Inginku Samawa Bersamamu

Inginku Samawa Bersamamu
Episode 39


__ADS_3

Uang sebanyak 63 juta diserahkan pada Fauziah. Terserah Fauziah mau gunakan untuk apa. Melihat uang sebanyak itu, kepala Fauziah berdenyut hebat. Sebelumnya, dia belum pernah memiliki uang sebanyak itu. Jangankan memiliki, melihatnya pun belum pernah. Dan kini, dia melihat uang dengan pecahan seratus dan lima puluh ribu di atas meja.


"Kenapa nggak Bunda saja yang pegang?" tanya Fauziah. Dia takut pegang uang sebanyak itu, takut hilang.


"Loh kenapa harus Bunda, kan uang itu uang kalian" Bunda Santi memprotes.


"Gini aja, Ziah buka tabungan nanti uangnya Ziah masukin ke Bank" Bunda Sakila menimpali memberi solusi biar Fauziah mau menerima uang itu.


"Ayah setuju"


"Bibi juga setuju"


"Paman setuju"


"Lebih lebih dengan Nenek"

__ADS_1


Fauziah menghela nafas panjang. Mau tidak mau dia harus menerima uang itu. Sementara Aqmal, dia hanya diam saja. Jujur, dia enggan menerima uang itu. Biarlah uang itu diambil Bunda Santi tapi Bunda Santi menolak.


"Ya sudah" Akhirnya Fauziah menyerah.


Usai menikmati kopi bersama, Aqmal mengajak keluarganya ke Pantai Dermaga Biru yang berada di Babang, kecamatan Bacan Timur. Waktu yang dibutuhkan ke sana sekitar 30 menit jika star nya dari Labuha. Jika star dari Amasing Kali membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Diajak oleh Aqmal, tentu saja mereka semua mau ikut. Muli dan David yang memiliki rencana ke Pantai Panamboang, segera membatalkan rencana dan mulai membuat rencana baru bersama Aqmal dan Fauziah lewat Aplikasi Watshap.


Di rumah keluarga Malik, David dan Muli sibuk mencari pakaian yang cocok untuk dikenakan saat ke pantai nanti. Lima baju yang Muli keluarkan dari dalam lemari tapi tak satupun ada yang cocok dengannya untuk dikenakan ke pantai. Cocoknya ke kondangan.


"Kemana sih baju-baju ku!!" ketus Muli. Gadis itu menggertakkan giginya dengan kesal.


"Spupet ... boleh aku masuk .."


"Silahkan ..." sahut Muli dari dalam kamar.


David tersenyum. Dia melenggang masuk ke dalam kamar Muli. Senyum yang tadinya tersungging sempurna, seketika memudar saat melihat wanita di depannya berdiri di depan lemari dengan rambut yang berantakan.

__ADS_1


"Astagfirullah ... Muli ... kau baik-baik saja kan? Kenapa rambutmu berantakan? Kau tahu, rambut kuntilanak lebih rapi bila dibandingkan dengan rambutmu" cecar David.


Muli menatap tajam David yang dengan entengnya merebahkan tubuhnya di tempat tidur Muli yang sudah sangat rapih. David yang menyadari dimana letak kesalahannya, pria itu kembali mengulas senyum.


"Spupet ku Sayang ... Kak Aqmal menunggu kita sejak tadi jadi cepatlah mengganti pakaianmu" kata David menjauh dari tempat tidur. Mengiring langkahnya hingga di ambang pintu. Berbalik sebelum ke lantai satu, David menatap Muli dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.


"Kau tetap cantik walau terlihat seperti orang gila. Jadi ayo kita pergi" David kembali masuk ke kamar menggiring Muli ke lantai satu.


"Kakak ...!!" Muli berteriak memberontak namun tak diidahkan oleh David.


"Kakak ... Apa Kakak yakin!" ketus Muli. Dengan penampilannya yang berantakan, dia akan mengendarai motor? Astaga ... Muli masih waras dan masih punya urat malu.


"Tentu saja aku yakin. Kau cepat pilih, mau aku tinggal atau mau naik motor bersamaku?" David mengancam Muli seraya menaiki sepeda motornya.


"Dasar Spupu sialan!!" Muli mengumpat. Mau tidak mau dia mengenakan helem dan mulai membonceng.

__ADS_1


__ADS_2