Istri Cantik Tuan Muda

Istri Cantik Tuan Muda
episode 68


__ADS_3

Siang mulai berlalu matahari pun mulai terbenam malam pun datang. Murni masih tertidur dengan lelap setelah seharian penuh menangis, di tengah malam Murni mengedipkan matanya, perut nya terasa lapar yang tidak bisa di tahan lagi dia segera mengisinya. Murni melangkah kan kakinya membuka pintu menuju dapur melihat masakan siapa tahu masih ada yang tersisa, setelah membuka laci penyimpanan makanan. Alhasil masakan pun habis tak tersisa dia membuka kulkas melihat bahan-bahan akhirnya Murni bernafas lega setelah melihat masih ada bahan-bahan yang bisa untuk di masak.


Aroma masakan tercium harum Murni segara memindahkan ke wadah, dia pun duduk di meja ruang makan Murni menyantap nya dengan lahap.


"Aku kira tikus malam-malam sibuk di dapur" Saut Aldy dari balik punggung Murni lalu merampas sendok dari tangganya kemudian menyuapi ke mulutnya.


"Mas Aldy..., sini sendok nya, aku lapar" Rengek Murni


"Sama aku juga lapar" kata Aldy


Murni berusaha mengatur irama jantung nya, yang semakin berdetak cepat karena dia takut Aldy akan melakukan nya lagi.


"Duduk dong Mas.., kalau mau makan" Ujar Murni


"Aku mau nya di suapin" Sambung Aldy yang ingin mendapatkan perhatian dari Murni


Astaga! ini orang rasanya ingin aku jitak!.


Deret...!


Ponsel Murni tiba-tiba berdering Murni segera menggeser tombol warna hijau.


Halo Assalamu'alaikum pak De.


Wa'alaikumsalam Murni, Ngapunten Pak De telpon wengi.


Yo Pak De ora Po-po Pak De, piye kabar ibu? pak De?.


Kui ibu mu wengi lara Kowe iso kapan muleh?.


Ya Allah Pak De aku titip ibu dulu saiki sesuk aku Moleh Pak De.


Iyo pak De pasti jagain Yo Wis pak De tutup dulu telponnya. Assalamu'alaikum


Wa'alaikumsalam..


Murni pun diam rasa lapar itu seketika hilang begitu saja. Aldy pun bingung kerena pembicaraan Murni dan Pak De nya tidak bisa di pahami oleh Aldy.


"Ada apa Murni?" tanya Aldy penasaran


"Ibu Mas, kata Pak De ibu sakit, besok aku harus pulang aku ijin cuti ya Mas" Ucap Murni Memohon


"Kamu apaan sih? masih aja menganggap kamu disini sebagai perawat Mami. Kamu itu calon istriku, kapan pun kamu boleh pulang sekarang ambil tas tidak usah bawa baju kita langsung pulang sekarang" Ujar Aldy


"Loh Mas ini malam, mana ada Bus jam segini lagi pula aku takut Mas, kejadian waktu itu" Lirihnya

__ADS_1


"Siapa yang suruh kamu naik Bus pulang sama aku" Kata Aldy


"Benar Yo Mas?" Kata Murni


"Iyo" balas Aldy bahasa Jawa


Murni pun tersenyum mendengar Aldy menggunakan bahasa daerah nya.


Merka pun bersiap untuk kembali ke desa. Dan Aldy yang kedua kalinya ikut Murni ke desanya, dia pun dengan senang hati mengantar Murni ke,desa nya, Aldy pamitan pada Mami nya untuk menghantarkan Murni, setelah mengantongi izin Aldy dan Murni pergi.


Disini Kara tiba-tiba mengingat orang tuanya yang hanya tinggal satu, demam pun melanda tubuhnya menggigil panas hingga mencapai 39 Cc, Adrian panik membangunkan orang tuanya


Tok...Tok.. Tok


"Mam bangun lah aku membutuhkan kamu" Ucap Teriak Adrian


"Adrian ada apa Nak?" tanya Rena


"Kara mam, Kara badannya panas sekali" Ucap Adrian.


"Adrian kara kenapa Nak?" tanya lagi penasaran


"Kara badannya panas mam" Kata Adrian panik


"Cepat! bawa dia ke rumah sakit Adrian" ucap Rena juga panik karena setiap kehamilan Kara tubuh Kara menurun drastis


Desa kelahiran Murni.


Aldy tiba di desa pukul 10 pagi mobil yang di kendarai Aldy memasuki pekarangan rumah berukuran kecil Aldy mematikan mesin mobilnya sementara Murni melangkah cepat masuk kedalam rumahnya.


"Bu..., aku pulang.." Saut Murni sedikit Teriak


"Murni...," Jawab ibu Murni dari belakang rumahnya


Melihat ibunya sedang berada di antara sapi-sapi hewan peliharaannya


"Loh Bu! kata Pak De ibu sakit? loh ngopo ibu di disini bukan nya istirahat toh Bu?"


"Ibu mboten nopo-nopo kok Ndok wong ibu cuma demem minum obat warung wis enak meneh awak ibu"


"Assalamu'alaikum Bu" sapa Aldy


"Wa'alaikumsalam oalah ada tamu agung toh!"


Aldy menyalami tangan ibu nya murni lalu ibu Murni mengajak ke ruang tamu.

__ADS_1


"Ibu sakit apa? kenapa sapi itu tidak ibu orang lain saja yang merawat, nanti ibu kecapaian tar sakit loh Bu" kata Adrian


"Ibu sehat kok nak Aldy, ibu malah seneng banget merawat sapi-sapi, oh ya nak Aldy ibu banyak-banyak terimakasih Yo tapi kok banyak banget nak sapinya kamu belikan untuk ibu?"


"Bu, Aldy boleh tanya?"


"Tanya apa nak Aldy?"


"Tanah yang luas sebelah sana apa ibu tahu pemiliknya?"


"Yang mana toh Ndok?"


"Iku loh Bu, sebelum persimpangan jalan"


"Oalah kenopo toh nak Aldy?, iku Tanah ibu buat Murni nanti kalau sudah punya suami Yo bekal murni buat gubuk agar tidak numpang di mertuanya, kenopo Nak Aldy?" Orang tua murni menjelaskan sedetail mungkin.


"Niat nya Aldy ingin beli jika di ijinkan untuk membangun pabrik garmen, tapi kalau untuk murni tidak usah Bu"


"Alhamdulillah, silahkan pakai saja nak ibu ikhlas kalau nak Aldy untuk kebutuhan warga disini"


tanah yang seluas sekitar setengah hektar itu letaknya cukup strategis maka dari itu Aldy berminat untuk membangunnya Aldy, juga berani membayar mahal tanah yang dia taksir untuk usah kecilnya


Lagi-lagi Monika datang kekediaman Aldy setelah melihat di kantor tak melihat sosok Aldy dia penasaran dengan berani Monika menghampiri kediamannya


Teng! Tong! Teng Tong!


Mbok berlari-lari membuka pintu, nampak sosok gadis cantik rambut coklat kulit putih tubuh menjulang tinggi. Mbok melihat dari bawah sampai atas.


"Non cari siapa?" tanya Mbok


"Saya cari Aldy Mbok, apa Aldy nya ada?"


"Tuan Muda pergi ke Jawa sama calon istrinya, apa ada yang bisa Mbok sampaikan" kata Mbok


"Jawa?, apa saya tidak selah dengar Mbok?"


"Iya benar ke Jawa" ucap nya lagi mbok


"Mana mungkin Seorang Aldy mau ke desa gue rasa Mbok berbohong" gumam


Monika pun membalikan badannya kembali ke mobil otak nya penuh dengan pertanyaan keberadaan Aldy di desa tempat Murni tinggal tapi Monika sampai saat ini tidak tahu siapa Murni yang Monika tahu Murni adalah yang merawat orang tau Aldy


Lagi-lagi, kara harus merasakan selang infusan di tubuhnya. Kara tiba-tiba saja drop kesehatan nya, dia selalu memanggil nama Rodiah, sampai-sampai adrian menyebar brosur foto Rodiah, bagi yang menemukan wanita paruh baya yang ada di brosur mendapat imbalan. Imbalannya apa itu hanya Adrian yang tahu agar Kara kembali sembuh mungkin keberadaan Rodiah bisa sedikit mengobati sakit Kara.


...----------------...

__ADS_1


Telat up


__ADS_2