman–keluarga mereka satu-satunya yang tinggal bersama anak dan menantunya.
Bunda Santi mengelus kepala putrinya. "Ayo turun. Ada Nene, Bibi dan Paman di bawah"
Fauziah mengangguk. "Ayo Bunda. Udah lama kita ngak kumpul bareng Nene, Paman dan Bibi Hanum"
Bunda Santi beranjak dari samping tempat tidur. Begitu juga dengan Fauziah. Namun Fauziah tak langsung ke bawah, dia mandi dan mengganti pakaiannya lebih dulu. Setelah itu dia menemui keluarganya. Tawa renyah terdengar, sepertinya mereka bahagia atas kabar baik itu.
"Ziah, sini, duduk dekat Nenek" Wanita tua itu tersenyum. Ada rindu yang harus dibayar dengan pelukan hangat.
"Nenek, obatnya Nenek masih ada? Kalau da habis, Nenek minta Bibi telepon aku atau Bunda, nanti aku belikan" ucap Fauziah.
Sang Nenek terseyum. "Masih ada. Ziah ngak perlu beli obat untuk Nenek lagi. Ziah harus tabung uangnya untuk masa depan Ziah nantinya"
Fauziah menggeleng. "Ngak mau, kesehatan Nenek jauh lebih penting daripada masa depan aku"
...----...
Waktu yang dinanti pun tiba, keluarga besar Fauziah sudah berkumpul, tinggal menunggu keluarga Malik datang. Selang beberapa puluh menit, terdengar seseorang mengucap salam dari luar. Keluarga besar Fauziah menjawab salam tersebut dan tak lupa mempersilahkan keluarga besar Malik untuk masuk dan duduk di tempat yang sudah disediakan.
__ADS_1
Tak dapat dipungkiri, kedua keluarga itu amat bahagia. Terlebih lagi Aqmal. Usahanya tak sia-sia dalam membujuk sepupunya, David. Pasalnya Aqmal tahu, David mempunya kekasih idamannya. Mereka tak bisa menjamin kisah David dan Fauziah nantinya akan seperti di novel-novel yang jatuh cinta setelah perjodohan. Atau jatuh cinta pada suami pilihan Ayah, Kakek, atau Nenek. Maka dari itu, David menyetujui permintaan Aqmal. Namun dengan satu syarat. Gila, benar-benar gila. Untuk menjawab iya atau tidak, Aqmal harus menyetujui syarat dari David.