
setelah kami sampai di depan sebuah kursi sejauh lima meter dari tempat kami berdiri yang begitu megah, dengan lapisan emas murni 24 karat , dan berbagai intan berlian sebagai hiasan . di atas duduk seorang wanita dengan begitu anggun, menggunakan jubah berwarna biru kebesaran yang kuyakini dialah ratu istana ini. bertahtakan emas permata dengan ornamen Berlian biru safir.
di kanan kirinya terdapat beberapa pelayan istana yang siap siaga melayani.
" salam yang mulia ratu " Tasya membungkuk an diri saat memberi salam..
aku pun mengikuti gerakan Tasya setelah di senggol dengan siku nya.
" salam yg mulia ratu " ku ucapkan dengan suara pelan dan terbata
'" salam kalian ku terima" kata ratu itu, sambil melambaikan tangan dari kursi kebesarannya , tak lupa senyum annya yang menyejukkan hati.
" apa kau yakin Tasya dengan keputusan mu ?" tanya ratu itu
" iya yang mulia ratu" ucap Tasya dengan kepala menunduk.
" apakah kau bersedia menikahi Tasya , nak Akbar ?" ratu Berganti menanyai ku.
aku terdiam, sedetik kemudian " iya yang mulia ratu. "
aku merasa terintimidasi oleh tatapan sang ratu.
'' baik kalau begitu segera kalian bersiap untuk ucap sumpah sakral kalian "
'' baik yang mulia ratu " aku dan Tasya serempak .
" tapi ingat Tasya setelah resmi menjadi istri manusia kamu tidak akan pernah bisa kembali ke istana ku ini " ucap sang ratu begitu tegas.
" baik yang mulia ratu saya terima resiko nya '" ucap Tasya sedikit ragu.
" bahkan kau bukan lagi bawah an ataupun pengikut ku dan jika terjadi sesuatu maka aku tak bisa menolong kalian'' ucap sang ratu lagi
" silahkan memasuki kamar yang telah di sediakan " perintah ratu
kamipun memasuki kamar yang telah disediakan di dampingi oleh para pelayan istana, yang siap merias kami. kamar yang aku masuk i berbeda dengan kamar Tasya kami di pisah kan .
aku menyesal mau menikah i Tasya dan takut, kalut, cemas jadi satu bagaimana nanti kalau Tasya berubah menjadi mengerikan seperti waktu itu. teringat wajah mba bunga berubah jadi Kunti.
__ADS_1
aku iseng bertanya pada pelayan istana itu, " apa aku sudah mati?" tanyaku ngaco kepada pelayan yang sedang menyisir rambut ku.
" tidak...!, ah belom ..! mungkin belom '" kata pelayan itu setengah tertawa "
" a..apa ?'' aku terkejut dan menyesal bertanya.
" tidak apa apa, '' ucapnya sambil tersenyum.
" lebih baik jadi perjaka seumur hidup dari pada menikahi Kunti " gumam ku
" seandainya pak Slamet ada di sini kusuruh dia aja yang jadi manten pria nya " pikirku
sesi upacara pernikahan pun akan di mulai aku digiring keluar dari kamar oleh pelayan istana, aku menggunakan pakaian adat Aceh ,aku duduk duluan di depan meja lalu di susul oleh Tasya calon istri ku.
Tasya telah selesai di makeover, Tasya memakai cadar sebagai penutup wajah, sehingga aku tak dapat melihat dengan jelas wajah nya.
jantung ku deg degan tak karuan,'' harus kah aku melepaskan masa lajang ku dengan jin??''
" bisa kah aku lari dari sini secepat nya? ''
" setelah ini apa yang akan terjadi pada diriku ?"
" apa aku sudah gila?"
iya berbagai macam pertanyaan berkecamuk di kepala. berputar seperti doakan anak SMA.
kami di suruh berjabat tangan dan mencium pipi pasangan oleh bunda ratu , dan kami pun di sahkan menjadi suami istri, setelah itu cadar penutup wajah Tasya di buka, dan aku bisa melihat dengan jelas wajah Tasya sangat cantik.
Tasya tersenyum merekah menampakan deretan gigi putih bersih, matanya biru bersinar. menggunakan gaun pengantin beradatakan aceh berwarna biru berbahan sutra halus sangat kontras dengan warna kulit nya yang cerah, rambut nya tergerai indah . bibirnya merah ranum. dengan dandanan yang cukup sederhana saja sudah membuat Tasya sangat cantik.
ya Tasya sangat cantik, sehingga membuat jantung ini melompat dari tempat nya dalam sekejap ku tepis semua rasa takut di benaku dan was wasku. tak apa menikah dengan jin toh Cut Natasya Arum juga sangat cantik, penampilan nya jauh berbeda dengan yang namanya jin apa lagi mba Kun Kun.
bisa di katakan sangat sempurna. Tasya pun mendekati ku lalu bebisik
'' aku sepenuh nya milikmu , kemana pun kau pergi pasti ada aku '' desisnya di telingaku
aku termangu masih belum sadar dari lamunan ku bahkan Tasya masih berbisik di sana di telinga ku, makin membuat hatiku meleleh .
__ADS_1
" bang.. ! kok malah ngelamun sih? " ucap Tasya lagi. lalu menggandeng tangan ku .
" ah..! iya " ucapku gugup
" lagi mikirin apa sih bang " tanya Tasya penasaran.
" enggak , enggak ada "
" jangan jangan Abang menyesal menikah dengan Tasya yah" kata Tasya sendu.
" ya Tuhan kenapa hatiku trenyuh mendengar penuturan Tasya barusan '"
" enggak kok " ku usahakan tersenyum manis di hadapan Tasya yang cantik jelita bak putri dongeng.
bagaimana bisa aku menolak gadis secantik dia, hanya saja kenapa setelah kematian nya aku di pertemukan. kenapa tidak dari dulu dulu waktu dia masih hidup.
mau protes, protes pada siapa?
pesta yang di selenggarakan secara dadakan tidak seperti dadakan. sangat megah.
pesta pun berjalan sangat meriah, aku di larang memakan hidangan yang disajikan. bahkan minum pun tidak. kata Tasya kalau aku makan hidangan itu bisa bisa aku terjebak disini selama nya tanpa bisa kembali.
" lalu hidangan ini untuk siapa?" tanyaku ke Tasya
" untuk seluruh penghuni istana, manusia g boleh makan ini , jadi berpuasalah " ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
" oh.." Jawabku sendu,jujur aku haus lapar lelah dan letih.
aku bahkan tidak ingat dengan bekal yang kubawa, apa lagi pekerjaan ku. aku benar-benar amnesia.
semua penghuni istana ini terlihat sangat senang dengan pesta yang ada . ada yang datang menghampiri ku lalu berkata " berkat kalian ratu jadi merayakan pesta, terima kasih ya . sudah lama istana tak merayakan pesta."
alunan musik pun menambah ramai acara pesta.
berbagai kesenian pun di gelar di dalam istana. sungguh sangat megah. tapi sayang aku tak bisa mengundang para author, teman dan juga para membaca. kalau ada yang mau datang silahkan kami masih disini duduk di pelaminan .he he he
pesta berlangsung sangat meriah. sang ratu pun turun dari kursi kebesarannya dan turut bergabung dengan para tamu undangan nya, juga warga nya.
__ADS_1
aku hanya bisa duduk menyaksikan tanpa tau harus berbuat apa. Tasya istriku pun setia duduk di samping ku.
waktu pun berlalu walaupun pesta belum usai Tasya mohon ijin mundur diri dari pesta, setelah melihat. wajah ku yang begitu pucat pasi, takut terjadi sesuatu pada ku dia pun mohon ijin.