
Sepeninggal keluarga Malik, Fauziah memeluk Neneknya. Tangisnya pecah dalam pelukan hangat sang Nenek. Kecewa bercampur sakit membuatnya tak dapat berkata-kata, hanya tangis yang dapat menjabarkan betapa terlukanya hati wanita itu.
"Jangan menangis lagi. Kami tidak menyalahkanmu"
Kalimat itu, cukup ampuh mengurangi tangis pecah Fauziah. Dia melerai pelukannya, beralih memeluk Pamannya. "Maafkan aku, Paman. Aku mempermalukan keluarga kita"
Paman Fauziah mengelus kepala keponakannya. "Ngak ada yang perlu dimaafkan. Ini teguran untuk keluarga kita, biar kedepannya lebih tegas dalam memilih calon suami"
"Kamu ngak salah, yang salah itu Bunda. Bunda yang selalu memintamu untuk menikah muda" timpal Bunda Santi. Pertahannya runtuh, dia menangis memeluk putri dan Adiknya.
Senja mulai tenggelam, namun kesedihan masih pada tempatnya. Malam yang begitu dingin, tak membuat Fauziah masuk ke dalam kamar. Dia serius mengerjakan laporan di balkon kamarnya.
Di rumah keluarga Malik, tepatnya di lantai dua. Di dalam kamarnya, Aqmal berdiri di balik jendela. Sorot matanya tak luput dari dari apa yang dilihatnya saat ini. Pria itu mengawasi wanita pujaan hatinya. Dia mencintai Fauziah tapi anaknya butuh dirinya.
"Maafkan aku, Ziah. Sampai kapanpun, kau akan menjadi satu-satunya wanita yang aku cintai" batin Aqmal.
Perlahan namun pasti, seperti itulah cara Fauziah mengerjakan laporannya. Kini, gadis itu hanya memikirkan sekolahnya. Urusan jodoh, biarlah datang dengan sendirinya. Berulang kali gadis itu menguap, namun dia enggan mengakhiri aktivitasnya.
__ADS_1
"Kenapa dia belum tidur juga? Bukankah besok dia harus magang" gumam Aqmal. Ingin rasanya dia mengirim pesan pada gadis kecilnya. Tapi apa dia berhak dan pantas melakukan itu?
Niatnya terpaksa ia urungkan. Dia bukan siapa-siapa lagi. Dia hanyalah pria yang menginjak harga diri seorang wanita. Pria pecundang yang berani melamar namun dengan jahatnya memilih pilihan lain. Boleh dikata, cucu keluarga Malik tetap bisa bertemu keluarga sang Ayah jika dia ingin. Tapi apa yang dia lakukan, dia tidak berpikir sampai disitu. Dia lemah, dia pecundang.
Arah jarum jam mulai berpindah dari angka sebelas ke angka satu. Waktu sudah larut. Namun Fauziah masih di posisi yang sama. Udara dingin tak membuat semangatnya memudar, justru sebaliknya. Dia semakin bersemangat saat tesis yang dia butuhkan dengan mudahnya di dapat.
Suara dari arah dapur membangunkan Fauziah yang belum lama tidur. Mau tidak mau dia harus bangun. Ada pekerjaan yang menantinya di Puskesmas.
"Zah.. Bersiaplah ke Puskesmas ..."
"Iya, Bunda ..."
Tas, seragam sekolah, dan jas telah siap di atas tempat tidurnya. Cukup dia mengaplikasikan nya sesuai fungsinya masing-masing. Setelah selesai, gadis itu menemui Bundanya di dapur.
"Bunda, hari ini aku pulang agak malam. Bunda makan aja kalau udah lapar, ngak perlu nunggu aku pulang" ucap Fauziah seraya menggeser kursi.
Bunda Santi yang masih aktif di dapur menghampiri putrinya yang menunggunya untuk sarapan bersama. "Kamu juga, jangan telat makan. Nanti kamu sakit"
__ADS_1
"Iya, Bunda"'
Setelah sarapan, Fauziah pamit ke tempat magang. Ia keluar mengambil sepatunya di rak sepatu–memasang tali sepatunya dengan benar.
"Semangat, Ziah!!" gumamnya pelan namun tegas.
Kendaraan roda duanya dikeluarkan dari garasi. Tatapan matanya bertemu dengan Bunda Sakila yang sedang menyiram bunga di teras rumah. Tidak sopan, bila dia tidak menyapa tetangganya.
"Pagi, Tante" Fauziah menyapa dengan ramah.
"Pagi, Sayang. Mau magang?" tanya Bunda Santi menghentikan kegiatannya.
"Iya, Tante. Aku berangkat dulu ya, Tante. Assalamualaikum"
Kendaraan roda dua mulai melaju dengan kecepatan sedang. Fauziah tidak perlu malu menyapa orang-orang yang ada di kompleks, toh mereka tidak tahu tentang lamaran atau pun pernikahan yang gagal itu.
Dibelakang, ada Aqmal yang juga mau ke Puskesmas. Fauziah membiarkan mobil mendahuluinya. Toh Fauziah tidak terburu-buru. Fauziah tahu, pengendara mobil itu adalah Aqmal.
__ADS_1
"Ya Allah, kuatkan aku. Dewasa kan pikiranku agar aku tidak selalu gegabah dalam mengambil keputusan" batin Fauziah.