
Hujan mengguyur kota Jakarta keadaan di luar masih sangat deras Rodiah bingung harus kemana selain ke hotel, sejak Jaenal memutuskan untuk berpisah Rodiah pun tidak ingin memaksa untuk bertahan hidup bersama mantan suaminya, Rodiah hanya meminta hak nya selama hidup bersama Jaenal
Tidak lama Jaenal keluar dari kamarnya menuruni anak tangga.
Rodiah masih setia duduk di ruang tamu.
"Ini ATM kamu ambil mungkin cukup untuk sementara waktu"
Rodiah meraih ATM dari tangan Jaenal.
"Berapa isi saldo di ATM ini?"
"100 juta" ujar Jaenal
"Baik lah.., Mana kunci mobil ku?"
Jaenal menarik nafasnya.
"Cepat itu Mobil ku" ucap Rodiah walaupun hatinya benar-benar hancur rasaya ingin menangis sejadi-jadinya namun tidak mungkin Rodiah lakukan di depan mantan suaminya.
Beberapa saat kemudian Jaenal kembali memberikan kunci mobil yang biasa Rodiah pakai.
Kesalahannya Rodiah mungkin fatal bagi Jaenal tapi kepergian nya semua itu demi menebus janjinya pada Sudimara dia menyembunyikan Sudimara di tempat orang tuanya atas permintaan Sudimara karana dia tau satu ginjal miliknya ada di tubuh Kara.
Tapi Rodiah merahasiakan semua itu dari Jaenal.
Rodiah keluar dari rumah Jaenal mengendarai Mobil nya, dia menangis sepanjang jalan, Semua ini aku korbankan demi keluarga ku, jika aku tidak seperti ini bakal ada kerusuhan, ancaman demi ancaman siksaan demi siksaan aku lalui bertahun-tahun apa kalian merasakan semua ini tidak kalian tidak tahu rasanya sakit atas apa yang menimpaku. Aku membenamkan tubuh ku! demi putriku. Hiks..Hiks..Hiks.
Aaaaaaaaahk!! Hiks...Hiks...Hiks.
Perselingkuhan! ya aku berselingkuh dengan rahasia ku.
Aku tidak pernah membenci kalian karana aku sangat-sangat menyayangi kalian, melihat kalian bahagia sudah cukup buat aku, sekarang aku harus menebus kegagalan ku yang tertunda, saatnya aku bahagia tanpa anak dan suamiku.
Tiba di hotel Rodiah langsung ke resepsionis memesan kamar VIP.
"Nyonya kamar Nyonya di nomor 112" kata wanita cantik yang bertugas sebagai resepsionis.
"Terimakasih" Rodiah meraih kunci kamar lalu dia meninggal kan Resepsionis.
Jaenal menghubungi Kara.
"Assalamu'alaikum Halo pak" jawab telpon dari Jaenal.
"Wa'alaikumsalam Nak.., bapak mengganggu tidak?"
"Tidak pak, ada apa? seperti nya bapak sendang sedih ada apa pak"
"Nak tadi ibu mu datang dan dia minta kembali sama bapak"
"Terus ibu apa kabar pak sekarang di mana ibu pak?"
"Ibu mu baik-baik saja sekarang ibu mu sudah pergi lagi sepertinya ibu mu bermalam di Hotel tapi bapak tidak tahu hotel mana ibu mu bermalam."
"Ya Allah pak..., Kara kasian sama ibu, kalau ibu tidak ada tempat biarkan ibu tinggal bersama Kara pak"
"Kamu tidak membenci ibu mu kan Nak?"
__ADS_1
"Kara tidak pernah membenci ibu pak, bagaimana pun Kara lahir dari rahim ibu, Kara sudah memaafkan Ibu seblum ibu meminta maaf" kata Kara sambil menangis.
Ya Allah apa aku salah memisahkan anak dan ibunya, tapi kalau aku ingat atas perlakuan dia aku sangat membencinya. Dia tega menyembunyikan pria lain di rumah orang tuanya, kalau di tidak merasa merahasiakan apa pun sebaiknya dia jujur apa pun rahasia nya.
"Pak.., bapak masih di sana?"
"Iya nak, sudah dulu ya kamu istirahat kasihan kandungan kamu"
"Iya pak kalau ada kabar lagi dari ibu tolong kabari aku ya pak" Kata Kara
"Iya nanti bapak kabarin kamu ya kalau ibu mu hubungi bapak, ya sudah ya Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Ya Allah ibu dimana bu, aku ingin sekali meminta maaf sama ibu, atas semua perlakuan aku sama ibu.
Tok..Tok.. Tok.
"Kara kamu sudah tidur Nak?" Saut Rena dari luar kamar.
"Ya Mah.., Kara belum tidur masuk saja Mah"
"Mama masuk ya?"
"Iya Mah "
"Mama bawakan kamu susu hamil agar bayi kamu sehat dan ini rasa jeruk kesukaan kamu"
"Kara bosan Mah..Rasa jeruk"
"Rasa anggur Mah.."
"Ya sudah Mama buat kan dulu ya" Rena melangkah pergi dua langkah kaki Rena terhenti oleh panggilan Kara.
"Mah.." panggil Kara
"Ada apa sayang?" tanya Rena.
Apa aku pantas ya ijin sama mertuaku kalau andaikan Mama tinggal bersama aku, secara ini kan bukan rumah ku tapi rumah miliki mas Adrian.
"Ada apa sayang?"
"Tidak jadi Mah" ucap Kara yang masih bingung dan seperti nya menurut Kara hal yang tidak pantas, sebaik nya menunggu suaminya datang agar bisa di bicarakan bersama
Ada apa dengan Kara sepertinya ada yang ingin di bicarakan. batin Rena
Kehidupan Jaenal kini kemelut dengan kehadiran nya kembali Rodiah. Ya bagaimana tidak Rodiah menyerang dan membeberkan semua Rahasia yang dulu.
Kara yang tidak tahu apa-apa semakin Penasaran ada dengan kedua orang tuanya. Rodiah menyiapkan beberapa pengacara kepercayaan orang tuanya. Hari ini Adrian baru saja pulang dari negara lain.
Baru saja melepas rindu dengan istrinya tiba-tiba ada telpon untuk datang ke rumah bapak nya.
"Apa tidak bisa lain hari? Mas Adrian baru saja pulang tidak etis rasanya jika harus meninggalkan Mas Adrian" Ujar Kara.
"Kamu kan bisa ijin Nak?" kata Jaenal.
"Ada apa sayang" Ucap Adrian dari kamar mandi, Adrian duduk mendekap pinggang Kara dari belakang.
__ADS_1
Seperti nya kerinduan itu sudah melekat di hati Adrian, bukan dia tidak mengijinkan tapi Adrian baru beberapa jam tiba dari negara lain Kara pun sedang Bermanja-manja dengan suaminya.
"Nanti Kara usahakan pak?"
"Ya sudah nak bapak sudah dulu telpon nya. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam"
"Ada apa dengan bapak sayang?" tanya Adrian
"Bapak minta kita untuk datang ke rumah seperti penting" Kata Kara.
"Ya udah nanti saja Mas.., Masi capek" Ucap Adrian kemudian Adrian mendidih perut Kara sampai dia meringis kesakitan.
"Sayang kamu sakit?"
Kara menganggukkan kepalanya
"Mas ambilkan obat ya kamu tunggu di sini"
"Eh Mas...tidak usah.." Ucap Kara Manja
"Katanya sakit..?"
"Ya tapi bukan aku yang sakit tapi anak kita!"
"Maksudnya anak kita?!, kamu Hamil? nggak bercanda kan,?"
Kara menggeleng kepalanya.
Saat itu juga Adrian mendekap tubuhnya dengan erat menciumi dari atas kepala sampai perut. Granat pemilik kan nya berdiri sangat kokoh.
Kara mulai paham dengan suaminya Kara pun membiarkan Adrian bermain-main dengan nafsunya. Lidah Adrian menerobosnya rongga mulut Sang istri dengan memutar setiap luang.
Rintihan pun keluar dari bibir Kara. Adrian yang masih terkesima dengan kecantikan Bu Mil semakin buas dia bermain di atas pusar sang istri, melahap gundukan miliki nya dengan lahap.
Berulang kali Kara mengeluarkan suara rintihan Saat Adrian memainkan alisnya Kara pun mengangguk kepala.
"Pelan-pelan Mas ada bayi kita"
"Iya sayang, sebenrnya Mas sangat marah sama istri Mas yang cantik ini"
"Kenapa Mas apa aku ada salah?"
"Tentu saja, istri Mas yang cantik ini tidak memberikan kabar kalau sedang hamil" ucap Adrian
"Kan untuk surprise, nanti kalau aku mengabari Mas, nanti Mas tidak tenang di sana"
"Iya juga Mas pasti langsung pulang Terimakasih sayang kamu sudah memberikan Adrian junior untuk Mas."
Perlahan Adrian meluncurkan granat nya hingga meledak di dalam kepemilikannya.
Adrian pun langsung memapah Kara ke dalam kamar mandi membersihkan tubuh nya bersamaan di bawah kucuran air shower. Tapi tak berhenti sampai di situ Adrian bermain di dalam kamar mandi seperti nya Adrian belum puas melepaskan kerinduan nya.
...----------------...
Lika dan Komentar juga Rate ya All terimakasih
__ADS_1