Inginku Samawa Bersamamu

Inginku Samawa Bersamamu
Episode 28


__ADS_3

"Siapa sih yang ribut!!" gumam Fauziah kesal. Gadis itu menggeser selimutnya dengan kasar. Mengenakan jilbab simpel lalu ke balkon. Seketika rahangnya mengeras melihat pemandangan di depan teras rumahnya.


"Hei ...! Jadi kalian yang ribut di situ ... Awas ya ...!!" teriak Fauziah. Ia kembali ke kamar berniat turun menghampiri beberapa boca yang sedang bermain kelereng di teras rumah.


"Apa mereka pikir rumah kami ini taman anak-anak!" omelnya sepanjang menuruni anak tangga. Dia mengambil sapu di halaman belakang, berniat menggertak anak-anak itu biar pergi atau bermain di tempat lain. Saat dia kembali dan keluar rumah, matanya terbelalak.


"Andriiiiiiii .... Apa kau sudah bosan hidup ...! Cepat turun!! Astaghfirullah ..." teriak Fauziah saat mendapati anak kecil bernama Andri duduk di dahan pohon mangga.


Anak kecil bernama Andri pun turun. Ia berhasil menjatuhkan beberapa buah mangga yang sudah matang. Bahkan teman-temannya yang lain, yang bermain kelereng bersamanya juga menyimpan beberapa mangga di tas mereka.


"Kakak, kalau kalau Kakak mau makan, tinggal ambil. Nggak perlu marah-marah" tegur Andri dengan polosnya.


"Ya udah, Kakak ambil lima" ucap Fauziah. Ia mengambil 5 buah mangga yang berukuran besar.

__ADS_1


Andri cemberut. "Kakak curang" protesnya.


"Mau Kakak nggak ikhlasin? Kalau Kakak nggak ikhlas, kamu berdosa loh. Makan barang haram" ucap Fauziah menakut nakuti.


"Ikhlasin aja" bisik teman Andri, Ridwan namanya.


"Iya, Kak Ziah bedah sama Bunda Santi" timpal Kiki yang juga berbisik ditelinga Andri. Sekecil apapun suara mereka, Fauziah masih tetap mendengarnya.


"Lumayan buat rujak" gumam Fauziah pelan. Ia masuk ke dalam rumah meninggalkan Andri, Ridwan dan Kiki.


Tanpa Fauziah sadari, sikapnya tadi dilihat oleh Aqmal yang kebetulan berada di lantai dua rumah. Aqmal hanya bisa menggeleng kepala melihat sikap Fauziah yang kekanak kanakan. Bisa-bisanya gadis itu menakut nakuti anak kecil.


Aqmal berbalik menyeret langkahnya ke kamar. Ia rindu calon istrinya. Sejak pagi tadi gadis di depan rumahnya itu tidak menghidupkan ponsel. Kali aja sekarang sudah aktif. Kan lumayan untuk melepas rindu walau hanya lewat pesan.

__ADS_1


"Ini anak sengaja menonaktifkan ponselnya atau apa?" gumam Aqmal kesal.


Dia duda, tapi sering kali bersikap bak ABG. Seperti lalu, saat Fauziah bersikap tak biasanya, Aqmal kesal akan hal itu. Walau dia sendiri tahu penyebab perubahan itu.Tetapi tetap saja, Aqmal tidak suka Fauziah mengabaikannya. Karena tak ingin membuat Fauziah merasa dipermainkan, Aqmal memilih menunggu Fauziah lulus sekolah barulah dia datang meminang gadis itu. Tetapi jauh sebelum Fauziah lulus, Aqmal dan keluarganya sudah datang melamar Fauziah. Dan lamaran itu tanpa sepengetahuan Fauziah. Ya, Bunda Santi menerima lamaran itu tanpa sepengetahuan putrinya. Dan semalam, kedatangan Aqmal di rumah Fauziah, selain makan malam dia juga memiliki tujuan penting.


Di rumah Fauziah, gadis itu tengah mengupas mangga di dapur. Masako, cabai merah, kecap dan kacang goreng sudah tersedia di atas meja.


"Enaknya ngerujak siang-siang gini" gumam Fauziah dengan senang.


Di tempat lain, tepatnya di rumah Nenek Fauziah. Banyak tetangga yang mulai datang. Bahkan ada sebagian Ibu-Ibu mulai meminjam alat dapur milik pemuda dan pemudi berupa panci besar, baskom besar, gelas, sendok kecil, sendok besar, dan alat dapur lainnya.


"San, Fauziah udah tahu kan?" tanya Nenek.


Bunda Santi terkekeh. "Belum. Tapi Ibu jangan cemas. Aku adalah Bunda sekaligus sahabatnya Ziah. Aku tahu perasaan anak itu terhadap Aqmal" ungkap Bunda Santi.

__ADS_1


__ADS_2