Istri Ganda Haidar

Istri Ganda Haidar
Eps 14 - KEMBALI PADA KEHIDUPAN NYATA


__ADS_3

CEKLEK


Suara kunci terbuka serta dorongan kuat membuat Arum tersungkur kebawah, dia melihat Juna mulai mendekatinya dan menyudutkannya.


" Kamu gak akan bisa lari dari aku" wajah Juna mendekat namun sebelum mendekat tangan Arum lebih dulu menamparnya.


" Jangan sentuh gue breng***!!" Umpat Arum


"Berani Lo nampar gue hah?!! Gue gak akan lepasin Lo!" Juna manarik kencang baju Arum hingga robek sebagian.


" Juna bang***!!! Berani-beraninya dia macam macam sama istri gue" Haidar meninju-ninju ke arah Juna namun percuma saja.


Arum meronta-ronta, gak akan dia biarkan cowok itu menyentuhnya. Tangan Arum menarik kepalanya kemudian menjedug-jedugkan pada dinding di sampingnya.


" Zela tolongin gue" lirihnya pelan sebelum tubuhnya benar-benar di ambil alih oleh seorang zela.


BUGHH


Arum(zela) menendang Juna kencang hingga cowok itu tersungkur " JANGANN SENTUH GUE!! MENJIJIKAN!!"


Juna menggeram marah dia terbangun dari jatuhnya namun sebuah tendangan kembali dia dapatkan.


BRAKKK


" Akhhh" ringisnya


" Gak akan gue biarin Lo apa-apain Arum! Gue akan bawa dia pergi sama-sama menjauh dari lo!!" ucap Arum(zela) kemudian dia pergi keluar lewat jendela


Zela sangat marah, dia menangis atas kepedihan Arum, dia berjalan menuju sebuah jembatan dengan penampilan yang sudah tidak karuan


" Gue lega zela datang" ucap Haidar lega, namun kelegaannya tidak berlangsung lama ketika melihat gelagat Arum yang mencurigakan "  eh zel Lo mau apa? Jangan macem-macem!"


Arum(zela) berdiri di ujung jembatan yang di bawahnya diarusi sungai yang deras " hiks kita pergi sama-sama Arum, Lo gak perlu rasain sakit lagi" ucapnya kemudian melakukan ancang-ancang untuk meloncat


" No zela jangan!!!" Ucap Haidar panik " arummmm!!!!"  Teriak Haidar saat tubuh gadis itu terjatuh kebawah.


Haidar ikut meloncat untuk menggapai tangan arum, namun sebuah cahaya dari atas menarik tubuh Haidar hingga kegelapan kembali menghampirinya.


......................


BLAM


mata Haidar kembali terbuka, tubuhnya merasakan sakit dan sulit di gerakan, sayup-sayup suara terdengar di telinganya.


" Haidar kamu udah sadar?" Tanya seseorang dengan suara yang tak asing bagi Haidar.


" Bunda Haidar sadar!!"


" Alhamdulillah, cepat tekan tombol daruratnya" Arum menekan tombol untuk memanggil dokter.


" Haidar kamu dengar aku kan?" Tanya Arum khawatir karena Haidar tidak berbicara.


Haidar melihat wajah istrinya yang khawatir, apa dia sudah kembali pada kehidupan yang sebenarnya? Dia bersyukur masih dapat kesempatan melihat istrinya lagi.


" A----rum " panggil Haidar susah payah


Kepala Arum menganguk " iya ini aku" ucapnya dengan air mata yang menetes.


Ingin sekali Haidar menghapus air matanya tapi kenapa tangan kanannya tidak bisa di gerakan.

__ADS_1


" Pasien sudah sadar?" Tanya dokter yang baru saja masuk


" Iya dokter"


" Biar saya periksa" ucapnya kemudian memeriksa kondisi Haidar.


" kondisinya berangsur membaik, pasien sudah melewati masa komanya, tubuhnya mungkin agak sedikit kaku karena efek bangun dari koma jadi butuh waktu buat pulih kembali"


" Alhamdulillah, kira-kira berapa lama lagi menantu saya harus di rawat?" Tanya Sarif


" Tergantung kondisi pasien, kalau kesembuhannya berangsur cepat maka pasien bisa pulang lebih cepat juga" ucap dokter yang menangani Haidar " kalau gitu saya permisi, semoga cepat sembuh"


" baik dokter terimakasih"


" Bunda sama ayah sebaiknya pulang saja, kalian pasti capek kan nemenin Arum terus" selama sebulan ini, kedua orang tuannya tidak pernah membiarkan dia sendirian.


" Kamu yakin?" Tanya Umayyah ragu, bagaimana tidak? Belakangan ini Arum selalu saja menangis dan menyalahkan dirinya sendiri atas kecelakaan yang menimpa mereka.


" Iya, lagian suami aku udah sadar" senyuman yang sempat hilang dari wajah Arum kini kembali terukir indah, hal itu cukup membuat kedua orangtuanya yakin.


" Yaudah, kami tinggal ya. Nanti bunda sama ayah kesini lagi" merekapun pergi meninggalkan Arum dan Haidar berdua.


Haidar sedari tadi hanya menatap wajah istrinya tanpa mengeluarkan kata sedikitpun, hatinya mendadak sedih mengingat betapa pedihnya kehidupan wanita di depannya ini. Tangan kirinya perlahan terangkat untuk menyentuh pipi arum dan....


HAP


Tergapai. Hatinya sangat senang saat tangannya berhasil menggapai wajah Arum yang selama ini sulit sekali tergapai.


Tangannya mengusap air mata yang mengalir di pipi istrinya.


" Jangan nangis" lirih Haidar pelan, namun masih bisa terdengar oleh arum. Wanita berhijab itu bukannya tenang tapi tangisnya malah semakin menjadi.


Haidar berusaha bangkit dari tidurnya dengan bersusah payah. Arum yang melihat pergerakan Haidar segera membantu pria itu untuk mendudukkan dirinya " hati-hati" ucapnya tergugu.


" Sini" sebelah tangan Haidar terlentang meminta Arum untuk segera memeluknya, tanpa membuang-buang waktu, Arum segera menubruk dada bidang suaminya.


Mereka saling berpelukan menumpahkan rasa rindu di hati layaknya sepasang suami-istri yang saling mencintai.


" Maaf, maafin aku" Isak Arum dalam pelukan Haidar.


" Stttt ini bukan salah kamu " elusan lembut Haidar pada punggung Arum mampu menenangkan dirinya.


Kepala Arum terangkat menatap Haidar " kamu gak marah kan?" Tanyanya khawatir.


" Enggak " justru dia sangat berterimakasih, kalau saja kecelakaan itu tidak terjadi, pasti sampai saat ini dia tidak akan tau apa-apa tentang masa lalu istri kecilnya ini. Bukan tanpa alasan dia memanggil istrinya kecil, umur mereka terpaut tiga tahun. Haidar berumur 27 tahun sedangkan Arum baru 24 tahun.


" Beneran?" Tanya Arum dengan muka melasnya, saking melasnya wajah Arum justru terlihat menggemaskan di mata Haidar.


Tangannya mencubit pelan hidung Arum" iya sayang" gemasnya.


BLUSH


Pipi Arum memerah seketika, wajahnya ia sembunyikan kembali kedalam pelukan suaminya " apasih sayang sayang segala!!" Ucapnya ngegas namun dengan senyum yang tak dapat ia tahan, Arum termasuk orang yang gengsian.


Haidar terkekeh " kok malah di marahin sih?" Ucapnya dengan wajah merajuk


Kepala Arum terangkat kembali menatap suaminya " maaf" cicitnya, namun tak di gubris oleh Haidar


" Haidarr" panggil Arum, tangannya mengapit kedua pipi Haidar supaya mau melihatnya " maaf" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Sudut bibir Haidar berkedut, mengapa istrinya sesedih itu " iya aku maafin tapi ada syaratnya"


" Tuh kan Lo mah gitu!!" Kesal Arum


" Hehh apa tadi? Lo?" Tanya Haidar dengan tatapan menajam.


Arum menggigit bibirnya, dia keceplosan tadi" eheheh maaf keceplosan " cengirnya.


" Kamu harus di hukum"


" Yaudah apa? Tapi kamu maafin kan?" Tanya Arum pasrah


Haidar menganggukan kepalanya kemudian telunjuknya terangkat menunjuk-nunjuk bibirnya, sontak membuat kelopak mata Arum melebar.


" Apa?" Tanya Arum pura-pura tak paham


" Cium" jawab Haidar santai, dia gak salah kan kalo minta itu? Itukan haknya juga.


Arum menelan ludahnya susah payah, tangannya tiba-tiba bergetar serta keringat dingin membanjiri pelipisnya. Ingatan masa lalunya memenuhi benak arum, tapi dia berusaha melawannya.


Perubahan Arum tak lepas dari perhatian Haidar, dia tau betul apa yang istrinya pikirkan. Tangan kirinya menyentuh pipi Arum pelan " jangan takut, aku akan bantu kamu keluar dari traumamu"


Arum mematung ditempat, bagaimana suaminya bisa tahu kalo dia punya trauma? Apa semudah itu dia membaca gelagatnya?. Arum terus saja memikirkan berbagai kemungkinan sampai tak sadar kalo tangan Haidar sudah berpindah pada tengkuknya lalu menarik wajahnya untuk mendekat. Tatapan mereka terkunci satu sama lain, saking terbawa suasananya Arum sampai melupakan rasa traumanya.


Wajah mereka semakin dekat, bibir Haidar sudah bersiap menyentuh bibir istrinya namun sebuah suara menghentikan mereka.


" Permisi " ucap seorang suster membuka pintu mereka tanpa aba-aba. Sontak membuat mereka dengan cepat menjauhkan wajahnya.


Sial. Umpat Haidar dalam hati.


" Eh bukan maksud saya mengganggu kalian" suster itu kelabakan " i-ini saya mau nganterin makanan buat pasien"


" Ekhemm simpan di meja saja sus " Haidar berusaha menormalkan ekspresinya.


"Ba-baik, kalo gitu saya permisi. Sekali lagi saya minta maaf" suster itu segera keluar dengan tergesa-gesa setelah meletakan makanannya di meja.


Sedangkan arum, wanita itu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Wajahnya memerah menahan malu, rasanya terlalu berat untuk menatap suaminya walau sesaat.


Haidar menatap Arum yang tidak bersuara, helaan nafas keluar dari mulutnya " rum" panggilnya


"Hmm?" Jawab Arum tanpa menatap Haidar.


" Mau lanjut?" Tanya Haidar dengan senyum jailnya.


Wajah Arum reflek mendongak " engga-"


CUP


Haidar mencium kilas bibirnya membuat tubuh Arum mematung " itu hukumannya, kalau mau lama nanti di rumah" bisiknya tepat di telinga Arum.


Jangan tanya gimana jantung Arum sekarang, sudah pasti jantungnya berdetak kencang. Jangan tanyakan segimana malunya Arum sekarang, dia bahkan ingin menguburkan dirinya sedalam mungkin.


Kenapa suami gue jadi agresif gini sih woyy?!!!. Jerit alum dalam hati


TBC


...****************...


...Jangan lupa tap (💙) ya🤗...

__ADS_1


__ADS_2