Istri Cantik Tuan Muda

Istri Cantik Tuan Muda
Chapter 32


__ADS_3

Awan tebal meliputi seluruh mendung dikala seorang wanita tengah sedih mengiring kepergian suaminya ke negara lain, turun lah hujan yang sangat deras wanita yang memiliki wajah cantik itu tak lepas tangan dari menggenggam pakaian suaminya.


Aku mohon jangan pergi Mas..., apa kah hujan menandakan kalau Mas Adrian tidak boleh pergi.


Tes.., air mata menetes di pipi wajah cantiknya.


Aku pun segera menghapus air mataku tak ingin suami dan Mama mertua ku tahu kalau aku sedang bersedih.


"Saya.., Mas pergi dulu ya kamu baik-baik disini jangan nakal" Ucap Adrian mencium kening Kara.


Ya Allah sepertinya menantu ku tidak ingin Adrian pergi, saya kok merasa kasian memang momen ini tidak tepat.


"Kara ikut Mama yuk" Rena mencoba membujuk Kara.


Kara pun menggelengkan kepalanya menggenggam pakaian belakang Adrian layaknya anak kecil yang tak mau di tinggal orang tuanya.


"Aku nggak mau Mas.., pergi.." Kara memasang wajah sedihnya.


Akhirnya Adrian pun memaksa pergi bersama Papanya kala hujannya deras Adrian masuk ke dalam mobil, tak mampu lagi Rena menahan Kara terlepas dari genggaman Rena, Kara yang terus berlari mengejar mobil yang di tumpangi Adrian, tak perduli hujan besar tubuh basah kuyup.


Mas......."Hiks....hiks...hiks.


"Kara..., yuk pulang hujannya besar nanti kamu sakit sayang" Rena pun ikut sedih melihat menantu kesayangan seperti akan di tinggal selamanya.


Ya Allah jagalah suami dan anakku kembali kan dia dengan keadaan utuh. Aamiin.., gumam dalam hati Rena.


Setelah Rena berhasil membujuk Kara kembali ke rumah dalam keadaan basah kuyup Rena berteriak memanggil Mbok untuk menyiapkan dua Handuk untuknya.


"Mbok ajak Kara ke kamar ya untuk ganti pakaian lalu buatkan 2 minuman hangat ya" perintah Rena.


Setelah mengganti pakaian Kara membaringkan tubuh di atas ranjang, dan sebelum keluar kamar Mbok menyelimuti seluruh tubuhnya wajah nya terlihat sembab karana menangis tiada henti, Mbok pun tak tega melihatnya.


"Mbok buatkan minuman hangat ya Nyonya Muda?"


"Iya Mbok terimakasih"


Kemudian Mbok keluar dan menutup kembali pintu kamarnya di sisi lain Rena yang sudah menanti kedatangan Mbok ingin menanyakan keadaan Kara.


"Gimana Mbok keadaan Kara?" tanya Rena.


"Nyonya muda berbaring di kamar Nyonya Besar, mbok akan buatkan minuman hangat" Kata Mbok sambil membungkukkan tubuhnya.


Setelah di kamar pun Kara tiada hentinya menangisi kepergian suaminya.


Semoga kamu baik-baik saja Mas.., dan cepat kembali. gerutu Kara.


Tok..Tok..Tok.


"Masuk" Saut Kara


Mbok mendorong pintu kamar nya, melihat Kara sedang menggigil kedinginan, setelah Mbok tahu Mbok inisiatif untuk mengecilkan pendingin ruangan.


"Nyonya Muda minum dulu minuman hangat ya agar tubuhnya lebih hangat." Ujar Mbok


Kara pun berusaha mengangkat tubuhnya namun sepertinya seluruh tubuhnya tak mampu untuk duduk.


Mbok pun mencoba membantu Kara untuk bersandar saat menyentuh tangan Kara Mbok merasakan panas yang sangat tinggi.


"Astaga Nyonya Muda panas sekali tubuhnya" Ucap Mbok panik setelah menyandarkan kepalanya kesadaran ranjang, Mbok ijin keluar.


"Tunggu Mbok ambil kan obat ya nyonya muda"


"Tidak usah Mbok nanti juga panas nya turun" Ucap Kara lirih.


Mbok harus kasih tahu Nyonya besar, Mbok tidak mau nanti Nyonya muda Kenapa-kenapa.

__ADS_1


Pukul 5 sore tubuh Kara demam semakin tinggi tak ada satu orang pun di rumah itu yang tahu kalau Kara sedang merintih karana demam.


"Mbok..." panggil Rena


"Saya Nyonya besar"


"Mbok coba tengok Kara.., dari tadi dia tidak keluar kamarnya."


Mbok pun melangkah pergi menuju kamar Kara Tok...Tok...Tok..


tidak ada jawaban dari Kara mbok yang merasa penasaran ia mencoba membuka pintu alhasil pintu pun tak terkunci Mbok coba masuk, mendekati Kara yang tertutup selimut lalu membuka terdapat wajah Kara pucat kemerahan karana menahan dingin tentunya.


"Masyaallah! Nyonya Muda.., panas tambah tinggi."


"Nyonya besar..." Teriak Mbok memanggil Rena.


Sepertinya suara mbok berteriak.


"Nyonya besar... Nyonya muda.." Teriak lagi Mbok di sisi lain mbok juga panik ia takut kesalahan.


Iya suara mbok teriak, Rena beranjak dari duduknya melangkah cepat menuju kamar Kara


"Mbok kenapa Kara?" tanya Rena sambil mendekat ke tubuh Kara menyentuh bagian keningnya Rena pun kaget merasakan panasnya tubuh menantunya.


"Tunggu Mbok saya panggil dokter keluarga Beni dulu, mbok jaga Kara ya," ujar Rena


"Baik Nyonya besar" Jawab Mbok.


Di tempat Lain Rodiah yang terusir dari kontrakanya karana sudah tak sanggup lagi untuk membayar sewa nya. Tabungan Rodiah ludes untuk membeli obat Sudimara yang tak kunjung sembuh.


"Bagaimana ini bang.., seperti nya saya sudah tidak sanggup lagi merawat kamu bang, tabungan ku habis untuk biaya pengobatan kamu, sekarang kita terusir dari kontrakanya ini kita mau tinggal dimana lagi?, Mama sudan tak menginginkan kita tinggal di rumah"


"Kamu minta saja hak warisan sama orang tuamu"


"Ini semua gara-gara kamu tahu nggak kamu!, kalau saja kamu tidak minta menjemput buru-buru ini tidak mungkin terjadi!, jadi semua hidupku kamu tanggung Bodoh!," bentak Sudimara menjambak rambut Rodiah.


"Ampun bang sakit...," Lirih Rodiah.


"Saya lapar cepat cari makan buat ku!" perintah Sudimara


"Tapi bang saya sudah tidak ada uang lagi"


"Saya tidak mau tahu kamu dari mana, Bodoh!"


Rodiah yang konon anak sultan tak biasa hidup menderita kali ini Rodiah benar-benar sudah kehilangan gelar sultan ai memilih jalanya sendiri dengan acara menghiyanatinya suaminya Jaenal, selain itu Rodiah juga terusir dari rumah orangtuanya.


Dari pada aku harus menderita lebih baik aku tinggal kan kamu bang aku sudah capek mengurus kamu kurasa sudah cukup aku menebus kesalahanku. gumam nya dalam hati Rodiah.


Rodiah pun berniat kembali kepada Jaenal tapi di sisi lain Jaenal yang sudah menemukan tambatan hatinya dia seorang janda pengusaha burung wallet ia wajah nya yang cantik tutur sapa nya yang lembut dia juga yang merawat Jaenal selama tinggal Kara menikah Laila Hasyim, putri tunggal Pemilik perusahaan burung wallet.


Kembali ke Kara yang sedang di periksa oleh dokter keluarga Beni.


"Bagaimana menantu saya dokter?"


"Kara baik-baik saja, hanya demam biasa tapi sepertinya menantu ibu nyonya Rena ini sedang berbadan dua, untuk lebih jelasnya silahkan Nyonya hubungi dokter kandungan" Ujar Dokter Ridwan


"Dokter nggak sedang bercanda kan?" tanya lagi Rena penasaran.


"Hahaha" Tertawa lah dokter spesialis keluarga Beni.


"Jangan bercanda ah..dok, suaminya sedang keluar negeri bersama Papanya."


"Saya hubungi rekan saya dulu dia ahli kandungan." Kata Dokter.


"Alhamdulillah Nyonya muda Hamil" Ucap Mbok kegirangan.

__ADS_1


Selama dokter hubungi rekannya, Rena pun perintah kan mbok membuat minuman untuk dokter, doker ini selain dia Dokter keluarga Beni dia sahabat Rena maka itu Rena tak canggung untuk bertanya apa pun padanya.


"Sebentar doker kandungan akan datang, gimana kabar kamu Rena?" tanya dokter mencari topik agar tak saling diam.


"Alhamdulillah baik dokter" kata Rena.


"Panggil saja Ridwan, shukur lah kalau baik-baik saja, sudah lama tidak menghubungi saya" ujar nya doker


Hari ini mungkin hari bahagia untuk Rena juga Kara tapi kesedihan itu datang saat Kara mengingat suaminya tidak ada di sisinya di kala kabar selama ini di nantikan oleh suaminya.


"Nyonya..." teriak mbok.


"Ada apa lagi mbok teriak-teriak"


"Nyonya lihat berita itu!"


Pesawat menuju Eropa mengalami kecelakaan kemungkinan penumpang tidak bisa di selamat kan. Seketika Rena pingsan di depan TV.


"Nyonya..., Ya allah bagaimana ini Wati..." panggil Mbok sedikit berteriak.


"Mbok Nyonya besar Kenapa?"


Semua pegawai panik setelah melihat Rena pingsan.


"Wati panggil dokter di kamar Nyonya muda cepat"


"Iya mbok."


Dokter datang mengusapkan minyak kayu putih di hidung Rena.


"Mas...Beni Adrian anak ku, mbok coba hubungi ponsel Adrian" perintah Rena.


"Mbok Rena tolong jangan kasih tahu Kara, takut pengaruh kandungan nya" Ujar Dokter.


"Baik Dokter" Jawab serempak Mbok Rena dan juga pegawai yang lainnya.


Rena yang berusaha tegar di hadapan Kara saat Rena memasuki kamar Kara..., Rena langusung memeluk tubuh Kara.


"Mama Kenapa?"


"Tidak ada sayang, Mama hanya memberikan selamat buat si kecil, kamu harus jaga baik-baik ya sayang, dia yang akan menggantikan Adrian di keluarga Mama." Ucap Rena lirih.


"Maksud Mama apa?"


"Si kecil ini yang akan menjadi penerus Adrian kecil nantinya."


Kara masih bingung dengan sikap mertuanya seluruh orang yang ada di kamar menahan kesedihannya.


Tidak lama Jaenal menghubungi Kara, Jaenal tahu kalau hari ini Adrian pergi keluar negeri dengan menggunakan pesawat yang ada di berita mancanegara.


"Halo.., Pak.." Jawab Kara


"Halo sayang gimana kabar kamu?" Tanya Jaenal dengan suara sedikit serak.


"Aku Hamil Pak.." Ucap Kara


"Alhamdulillah..., bapak senang mendengar nya" di sisi lain Jaenal menahan tangisnya ia tidak ingin merusak kebahagiaan putrinya dengan berita yang masih belum bisa di pastikan kalau di pesawat itu yang di tumpangi Adrian dan Beni di dalamnya.


Kenapa hari semua orang menghubungi ku menanyakan kabar biasanya tidak seperti ini..


Ponsel Beni dan Adrian sementara tidak bisa di hubungi, negara Eropa yang sedikit mengalami badai salju tidak ada satupun mobil yang bisa melintas, semua jalan di tutup badai terlalu besar.


...----------------...


Selamat membaca jangan lupa like dan komentar nya jika ada kurang dan lebihnya mohon maaf 🙏. aku hanya author kecil yang masih banyak belajar.

__ADS_1


__ADS_2