
Rena tiba di rumah sakit besar Jakarta di situ ada ibu Rodiah yang sedang memandang Kara dari Kaca.
"Selamat siang" Rena menyentuh pundak Rodiah.
"Besan ngagetin saja" Rodiah menyalami Rena dan menuntun Rena duduk di ruang tunggu.
"Ada apa yach..?, seperti ada yang ingin di bicarakan." Kata Rena
"Begini Loh Bu. Saya tidak tega Bu melihat Kara seperti ini bukan kah kita seperti menyiksanya?" Ujar Rodiah.
Tiga bulan sudah Kara koma sampai detik ini belum ada perkembangan mengenai kesehatan Kara.
"Saya tidak paham dengan yang di ucapkan Besan" Timpal Rena.
"Sebaiknya kita lepas alat-alat medis dari tubuh Kara." Ujar Rodiah
Sebenarnya saya tidak tega melihat Kara seperti ini tapi! kalau Kara sudah tidak Ada Otomatis Harta Jaenal jatuh ke tangan saya!. gumam nya Rodiah
"Maksud Besan ingin lepas semua Alat-alat medis dari tubuh Kara?!, saya tidak setuju! kalau Anda ingin memutuskan hal yang mengenai Kara, sebaiknya Anda bicarakan dulu dengan suaminya. Karena sekarang yang BERHAK! atas Kara Adalah Suaminya!" Ujar Rena Keras penuh dengan penekan.
Datang Adrian bersama Papanya melihat Rodiah Adrian mengerutkan dahinya. Adrian memang tidak pernah suka dengan Rodiah entah kenapa ibarat minyak dan Air tak pernah menyatu.
"Ada apa Mah?" Adrian bertanya kepada Mama nya. Rena
"Duduk dulu sayang" Kata Rodiah
"Ada apa ini Mah..?"
"Ini Loh ibu mertua kamu minta alat-alat Medis di lepas dari tubuh Kara, Mama tidak setuju!" Ujar Rena yang masih berharap Kara kembali berkumpul bersama putranya.
Adrian juga keberatan atas pilihan orang tua Kara karena selama Kara di rawat keluarga Adrian lah yang merawat Rodiah tidak pernah muncul selama Kara di rawat dan tiba-tiba Rodiah memutuskan hal sepihak.
"Tidak punya OTAK! orang tua macam apa kamu ini, aku yakin Kara masih bisa sembuh dan berkumpul kembali atas ijin Allah." Ucap Adrian keras.
"Sayang setiap pilihan akan memiliki Resiko besar, kalau seperti kamu sama saja menyiksa Kara itu sudah tidak ada." Kata Rodiah.
__ADS_1
"Lebih baik kamu pergi atau aku panggil kan Satpam!" Adrian terpaksa mengusir Rodiah dari tempat
"Baik saya akan pergi! tapi ingat kamu tidak ada Hak untuk ikut campur urusan perusahaan karena kamu hanya menantu tidak lebih"
Astagfirullah Kara seperti ini masih bisa-bisa nya dia memikirkan Harta. gerutu Adrian.
Sebaiknya Kara segera aku pindah kan ke Singapore kalau Kara tetep di sini Wanita itu bisa saja berbuat macam-macam.
"Pah.., apa pekerjaan yang di Singapura boleh aku yang hendel?" Tanya Adrian kepada Papa nya.
"Adrian apa kamu tidak kasihan sama Kara? kalau kamu jauh dari dia" Ujar Beni
"Kara akan saya pindahkan ke Singapura Adrian takut Pah ibu Rodiah akan berbuat macam-macam dengan Kara, dia sudah Gila Pah karena Harta."
"Kalau seperti itu Papa akan pikiran dan kamu harus memiliki perawat khusus untuk Kara selama kamu bekerja Kara aman ada yang menjaga."
"Mama setuju dengan Adrian, bila Mama di butuhkan Mama akan tinggal bersamanya Pah"
Seperti pupuk merindu kan bulan, tapi ini beda Rodiah seperi dia merindukan kekayaan sayang dan cinta kepada Kara sepertinya hilang dalam sekejap.
Pernah kah berfikir kalau anak adalah harta paling berharga, bukan harta yang berharga, Kesal Marah itu wajar tapi ini tindakan yang tidak wajar hanya karena harta yang melimpah Ruah, kemudian kau tega dengan putri satu-satunya itu untuk pergi selama-lamanya. Tanpa berusaha untuk menyembuhkan.
Sial! Adrian tidak mau melepaskan alat-alat nya Ok...! Adrian kamu bisa mempertahankan Kara tapi saya memiliki seribu cara untuk bisa melawan kamu, dan saya akan mendapatkan semuanya, dan Aku akan kembali lagi bahagia bersama orang yang aku sayangi. Selamat Jalan Jaenal Ha..! Ha..Ha. untung saja aku bisa melepaskan selang tanpa ada yang tahu kalau semua itu penyebab nya adalah aku. Ocehan Rodiah.
Angel mendengar Kara di rawat dia datang bersama Alex dan juga ibu nya Astuti.
Di sisi lain Adrian sedang mengurus kepindahan Kara ke Singapura. Beberapa menit kemudian ke datang Angel dia sudah mengantongi nomor kamar dari loket informasi. Angel membawa buah-buahan untuk mengisi tangannya agar tidak datang tangan kosong.
"Assalamu'alaikum...."
"Wa'alaikumsalam..., anda-anda siapa ya?" Kata Rena yang belum mengenal siapa Angel.
"Saya Angel dan ini suami saya satu lagi itu ibu saya" Angel memperkenalkan satu per satu.
"Gimana keadaan Kara tante?" Tanya Angel
__ADS_1
"Kara masih seperti semula belum ada perubahan kita hanya menunggu keajaiban tuhan saja."
"Kasihan Kara, semoga ada keajaiban ya Tante semoga dia lekas sembuh"
"Iya Terimakasih" Kata Rena.
Satu Jam Angel berkunjung tidak lama dia pamit karena waktu besuk sudah habis hanya keluarga saja yang boleh menjaganya.
"Saya pamit dulu ya Tante, Adrian kamu yang sabar ya"
"Iya Terimakasih sudah datang" Adrian menghantar Angel dan keluarga sampai Lift kemudian Adrian kembali bersama Rena.
"Mah Tolong rahasia kan kepindahan Kara ke Singapura jangan sampai ada yang tahu selain keluarga kita" Pesan Adrian
"Iya sayang kamu tenang saja tidak akan ada yang tahu"
"Terimakasih Mah" Adrian menggenggam tangan Mama nya.
Rena begitu sedih atas apa yang menimpa keluarga kecil putranya
Semoga kelak kalian bahagia tanpa Keluarga Kara Mama yakin kamu bisa Nak, Mama tiada hentinya untuk berdoa agar kalian bahagia, mungkin ini ujian untuk keluarga kecil kamu Nak. Gumam Rena sambil mengelus punggung Adrian.
"Sabar sayang kamu pasti bisa melewati semua ini Mama yakin itu"
"Iya Mah.., adrian akan selalu melindungi istri Adrian Mah"
"Bagus sayang, semoga saja setelah pindah ke Singapura Kara segera sembuh dan berkumpul kembali bersama kita"
"Aamiin" ucap Adrian
Tapi apa kah ke duanya akan bersatu lagi atas ijin tuhan kita lihat saja nanti.
...----------------...
Up gyus Jangan lupa like komen dan Rate
__ADS_1