
Selama dalam perjalanan Kara terus memikirkan setiap kata yang di ucapkan oleh supir taksi.
"Non sudah sampai" Ujar si pengemudi taksi
"Bang saya tidak jadi turun disini hantar saya ke alamat ini saja"
"Gimana sih Non?, tadi katanya ke alamat ini, kalau bingung lebih baik Non pikirkan dulu"
"Bang saya kan bayar terserah saya dong mau kemana, sudah ikut saja"
Seperti nya sedang galau ini cewek tapi tak apalah lagi pula sekarang sedang sepi tarikan tidak penumpang, sejak ada nya online taksi sepi sekarang. gerutu abang Taksi.
Kara yang sedang bingung harus kemana kalau ke kantor itu hal yang tidak mungkin kalau ke rumah bapak rasanya tidak mungkin, Kara pun memutuskan untuk pergi ke rumah mertuanya ya itu orang tua Adrian.
Sampai depan Mension mewah pagar menjulang tinggi Putih, Kara menyiapkan uang pas untuk si pengemudi.
"Sesuai Argo ya bang" Kara memberikan sejumlah uang ke si pengemudi.
"Terimakasih Non, jangan galau lagi ya Non" Saut di pengemudi.
Ist! rese banget si lu bang, amit-amit jangan sampai ketemu lu lagi bang. gerutu Kara sambil melangkah pergi, depan gerbang di sambut pak Karno.
"Selamat sore Nyonya Muda" Pak Karno mendorong gerbang untuk Kara masuk ke dalam.
"Sore pak.., Mama ada di rumah?" tanya Kara sebelum melangkah pergi ke dalam.
"Nyonya besar ada di dalam, nyonya muda masuk saja"
"Terimakasih Pak, saya masuk dulu ya pak"
"Baik Non" Pak Karno menutup kembali gerbang yang baru saja di bukanya.
Di sisi lain Adriana sibuk mencari Kara di bantu oleh Romi, sedangkan Kara asik bercengkrama dengan mertuanya.
"Lu sih bro, sudah tahu bini lu tukang ngambek lu masih aja main-main sama gadis lain." Ujar Romi.
"Bingung gue, tuh Monika kenapa muncul lagi setelah gue sudah bisa lupain dia"
"Lu masih ada hati sama dia?" tanya Romi
"Kagak lah, tapi gue tahu Monika seperti apa, gue bakal di teror terus"
Ambisi seorang Monika sepertinya bakal menjadi tantangan buat Adrian, selain di harus bisa menjaga hatinya, dia juga harus bisa mengendalikan Monika agar tidak menggangu hubungan rumah tangga nya bersama Kara.
Di sisi lain Kara yang memiliki wajah cantik ia yakin dia tidak akan pernah kalah dengan wanita mana pun.
"Tidak usah takut sayang.., kamu cantik memiliki segalanya kamu harus yakin anak Mama tidak akan pernah meninggalkan kamu demi wanita lain, kalau pun suatu saat anak Mama berpaling dengan wanita lain dari menantu Mama yang cantik ini, jangan pernah merasa kecewa buktikan kalau kamu bisa, Mama dukung kamu sepenuhnya sayang, kalau itu kesalahan anak Mama." Ujar Rena.
"Terimakasih ya Mah nasehat nya, tapi Kara masih mau disini Mah, Kara belum ingin bertemu Mas Adrian."
"Papa setuju apa yang di katakan Mama, papa akan selalu dukung Kara menantu Papa yang cantik ini" Saut Beni.
__ADS_1
Kara memeluk Beni yang baru datang dari kantor.
"Terimakasih ya Pah Kara senang banget....! memiliki keluarga baru yang sayang sama Kara" Ucap Kara.
"Kamu sudah papa Anggap anak Papa sendiri, bukan begitu Mah?" Tanya Beni pada Rena.
"Iya sayang.., sekarang Kara istirahat di kamar Adrian ya, kamu pasti capek kan seharian dari kantor"
Dret.... dret... dret..., Ponsel Adrian berdering berulang kali.
"Angka telpon lu siapa tahu Bini lu yang telpon"
"Tapi nomor tidak di kenal nggak mungkinlah Bini gue,"
"Ya siapa tahu Bini lu pakai handphone orang gitu, bisa jadikan kan?, kita sudah seharian cari Bini lu tapi nggak ketemu juga."
"Mata lu seharian, baru juga berapa jam, kemana si Kara..., kalau dia kenapa-kenapa kan gue bisa di gorok sama bokap nyokap gue"
"Wkwkwk.., punya takut juga lu"
"Lu bucin banget si bro?, hahaha" Romi pun yang tidak pernah melihat sahabatnya seperti ini, Adrian terus ditertawakan Sahabat nya itu
"Dapatin dia susah penuh perjuangan, lagian bucin sama bini gue sendiri sah-sah aja kali"
"Ya...ya.., eh mungkin nggak sih Kara ada di rumah lu?" Kata Romi
Petunjuk dari Romi tak membuat Adrian yakin kalau sang istri kesayangan itu berada di kediamannya, menurut Adrian itu hal yang tidak mungkin sebab setiap Adrian mengajak nya ke kediaman orang tuanya sering kali Kara menolak.
"Sekarang sudah jam 11 nih sudah malam lu mau kemana?,"
"Gue balik ke rumah nyokap gue lah, di rumah gue nggak ada Bini gue, masa gue sendirian disana"
Adrian pun sebelum kembali ke kediamannya ia menghantar Romi terlebih dulu, sebab jarak rumah Romi dan orang tua Adrian tidak lah jauh.
Setelah Romi keluar dari Mobil Adrian, Romi berpamitan kemudian Adrian melanjutkan perjalanan ke Mension orang tuanya, tapi suasana Rumah sangat sunyi sepertinya seisi rumah sudah lelap dari tidurnya. Pak karno yang berpikir jika Adrian datang karena ada Kara ia pun tak menanyakan lagi pada Adrian hanya mengucapkan selamat malam kemudian Adrian langsung masuk ke dalam rumah.
Tiba di kamar Adrian langsung menuju kamar mandi membersihkan tubuh setelah berlama-lama di kamar mandi ia pun membaringkan tubuhnya yang sangat lelah.
Aaaaaaaaahk!!!! Teriak Kara.
"Pah seperti nya suara Kara coba kita lihat"
"Astaga....!, orang cari kemana-mana tahu-tahu disini"
Tok....Tok..Tok..,
"Kara ini Mama nak buka pintunya" Ucap sedikit teriak
Cklek..!
"Mama..., sembunyikan Kara di sini?"
__ADS_1
"Adrian kamu di sini nak? nggak Mama Mama nggak sembunyikan Kara kok ya Pah. Tadi Kara datang kesini ya sudah Mama minta Kara bermalam disini"
"Iya benar.." Saut Beni
"Kompak nih orang tua" jawab Adrian kecut
"Mas kamu ngapain pulang kesini? kenapa nggak ke rumah"
"Ngapain di rumah sendirian" Ucap Adrian kesel tidur membelakangi Kara.
xixi Kara Tertawa dalam menutup mulut nya dia marah bodo amat ah.., suruh siapa dia main-main sama aku.hem..Kara memalingkan wajahnya.
"Pah.., anak kita marah, seharusnya kita ngabarin kalau Kara ada disini"
"Sudah lah Mah tidur lagi, besok juga baik lagi" Ucap Beni.
Kara pun tidak bisa memejamkan matanya tidak bisa di pungkiri kalau ia tak ingin di diamkan oleh suaminya, Kara pun coba memeluk suaminya, seketika tangan Kara di singkirkan oleh Adrian.
"Astaga Mas Adrian marah benaran.., aduh gimana caranya jelasinnya Ah.. aku tahu waktu kecil saat dia Marah dia selalu baik kalau aku cium.
CUP
"Tidak usah merayu" Adrian membalik badannya berubah memeluk Kara.
Kenapa aku selalu lemah setiap dia mencium ku, aku begitu menyayangi dia tapi aku malah selalu menyia-nyiakan dia, maafkan Mas sayang.
Adrian memeluk erat tubuh Kara.
"Mas...kamu kenapa?" Kara pun bertanya seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi.
"Mas.., tidak ingin kehilanganmu, betapa paniknya Mas tadi mencari mu kemana-mana Mas.. takut kamu akan pergi meninggalkan Mas lagi seperti dulu."
"Ih... suamiku manis sekali.., tumben, aku tidak akan pergi kemana pun, selama kamu masih bisa menjaga hati dan iman kamu Mas."
"Mas..., tidak akan mencari wanita lain diluar sana selama di rumah masih ada bidadari yang sangat cantik menemani Mas.."
"Pasti ada maunya ya?"
"Kalau itu sudah pasti tapi serius sayang Mas panik tadi, kalau ada mau ya kan dari kemarin Mas..ngak di kasih"
"Pikun... nih tadi siang sudah..kan"
"Itu siang bukan malam"
"Dasar...," Kara pun mengerti apa yang di mau suaminya.
Kara mencium bibir Adrian perlahan Adrian menyambut nya dengan ******* bibir tipis istrinya sentuhan jemari tangan Kara. Nafsu Adrian menggebu rasa tak tahan lagi ingin melepaskan rudal nya, Aaaaah.... terlepas dari bibir Kara, Adrian semangat mengayun rudal yang akan melepaskan ke sebuah ruang yang tepat untuk di jadikan penghasil benih-benih cintanya.
...----------------...
Terimakasih Like dan Komentari
__ADS_1