Inginku Samawa Bersamamu

Inginku Samawa Bersamamu
Episode 23


__ADS_3

Hujan petir nampak begitu menakutkan. Bahkan sebagian pohon di pinggir jalan ikut tumbang akibat angin yang begitu kencang. Dalam perjalanan pulang, tanpa sengaja Aqmal melihat sosok yang dikenalnya–sedang berusaha menyalakan mesin motornya yang tiba-tiba mogok di jalan.


Aqmal bergegas mengambil jaket hoodie anti air di kursi belakang, lalu menghampiri wanita yang di cintai nya. "Ziah, motor mu kenapa?" tanyanya.


Dia adalah Ziah, yang motornya tiba-tiba mati di jalan menujuh rumah. Fauziah mendongak–menyeka air hujan yang membasahi wajahnya. "Ngak tahu, Kak. Tiba-tiba saja mati"


Wanita itu mulai menggigil. Gigi bagian bawah dan atas saling berpacu. Gamis maron yang dia kenakan pun mulai menampakan lekuk tubuhnya.


"Pakai ini" Aqmal menyerahkan jaket hoodie miliknya. Tak mengapa dia sakit, asal jangan wanita di hadapannya. Fauziah menerimanya, dia memang butuh baju yang seperti itu.


"Tunggu aku di mobil" titah Aqmal. Pria itu mulai mengambil alih motor Fauziah. Mendorongnya sedikit ke depan, dimana ada pangkalan ojek. Berulang kali dia menstarter motor matic itu tapi tak kunjung berhasil. Aqmal kembali menemui Fauziah di mobil.


"Kamu duluan saja ..." titah Aqmal membungkuk menatap Fauziah dari jendela mobil.


"Tapi, Kak .." Fauziah sedikit memperbesar suaranya karena hujan semakin deras.


"Nggak Papa," kata Aqmal meyakinkan.


"Kakak.. Ayo kita pulang... Biarkan saja motorku di sana. Nanti besok pagi baru aku bawa ke bengkel!!" ucap Fauziah. Hujan deras tak memungkinkan baginya menurunkan nada suaranya.


"Apa nggak Papa?!!" tanya Aqmal yang suaranya tak kalah besar. Fauziah membalas dengan anggukan kepala. Sesuai perkataan Fauziah, Aqmal menguci setir motor kemudian masuk ke dalam mobil.


Tak ada yang bersuara dalam perjalanan pulang. Keduanya diam membisu dengan pikiran masing-masing–hingga mobil yang dikendarai memasuki kompleks Mangga. Di depan rumah Fauziah, tampak Bunda Santi menunggu anak gadisnya pulang. Cemas? Tentu saja wanita itu cemas. Putrinya yang sedang mengais rezeki belum juga tiba di rumah. Ditambah nomor ponsel anak itu tidak aktif. Ibu mana yang tidak cemas.


"Kakak, makasih untuk tumpangannya" ucap Fauziah.


Gamis cantik yang dia kenakan basah. Namun lipstiknya tak pudar sekalipun air hujan sempat membasahinya. Tubuh mungilnya mulai merasakan perubahan yang dasyat. Dingin hingga membuatnya menggigil. Gadis itu mengambil tasnya lalu turun menghampiri sang Bunda.


"Assalamualaikum, Bunda ..."


"Waalaikumsalam. Ayo masuk. Bunda udah nyiapin teh hangat" ujar Bunda Santi menuntun putrinya ke dalam rumah.

__ADS_1


Aqmal masuk ke dalam rumah membiarkan mobilnya di luar. Sama seperti Bunda Santi, Bunda Sakila pun membuatkan teh hangat untuk putranya.


"Mal .. langsung mandi ya, Nak. Nanti Bunda bawain teh hangat di kamar" ujar Bunda Sakila.


"Ngak perlu, Bun. Aku bukan anak kecil lagi" kata Aqmal yang tak ingin merepotkan cinta pertamanya.


Beberapa puluh menit berlalu, Aqmal selesai dengan segala embel-embelnya. Tangannya menarik kursi yang ada di kamar–dan mulai duduk dengan tangan yang bertumpuk di atas meja. Pikirannya kacau balau.


...---...


Pagi hari, suara nyaring dari lantai satu tak membuat Kanisya Fauziah membuka mata. Gadis cantik itu sedang tidak baik-baik saja di kamarnya. Sejak semalam pukul satu pagi, dia merasa dingin hingga kembali menggigil. Selimut tebal yang membalut tubuhnya terasa kurang tebal.


Cek--lek ... Pintu terbuka lebar. Bunda Santi mengerutkan keningnya saat mendapati putrinya masih terbalut selimut.


"Bunda, dingin" keluh Fauziah.


Bunda Santi menghampiri, mengambil tempat di sisi tempat tidur. "Kenapa kamu nggak bangunin bunda"


Bunda Santi memasang apron, mengambil panci, beras serta air. Wanita itu memang lihai dalam memasak. Disela sela kegiatannya, samar-samar terdengar seseorang mengucap salam. Bunda Santi menghampiri dan mendapati Bunda Sakila di depan pintu.


"Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Tidak ada gunanya menyimpan kebencian" batin Bunda Santi.


"Waalaikumsalam. Mari masuk, Ki" Bunda Santi mempersilahkan Bunda Sakila masuk.


"Nggak perlu San. Aku kesini ngasih ini untuk Fauziah" Bunda Sakila menyerahkan amplop berisi uang.


"Ini apa, Ki?" tanya Bunda Santi.


"Tadi Dina menghubungiku. Katanya Ziah ngak masuk kerja karena sakit. Sementara hari ini dia gajian" jelas Bunda Sakila.


"Ya sudah, nanti aku berikan padanya. Makasi ya, Ki" ucap Bunda Santi tersenyum.

__ADS_1


...---...


Ditempat lain, tepatnya di Kontarakan–Lisna memandangi putranya yang anteng di box bayi. Wanita itu menangis sesegukan. Uang yang ada ditabungannya tersisa 300 ribu. Sementara Lis tidak bisa memberi ASI eksklusif pada putranya. Belum lagi Ibu mertuanya tidak mau menerima Fitra, cucunya. Lengkap sudah beban pikiran wanita itu.


"Mas, siapa yang harus aku salahkan. Diriku? Kamu? atau Aqmal?" gumam Lis. Ia meremas rambutnya. Kepalanya seakan mau pecah. Rumah yang dulunya dia dan kedua orang tuanya tempati untuk berteduh, kini disita oleh pihak Bank.


Tidak mudah berada di posisi Lis. Mencintai seorang Aqmal namun harus berpisah karena merasa tak pantas lagi menjadi istri dari Aqmal Malik. Lalu di saat dia mulai bisa menerima pria yang membuat keluarga pertamanya hancur, pria itu justru pergi untuk selama lamanya.


"Akkhhh ...!!" Lis menjerit. Ia kembali menangis.


"Ya Allah, jika kematian adalah terbaik bagiku, maka matikanlah aku. Dan jika hidup adalah yang terbaik untukku, maka hidupkanlah aku dengan kebahagiaan"


"Ma ma ma ma ..."


Lis menyeka air matanya. Menghampiri putranya yang mulai berceloteh.


"Fitra manggil Mama ya, Nak. Fitra mau minum?" Lis mengajak putranya berbicara.


"Ma ma ma ma ..." Fitra kembali mengucap kata itu. Lis memeluk putranya dan menangis.


"Maafkan Mama. Terkadang Mama mengabaikanmu. Yang harus Fitra ingat, Mama sayang Fitra. Fitra adalah harta Mama di dunia ini. Fitra jadi anak yang sholeh ya, Nak" ucap Lis menatap lekat wajah putranya.


"Hmmm" balas Baby Fitra layaknya anak yang paham. Entah itu hanya kebetulan atau memang anak itu tahu Mama nya sedang tidak baik-baik saja.


"Aku harus cari pekerjaan. Fitra hanya punya aku, dan aku hanya punya Fitra. Cukup aku yang hidup dalam kesengsaraan, jangan lagi anakku" batin Lis.


Bersambung ...


Tabe, mohon tegurannya jika ada kata atau kalimat yang ambigu. Saya menulis bukan berarti saya sudah pandai, tapi saya disini belajar. Mohon krisannya agar novel ini layak dibaca 😊


Jangan lupa like, tap love dan share 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2