
"Ini hadiah dari Bibi dan Paman" ucap Bibi Nova menyodorkan paper bag merah pada Fauziah.
Mata cokelat kehitaman milik Ziah terbelalak. Dalam hati ia mengucap syukur diberi keluarga yang begitu menyayanginya. Perlahan ia menerima paper bag itu. Senyum sumringah terukir cantik di wajah imutnya. Rasa penasaran, membuatnya tak menunda waktu untuk melihat isi paper bag.
"Masya Allah, Bibi. Gamisnya cantik sekali" ucap Fauziah senang. Dia menempelkan gamis Dariluna di tubuhnya. Panjang baju sangat sesuai dengan tinggi badan gadis itu–hingga kebahagiaan nya bertambah seratus persen.
"Kam suka?" tanya Bunda Santi. Fauziah mengangguk suka.
Di saat mereka sedang berbincang-bincang dan sekali kali tertawa renyah, suara langkah kaki terdengara mendekat. Tiba-tiba sosok familiar berdiri di depan pintu dengan tangan kanan memegang paper bag coklat.
"Assalamualaikum" ucap Muli, dialah si pemegang paper bag coklat itu.
"Waalaikumsalam. Mari masuk, Li" Semua yang ada di dalam rumah menjawab salam darinya. Salahbersyukurri mereka mempersilahkan gadis itu masuk namun dia menolak dengan alasan tertentu.
"Nggak usah, Kak. Aku dan teman-temanku mau ke Derbi sekarang" jelas Muli. "Oh ya, ini untuk Kakak" Tangan kanan nya terulur ke depan menyodorkan paper bag pada Fauziah.
Fauziah tersentuh dengan sikap juniornya. "Makasih ya, Dek" ucapnya seraya menerima pemberian dari tetangga depan rumahnya.
Muli mengangguk perlahan pulang ke rumah, menunggu teman-teman nya datang menjemputnya. Sementara Fauziah kembali duduk bersama keluarganya.
__ADS_1
...---...
Sore pun tiba, usai mandi dan mengenakan gamis rumah serta jilbab segi empat menjuntai menutupi bagian dada, gadis dengan senyum manis duduk di teras rumah. Rasanya sudah sangat lama dia tidak ke sawah. Tak ingin mengecewakan dirinya, dia bergegas mengenakan sandal gunung wanita korea, dan mulai mengatur langka ke sawah. Jarak rumah ke sawah hanya beberapa belas meter saja, maka dari itu Fauziah memilih jalan kaki dibandingkan naik motor.
Pemandangan di sawah begitu indah. Adem dan terasa nyaman berada di lautan padi. Fauziah merentangkan tangan, perlahan memejamkan mata dan mulai menikmati angin sepoi sepoi.
"Ya Allah, terima kasih untuk nikmat yang engkau berikan kepadaku, juga kepada keluargaku" batin Ziah.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, seorang pria mengambil gambar Fauziah. Lalu bersembunyi saat kehadirannya di sadari oleh gadis itu. Dialah Aqmal, yang lebih dulu berada di sawah tapi tidak disadari oleh Fauziah. Andai Ziah melihat Aqmal lebih dulu, bisa dipastikan, gadis itu akan mengurungkan niatnya melihat pemandangan indah di sawah.
Hujan mendadak turun. Sudah tidak memungkinkan bagi Aqmal dan Fauziah untuk lari ke rumah. Keduanya bergegas ke Gazebo. Di Gazebo, masing-masing dari mereka terdiam seribu bahasa. Dua insan yang dulunya sangat akrab, kini terlihat seperi orang asing.
Setelah lama terdiam. Aqmal memberanikan diri untuk bertanya. Bertetangga, tapi tidak saling mengobrol. Untuk sekedar menanyakan kabar pun tidak.
"Alhamdulilah, baik" jawab Fauziah seadanya. Dia enggan menoleh ke arah Aqmal yang sejak tadi menatapnya.
"Maafkan aku" ungkap Aqmal lagi. Ia masih menatap Fauziah yang menunduk sambil menyembunyikan kedua tangannya. Fauziah merasa tak nyaman. Gadis itu memilih menerobos di derasnya hujan daripada berduaan dengan Aqmal–pria yang menorehkan luka yang tak berdarah namun membekas.
"Selama janur kuning belum melengkung, semua kemungkinan masih bisa terjadi" gumam Aqmal menatap wanita yang di cintai nya berlari kecil ke rumah.
__ADS_1
...----...
Terlalu sayang untuk tidak dihabiskan. Tapi sesuatu yang berlebihan juga tidak baik. Ya, Fauziah berada di posisi serba salah. Dia masih ingin 0nambah makanan tapi perutnya sudah minta ampun. Ayam panggang rica-rica, salah satu makanan favorit Fauziah. Makanan lezat itu sengaja disajikan oleh Bunda Santi. Sebagai hadiah ulang tahun putrinya yang ke 18 tahun. Sekaligus merayakan hari kelulusan putrinya.
"Ayo, makan" ajak Bunda Sakila.
"Aku mau, Bun tapi____"
"Bukan kamu, tapi Aqmal" lanjut Bunda Santi memotong kalimat putrinya.
Fauziah melirik ke belakang, mendapati Aqmal yang berpakain non formal. Celana cargo di bawah lutut dan baju kous abu-abu.
"Kenapa? nggak suka?" cecar Aqmal seraya mengambil tempat di samping Fauziah. Dia harus bisa membuat Fauziah kembali menyukainya.
"Ini, belajar yang giat" lanjutnya meletakkan paper bag di atas meja.
Fauziah hanya diam, dia tidak menanggapi apapun. Bahkan saat Aqmal dan Bunda Santi makan pun, dia hanya diam. Bukannya dia tidak berselera makan tetapi dia sudah kenyang.
"Kenapa Bunda mengundangnya makan di sini" batin Fauziah.
__ADS_1