
Pagi yang cerah, secerah hati Fauziah. Sekalipun dia mencintai Aqmal, tetapi Aqmal bukanlah jawaban atas doa-doanya. Usai mandi dan memakai seragam Sekolah, Fauziah keluar kamar menemui Bunda Santi yang tengah bersantai di teras rumah.
"Bunda, aku berangkat dulu" Gadis cantik itu menghampiri Bundanya. Tangan kanannya meraih tangan sang Bunda, menciumnya sebagai bukti hormatnya pada wanita itu.
"Iya. Hati-hati di jalan. Jangan sampai telat makan"
"Iya, Bunda. Oh ya, tupperware punya Bunda sudah ada. Ibunya Kak Nina udah datang semalam. Nanti pulang dari Puskesmas aku singgah ambil"
Fauziah keluar, menghampiri Aqmal yang menunggunya di mobil. Aqmal mengukir senyum menyapa gadis kecilnya yang terlihat begitu ceria. Terbesit dalam benaknya, apa yang membuat gadis itu bahagia.
"Kakak, maaf lama" ucap Fauziah. Ia membuka pintu mobil bagian depan. Gadis itu tak lagi malu seperti semalam. Dalam sekejap, dia bisa menguasai perasaannya.
Tindakan Fauziah barusan membuat Aqmal berpikir keras. Sejak kapan Fauziah mau duduk di sampingnya? Ada apa dengan gadis kecilnya.
"Cinta buta ini tak boleh mengendalikan ku. Aku harus menguasai diriku" batin Fauziah.
Perubahan Fauziah menarik perhatian Aqmal. "Zah, ada kabar baik?"
Pertanyaan yang bagus–menarik gelak tawa gadis mungilnya. "Iya"
Sebuah jawaban yang singkat namun menimbulkan tanda tanya. Semakin dibiarkan akan semakin menjadi beban pikiran. Lantas, kenapa harus didiamkan.
"Boleh aku tahu?"
Mulai kepo, itulah dua kata yang pantas menjabarkan sikap Aqmal saat ini. Fauziah kembali menarik senyum. Dia tak resah dengan pertanyaan yang menurutnya bukan masalah.
"Besok Kak David dan keluarganya tiba di Ternate"
"Terus?" Aqmal memancing Fauziah untuk menjelaskannya lebih detail.
Fauziah membenarkan posisi duduknya, dari yang awalnya menatap lurus ke depan, berganti menghadap Aqmal. "Kakak masih ingat yang diucapkan Tante Sakila?"
"Hmm"
Fauziah kembali tersenyum. "Tujuan mereka kesini mau lamar aku"
"Dan kamu mau? Bukannya kamu masih Sekolah" Aqmal mulai cemburu. Rasa tak terima menyeruak di dadanya.
__ADS_1
"Ngak ada alasan untuk aku tolak. Kata Bunda dia pria baik-baik. Agamanya juga bagus. Lagian, itu kan baru lamaran. Akadnya dan resepsinya bisa nanti kalau aku udah lulus"
Aqmal tak memberi tanggapan balik. Dia terdiam dan tak ingin bertanya lagi. Semakin dia menggali lebih dalam, dia akan merasakan sakit yang ke dua kalinya. Hingga mobil yang dikendarainya sampai di Puskesmas. Aqmal turun tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Ada apa dengan Ka Aqmal?" batin Fauziah.
Tak ingin berpikir keras, Fauziah turun dari mobil menghampiri ketiga temannya yang duduk di bawah pohon. "Ada yang mau aku beritahu" Fauziah berbisik di telinga Savana.
"Zah, masih pagi" tegus Farhan.
"Aku juga tahu kali" Fauziah memanyunkan bibirnya. Uhh, Farhan gemes melihatnya.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan gerak gerik Fauziah. Siapa lagi kalau bukan Aqmal yang saat ini berdiri menatap ke bawa. Dia harus memperjelas penjelasan Fauziah beberapa puluh menit yang lalu.
"Assalamualaikum. Bunda, apa benar David dan keluarganya mau datang?"
"Waalaikumsalam. Iya benar. Kenapa memangnya?"
Terdengar hembusan napas Aqmal yang tak terima. "Bun, bukannya Bunda tahu bagaimana perasaanku pada Ziah"
"Bunda tahu, tapi kamu sendiri yang membuat Ziah semakin jauh darimu. Bukankah Bunda sudah mengingatkan mu. Lantas apa lagi?"
Sebentar lagi apel pagi akan dimulai. Aqmal keluar dari ruangannya. Tak sengaja melihat Fauziah berbicara dengan seseorang di seberang telepon. Jiwa ingin tahu membuat Aqmal menghampiri Fauziah saat itu juga. Ingin sekali dia mengutarakan perasaannya.
"Ayo, apel pagi akan dimulai" Aqmal menarik tangan kiri Fauziah. Membuat gadis itu kaget bukan kepalang. Perbuatan Aqmal barusan membuat semua mata tertuju pada mereka.
"Bunda, aku apel pagi dulu" Fauziah menutup panggilan telepon. Ia mengikuti langkah kaki Aqmal yang semakin dekat dengan tempat akan dilaksanakan apel pagi.
"Andai Kak Aqmal yang melamar ku, aku akan jauh lebih bahagia" batin Fauziah.
"Kau hanya akan menjadi milikku. Tidak untuk David, tidak untuk siapapun itu. Kau hanya akan menjadi wanitaku" batin Aqmal.
Aqmal berdiri di depan Puskesmas. "Berdiri di situ" titahnya pada Fauziah.
Fauziah menurut, ia berdiri di samping Aqmal. Savana melirik Fauziah, dia yakin, sikap Aqmal yang tak biasanya disebabkan cemburu.
"Semoga pria online ku baik dan mau menerima keluargaku" batin Savana.
__ADS_1
Gadis cantik itu sedang pedekate dengan seseorang yang di profilnya lumayan tampan. Perhatian yang ditunjukkan lewat lisannya membuat Savana membuka hati untuk pertama kalinya. Namun tanpa Savana tahu, kekasih online nya itu adalah adik dari wanita yang hampir tiap hari bersamanya di Apotek 24 jam. Dari sekian banyaknya pria, kenapa harus adik dari orang dekatnya? Wallahu a'lam.
Apel pagi berakhir, Fauziah hendak ke Apotek namun ditahan oleh Aqmal. "Ikut aku ke ruangan ku"
Fauziah menoleh ke arah Mba Loli, Apoteker yang bertanggung jawab atas mereka. Mba Loli mengangguk, dia paham akan tatapan adik bimbingannya. Mendapat izin, Fauziah mengikuti Aqmal ke lantai dua.
"Sebelumnya maaf, Dok– kalau boleh tahu ada apa ya?" tanya Fauziah dengan sopan. Ia berdiri dengan jarak satu meter dibelakang Aqmal.
Aqmal berbalik menghadap Fauziah. Tatapannya mengisyaratkan betapa besarnya cinta pria itu pada gadis kecilnya.
"Maafkan aku" dua kata itu terucap langsung. Langsung dari lisannya, bukan dari ketikan tangannya.
Fauziah terdiam. Hal itu membuat Aqmal melangkah mendekat. Memberi jarak begitu dekat. "Apa kau membenciku?"
Lagi, Fauziah terdiam. Haruskah dia menjawab iya? Atau sebaliknya. "Dok, nanti sepulang dari sini baru dibicarakan. Aku kembali ke Apotek dulu. Assalamualaikum"
Aqmal mengangguk. Dia membiarkan Fauziah keluar dari ruangannya. Tak mengapa, toh Fauziah akan meluangkan waktunya sepulang dari Puskesmas nanti.
Waktu yang dinanti tiba, Aqmal masuk ke dalam mobil begitu juga dengan Fauziah.
"Kakak, kita mau ke mana?" tanya Fauziah.
"Kamu mau kemana?" Aqmal balik bertanya.
"Kakak kenapa sih!" Fauziah mulai kesal.
Aqmal menepikan mobil d pinggir jalan. Lalu melepas jas yang sejak tadi ia lupa lepas dari tubuhnya. Sejenak ia menghembuskan napas kasar. Problem hidup tak henti-hentinya menghampiri.
"Zah, menurut sudut pandang mu, apa aku begitu buruk?" tanya Aqmal serius.
"Ngak," balas Fauziah singkat.
"Lantas?"
Fauziah mulai merasa jengah. Sejak pagi Aqmal mulai aneh dan itu bikin Fauziah merasa risih. "Lantas apa? Kakak jangan berteka-teki. Aku bingung, sumpah"
"Ayo kita menikah"
__ADS_1
Degh!!
Fauziah terdiam. Haruskah dia bahagia atau sebaliknya.