
Haidar dan juga Arum kembali masuk ke gedung acara pestanya, disana ia melihat meja kosong yang berada di hadapan Nagita yang sedang duduk dengan muka masamnya. Senyum Haidar terukir bersamaan dengan ide yang muncul di benaknya. Ia membawa Arum untuk duduk disana.
Nagita menyambut kedatangan mereka dengan tatapan tajamnya, matanya tak sekalipun teralih dari pasangan di depannya ini. Itu yang Haidar harapkan hoho.
" Ayo sayang duduk disini " Haidar melepas rangkulan di pinggang Arum seraya mendudukkan istrinya itu di sampingnya.
" Mas mata aku keliatan bengkak gak?" Bisik Arum pada Haidar.
" Enggak sayang, kan kamu pakai topeng " gemas Haidar " dan satu lagi, jangan panggil mas! Panggil aku sayang " bisiknya tepat di telinga Arum.
Kedekatan mereka di anggap keromantisan bagi Nagita, ia mengepalkan tangannya menahan rasa cemburu di hatinya
" Kamu mau makan apa sayang??" Tanya Haidar
"Mmmm aku mau pasta aja "
Haidar mengambilkan pasta lalu menyuapi Arum yang langsung di lahap dengan senang hati oleh istrinya itu " hati-hati dong sayang, sampai belepotan gini " ucap Haidar sembari mengelap saus di bibir Arum dengan jarinya lalu menjilat jarinya itu, sontak membuat mata nagita melotot.
" Ih sayang kok di makan sih? Itukan sisa aku "
Haidar memajukan wajahnya " kalau saja ini rumah, bukan jari aku lagi yang ngebersihinnya tapi.....bibirku sayang " ucap Haidar dengan suara beratnya.
BLUSHH
Pipi Arum merah merona, untung saja ia memakai topeng jadi tak terlalu kentara. Sama seperti Arum, wajah Nagita juga merah menahan amarahnya yang makin berkobar.
" Ini tempat umum, jangan ngomong gitu!" Ucap Arum malu-malu.
Haidar mengacak kepala Arum gemas " gemes banget sih istri aku"
" Sayang aku mau ketoilet dulu ya?" Pamit Arum
" Aku anterin ya?"
" Gak usah, kamu tunggu disini " tolak Arum.
" Jangan lama-lama nanti aku rindu " ucap Haidar dengan nada manjanya.
" Lebay!!!" Ketus Arum namun tak urung senyum di bibirnya terukir.
Nagita yang melihat Arum pergi langsung ikut bangkit dan mengikuti wanita itu ke dalam toilet. Disana hanya ada mereka berdua, hal itu dijadikan kesempatan bagus oleh Nagita.
Arum berdiri di depan cermin besar dan membuka topengnya untuk melihat kondisi matanya " mmmm untung pakai topeng, kalo enggak kan bisa keliatan" lega Arum.
__ADS_1
Mata Arum teralihkan ke arah bayangan wanita di kaca yang tak lain adalah Nagita. Wanita itu menghampiri Arum lalu menampar pipinya kencang membuat Arum tertoleh kesamping memegangi pipinya.
" Tinggalkan Haidar! Dia hanya milik gue!" Ucap Nagita
Arum tersenyum sinis, ia menatap Nagita remeh " jangan harap! Haidar suami saya dan sudah pasti milik saya " ucapnya penuh penekanan.
Nagita tertawa sinis" biar gue kasih tau sama Lo....gue cinta pertamanya Haidar, dia gak akan bisa lupain cinta pertamanya, apalagi ciuman pertamanya" ucap Nagita menekankan di akhir kalimatnya.
Arum terdiam sesaat, tapi Haidar bilang waktu pertama kali ia berciuman bersama waktu itu adalah ciuman pertamanya juga. Siapa yang berbohong disini?
" Kenapa hmm?? Kaget?" Tanya Nagita remeh.
" Haidar agresif, apalagi kalau main ke apartemen gue" bisik Nagita
Arum mengepalkan tangannya, ia tau wanita ini sedang memanasi dirinya" deng! " Ucap Arum mengalihkan perhatian nagita " anda salah......Haidar memperlakukan saya lembut saat kami melakukan...." Arum sengaja menggantungkan kalimatnya dengan muka yang sengaja di buat sesongong mungkin, Arum mendekatkan bibirnya pada telinga Nagita seraya berucap " anda pastinya tau apa yang dilakukan saat suami istri berdua di kamar bukan?" Ucap Arum sengaja memanasi
Amarah Nagita semakin berkobar, dengan sekali sentakan ia mendorong Arum hingga kepala wanita itu terbentur keramik tempat mencuci tangan dengan keras.
BRAKK
Arum memegang kepalanya yang berdenyut nyeri, matanya menyorot penuh amarah ke arah Nagita, ia bangkit lalu...
PLAKK
PLAKK
Tamparan kedua ia dapatkan di pipi kiri nagita " ini buat Lo karena berani nyentuh suami gue!"
PLAKK
Tamparan ketiga berhasil membuat Nagita tersungkur ke bawah " dan ini....buat kebohongan yang keluar bibir busuk Lo!" Sarkas zela kemudian ia meninggalkan Nagita yang kesakitan. Tak lupa memakai kembali topengnya.
Zela keluar bersamaan dengan acara dansa yang akan di mulai oleh Dito.
" Oke hadirin semuanya....mari kita mulai acara berdansa, silahkan yang memiliki pasangan menaiki lantai dansa " ucap Dito dengan mic yang ada di tangannya.
Zela menghampiri Haidar yang sedang menatapnya aneh " sayang kok kamu lama ke toiletnya? Aku khawatir" ucap Haidar cemas
" Tadi ada urusan dulu, ayo kita mulai berdansa " zela menarik tangan Haidar untuk mengikuti langkahnya.
" Musik.... mainkan!!" Ucap Dito menggelegar.
Mereka mulai berdansa dengan pasangannya masing-masing, Haidar mengernyitkan alisnya saat merasakan Arum dengan lincah menyesuaikan gerakan dansanya tanpa melakukan kesalahan sedikitpun bahkan kali ini istrinya ini agak....agresif.
__ADS_1
" Sayang...kamu udah bisa dansa?" Tanya Haidar disela dansa mereka.
" Kamu remehin aku baby?" Zela mendekatkan bibirnya pada telinga Haidar dengan sedikit berjinjit " aku bisa melakukan apapun, termasuk melayanimu sayang" ucap zela menggoda.
Mata Haidar melebar, ia tau sekarang alasan perubahan yang terjadi pada istrinya ini, perlahan Haidar membuka topeng yang dikenakan Arum dan barulah ia melihat ada luka lebam di dahi wanitanya itu " ini kenapa?" Tanya Haidar seraya mengusap dahi Arum pelan. Selang beberapa detik mata Haidar melebar saat melihat pipi istrinya juga merah " siapa yang berani Lukain kamu?" Tanya Haidar menggeram marah.
Zela tersenyum kecil " tenang sayang, aku sudah memberi sedikit pelajaran pada wanita itu " ucap zela santai
Haidar mulai tidak tenang " wanita itu? Maksudna Nagita?" Tanya Haidar yang langsung di angguki oleh zela " kamu apain dia, zela??"
Senyum zela luntur, ia tidak suka dengan respon yang diberikan suaminya " kenapa? Kamu gak suka aku nyakitin mantan pacar kamu itu?" Zela menatap tajam Haidar.
" Bukan gitu maksud aku " Haidar mengusap kedua bahu istrinya " dengerin aku zela....kamu gak bisa berlaku seenaknya sama orang karena yang akan menanggung perbuatan kamu itu Arum, aku gak bisa biarin Arum dalam masalah. Kamu sayang Arum kan?" Tanya Haidar, zela menganggukan kepalanya
" Maaf " lirih zela membuat senyuman di bibir Haidar terukir, akhirnya ia bisa meluluhkan istri gandanya ini.
Haidar memeluk erat istrinya " tidak apa-apa " ucapnya menenangkan. Baru saja ia melepaskan pelukannya, tiba-tiba Nagita datang dari arah lain lalu mendorong kuat zela hingga tersungkur ke arah lantai dengan dahi kembali terbentur mengenai anakan tangga panggung, mengingat mereka berdua memang berdansa dekat panggung.
Haidar yang terkejut segera menghampiri istrinya yang sudah tidak sadarkan diri akibat benturan yang cukup keras " sayang bangun!!" Tangan Haidar menepuk-nepuk pipi Arum, ia melihat dahi istrinya itu berdarah.
Semua orang yang ada disana langsung memusatkan perhatiannya pada mereka termasuk Dito yang kini sudah turun mendekati Haidar " Dar, bawa arum ke mobil sekarang! disini gak aman. Nagita biar gue yang urus " perintah dito, kemudian ia berjalan mendekati Nagita dan menyered wanita itu untuk menjauh.
" lepasin gue Dito!!! wanita perebut itu udah nampar gue!! " Nagita memberontak dalam seredan Dito " sampai kapanpun aku gak akan ngelepasin kamu Haidar!! ingat itu!!" teriak Nagita sebelum ia benar-benar keluar dari gedung acara.
Haidar membawa Arum kedalam mobilnya, lalu menjalankan kendaraannya menuju rumah sakit. ia takut istrinya ini kenapa-napa. saat di pertengahan perjalanan, Arum tersadar dari pingsannya sontak membuat Haidar menepikan mobilnya di pinggir jalan " kamu udah sadar hmm?" Haidar mengusap pipi Arum pelan.
kepala Arum menganguk, ia melirik suaminya yang menatapnya cemas " mas....aku boleh minta sesuatu sama kamu?"
" apapun sayang, kamu mau apa?" jawab Haidar cepat
" kamu yakin?" tanya Arum ragu
Haidar mengangguk yakin " apa aku pernah nolak kamu? sekarang mau apa hmm? makanan? eskrim? atau-"
" pembalut!!" serobot Arum sontak membuat rahang Haidar menganga.
" A-apa?" tanya Haidar memastikan pendengarannya tidak salah. bukannya apa, istrinya ini baru saja terbangun dari pingsannya dan langsung meminta pembalut? itu di luar nalarnya.
" aku mau pembalut mas, kayaknya aku datang bulan dehh. aku lupa gak beli pembalut, kamu mau kan??" tanya Arum dengan muka di buat imut.
Haidar menelan ludahnya susah payah, kalo gini sih ia tidak bisa menolak lagi. dengan berat hati ia menganggukkan kepalanya membuat Arum tersenyum senang.
gapapa Haidar demi istri. ucapnya meyakinkan diri
__ADS_1
...****************...