
Malam begitu larut mata Engan terpejam begitu yang di rasakan Kara.
"Sayang..., Kenapa tidak tidur?" Kata Adrian
"Menunggu pagi rasanya lama sekali ya Mas." Ujar Kara
"Tidur pagi pun akan datang dengan cepat tidur ya." timpal Adrian
Dengan lembut mengusap kepala Kara sampai mata Kara terpejam dengan sendirinya.
Kamu pasti rindu dengan bapak ya sayang sampai-sampai kamu tidak bisa tidur menunggu pagi agar lekas ke tempat peristirahatan terakhir Bapak.
Menengok mata sang istri yang sudah terlelap Adrian membenarkan tidur Kara, kemudian Adrian melanjutkan tidurnya hingga matahari terbit memancar sela-sela tirai putih. Adrian membuka matanya perlahan melihat Kara masih terlelap dalam tidur Adrian pun membiarkan Kara tidur, mengingat tadi malam Kara tidur hingga pukul 2 dini hari.
Adrian bergegas bangun masuk ke dalam kamar mandi. Berdiri di bawah kucuran air shower di iringi siulan pagi yang cerah suasana hati yang benar-benar bersahabat.
Beberapa menit kemudian Adrian menyudahi mandinya ia melilitkan handuk di pinggang lalu Adrian keluar dari kamar mandi mengambil pakaian kerja tanpa menunggu Kara bangun dari tidurnya. Aroma parfum original semerbak parfum yang menjadi candu sang istri.
"Mas..., kamu sudah rapih?"
Adrian mendekati Kara duduk di sampingnya Mengecup keningnya.
"Pagi sayang.."
"Pagi...." Kara melebar kan tangannya memeluk tubuh suaminya yang begitu Harum dan tampan
"Mas.., siap kan sarapan dulu ya, sayang tidak usah turun biar Mas yang bawa sarapan ke sini"
"Tidak usah Mas..., nanti saja aku masih mau di peluk, Mas.. tidak usah kerja ya" Ucap Kara Manja
"Tidak bisa dong sayang hari ini Mas ada Meeting penting setelah Meeting Mas langsung ke kantor mungkin akan telat pulang" Kara Adrian.
"Ya sudah kalau begitu aku ikut ke kantor" Ujar Kara
Aku tidak yakin Mas kalau kamu tidak akan bertemu dengan Monika, jadi aku harus ikut hemm!.
Aduh gimana dong Meeting kali ini pasti ada Monika.
"Kenapa Mas..?" Melirik Kara curiga
"Ya sudahlah kalau mau ikut tapi ingat jangan buat ke kekacauan."
Adrian memperbolehkan Kara ikut walaupun Adrian memang sedikit bingung karena di sana Monika pasti akan hadir di Meeting kali ini dan juga Leo pasti Hadir perwakilan dari perusahaan mertuanya dan Adrian tidak ingin Kara bertemu dengan Leo
"Hai... sayang kamu tidak boleh pakai rok mini"
"Lah Kenapa kita mau ke kantor kan? bukan ke pesta" Kata Kara
Adrian menghampirinya lemari pakaian mengambil celana Jeans dan kemeja putih.
"Pakai ini" Titah Adrian
__ADS_1
Kara pun mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sudah di siapkan oleh Adrian. Pakaian yang sudah di kenakan di tubuhnya jelas terlihat seksi nampak belahan pas buah dada sang istri.
"Tunggu.. Tunggu."
"Apa lagi sih Mas..ini sudah bagus kok" protes Kara
"Sayang kamu tidak lihat tuh kamu ingin semua orang melihat buah dada kamu?" kata Adrian
"Ini kebesaran sayang..., sini..sini, Mas kecilkan dulu ok" Adrian menarik tangan Kara merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Apa yang di kecilkan sih" Kara lagi-lagi protes atas semua isi lemari pakaian di keluarkan namun benjolan dada Kara yang terlalu besar semua pakaian Adrian anggap seksi sehingga dia merasakan ingin segera melahapnya.
Mas..., sampai kapan pun kamu isap tidak akan kecil. gerutu Kara
Adrian menghisap dengan sangat cepat membuat Kara terlepas dari bibir nya.
Aaaaah....!, Hahahaa" Tertawa Kara
"Itu sih kamu yang nafsu" Kata nya refleks Kara menarik rambut Adrian
"Aduh...!, diam sayang.., kerja masih 1 jam lagi ada waktu"
"Hemm..."
Adrian pun kembali membuka pakaiannya Kara yang masih lilitan handuk dengan mudah melempar ke sembarang arah.
Aroma tubuh sang istri masih tercium aroma sabun mandi yang begitu Harum.. tubuh putih mulus Kara yang di tumbuhi bulu halus Kara menikmati sentuhan bibir suaminya di setiap inci" Hemm..., lolos dari bibir Kara. Mendengar suara *******. Adrian kembali menyentuh bagian dada sang istri yang masih keras dan besar. Hinga ke duanya mencapai puncak. Adrian dan Kara pun akhirnya mandi yang ke dua kalinya.
"Sayang di rumah saja ya?" Kata Adrian
"Tidak bisa aku harus ikut" katanya
"Pakaian kamu sayang terbuka semua nanti kita belanja pakaian baru okay!, Mas tidak mau kamu di lihat pria lain"
"Ini aku pakai kaos oblong, dan celana Levis ya"
"Ya sudah kita sarapan dulu"
Di tempat lain Murni sedang menyiapkan sarapan, Murni juga memutuskan untuk keluar dari kerjaan yang di kantor Aldy, setelah pikir-pikir gaji dari untuk merawat Mami nya sudah lebih dari cukup.
Murni masuk ke dalam kamar Aldy membersihkan kamar nya dan menyiapkan pakaian untuk kerja. Setelah bersih semua Murni menutup kembali pintunya.
Mendengar suara pintu Aldy pun terbangun dia juga mencium aroma kopi yang sudah di siapkan oleh Murni.
Tersenyum.., terimaksih. gerutu Aldy
Aldy bergegas bangun mandi lalu sarapan. Tapi di kamar Mami nya terlihat kosong.
"Mbok...Murni.." Panggil Aldy sedikit Teriak
Namun tidak ada jawaban dari semua nama yang dia panggil.
__ADS_1
Aldy pun keluar menengok sebelah kanan di sana taman kecil di halaman rumahnya. Melihat pemandangan yang indah. Murni sedang mendorong kursi roda membawa Nyonya Faridah agar menghirup udara segar.
"Nyonya tunggu di sini ya" ucap Murni lalu Murni menghampiri Aldy
"Maaf Mas.., Aldy aku tidak ijin membawa Nyonya keluar" kata Murni.
Aldy terlihat gugup saat Murni menghampiri nya.
"Iya tidak apa-apa.., kamu kenapa belum ke kantor ini sudah jam berapa?, jangan mentang-mentang kamu satu rumah sama aku lalu kamu seenaknya"
Murni menundukkan kepalanya mendengar ocehan Aldy
"Iya Mas..Aldy aku pasti ke kantor tapi aku hanya menghantar surat pengunduran diri Mas."
"Loh.., Kenapa?" Sungut Lady
"Aku ingin merawat Nyonya sampai sembuh setelah itu aku kan pergi mencari kerjaan yang lebih baik Mas.." Ujar Murni.
"Hooh, ya sudah kamu minta gaji berapa untuk merawat Mami?" tanya Aldy
"Loh Mas Aldy kan sudah memberi gaji 4 juta itu lebih dari cukup Mas.." Ucap Murni
"What! 4 juta?, jangan asal Lu.., gue kasih kamu gaji pertama itu 7 juta untuk merawat Mami"
"Aku Ndak Bohong Mas..., uang nya pun belum aku kirim ke kampung sebab nya aku tidak punya Rekening Mas.."
Aduh nggak beres nih Mario. gerutu
"Mana uang kamu kapan kamu transfer?"
"Belum ada tahu loh Mas.. wong Aku Ndak tahu di mana Bank nya di sini."
"Ya sudah ambil uangnya dan nomor yang di kirim uang nya"
"Iyo Mas.., tunggu Yo"
"Eh... tunggu dulu" Panggil Aldy setelah melihat Mami nya di tinggal sendiri di taman
"Apa lagi toh Mas.." Kata Murni karena setiap Aldy panggil dia selalu membahas bahasa nya yang kental logat jawa
"Itu Mami lu tinggal?"
"Oalah Mas.., Lali aku, SE Yo"
Aldy pun merasa geli ingin tertawa setiap Murni mengeluarkan bahasa Jawa seakan-akan Murni selalu di sengaja.
Murni sendiri rasanya ingin tertawa saat bicara dengan Aldy sebenarnya Murni tidak begitu logat kental nya tapi setelah di protes terus-menerus itu yang menjadi Murni sering di buat-buat.
...----------------...
Terimakasih All like dan komentar nya
__ADS_1