
" Kalian ikut kakek "
Keadaan semakin menegang di tambah dengan kedatangan seseorang dari pintu utama vila.
TOK TOK
" Permisi "
Langkah Reno terhenti begitu mendengar suara yang familiar di ambang pintu, kepalanya menoleh lalu tersenyum menyambut rekan bisnisnya.
" Silahkan masuk " perintah Reno dengan senyum ramahnya.
" Jangan coba-coba!!" Bentak salma saat melihat siapa yang datang kedalam acara keluarganya.
Salma berjalan mendahului Reno dan berdiri di depan orang itu " berani-beraninya kamu datang kesini!!! Tidak tau malu!!" Marah Salma dengan telunjuk yang terangkat di depan wajah perempuan itu.
Nathan yang melihat kemarahan Salma, langsung bergerak cepat menahan istrinya " sayang jangan buat keributan " bisik Nathan.
" Aku gak Sudi liat wajah wanita ini!!" Cerca Salma
" Mah, Gita kesini mau-"
" Jangan panggil saya dengan sebutan itu lagi!! Kamu bukan siapa-siapa saya!!" Potong Salma.
" Maafin Nagita " Nagita bergerak maju untuk menyentuh tangan Salma
Dengan tatapan jijik, Salma menepis tangan Nagita " pergi kamu dari sini!!" Usir Salma
" Tapi.."
" PERGI!!" Pekik salma.
" CUKUP!!!" Teriak Reno lebih keras.
Mereka semua terkesiap ketika mendengar bentakan Reno pada Salma, setahu mereka, Salma adalah menantu kesayangan Reno jadi mereka tidak menyangka Reno membentak Salma dengan keras.
Salma menatap Reno tak percaya " papah bentak aku?"
Reno menarik nafasnya dalam dalam " bukan seperti itu " jedanya " dia rekan bisnis papah dan mereka kesini atas undangan papah " jelas Reno.
" Bisnis?" Tanya Haidar berkerut
Pandangan Reno teralih ke arah Haidar " iya, bisnis yang akan kamu ambil alih nanti "
" Papah apa-apaan sih? Papah tau kan wanita itu udah jatuhin harga diri kita dengan kabur di hari pernikahan Haidar! Kenapa sekarang papah kasih ruang buat dia untuk masuk ke kehidupan kita lagi?" Sela Salma tak terima.
" Masalah pribadi sama bisnis itu berbeda, kita harus lebih profesional " ucap Reno
Salma menggelengkan kepalanya, tanpa banyak bicara ia pergi ke kamarnya dengan setumpuk rasa kecewa dihatinya.
Nathan yang melihat istrinya tidak baik-baik saja langsung menyusul kepergiannya.
Reno melirik kembali ke arah Gita " mari ikut saya " ajaknya lalu kepalanya menoleh ke arah cucu cucunya yang sempat mau ia hukum " kalian bebas dari hukuman kali ini " ucapnya singkat.
Mereka berempat menghela nafasnya lega, namun tidak dengan Haidar dan Arum yang masih menatap Nagita tak suka.
" Sebentar pak Reno, saya kesini bersama kakak saya " beritahu Nagita.
" Dimana dia?"
" Dia..."
" Selamat pagi " ucapan Nagita terpotong dengan kedatangan laki-laki di belakangnya.
DEG
__ADS_1
Arum mematung ditempat begitu melihat seseorang yang tidak ingin ia temui lagi, dia adalah Juna.
" Selamat datang " sapa Reno ramah.
Juna tersenyum lebar, tatapannya seketika berhenti ke arah Arum yang sedang menunduk sontak membuat Juna tersenyum menyeringai.
" Arumi?" Ucap Juna sembari berjalan menghampiri Arum yang mulai tidak tenang.
" Kamu beneran Arum?" Tangan Juna bergerak untuk menyentuh dagu Arum supaya mendongak, namun tangannya di tahan oleh Haidar
" Jaga tangan Lo " sarkas Haidar.
Juna mengangkat tangannya " sorry " acuhnya dengan tatapan tak lepas dari wajah Arum.
Haidar menatap Juna tajam, tangannya menarik Arum untuk mengikutinya " kita ke kamar " titahnya yang langsung diikuti oleh Arum
" Haidar!! Tidak sopan bersikap seperti itu pada tamu!" Tegur Reno namun tak Haidar gubris.
" Tidak apa-apa " lerai Juna
Reno menghela nafasnya lelah " kalau begitu mari ikut saya " perintahnya yang langsung diikuti oleh Nagita dan juga Juna.
Sedangkan yang lain, mereka hanya termenung di meja makan tanpa mau melanjutkan makannya.
" Drama apa lagi ini " ucap salsa sepupu Haidar
" Suttt nanti kakek kamu dengar " ujar ibunya.
*
*
*
Malam hari, di dalam kamar Arum duduk dengan gelisah, ingatannya tertarik pada kejadian masa lalunya. Haidar yang mengerti dengan fikiran Arum langsung sigap menenangkan istrinya itu.
" Di-dia...."
" Aku tau " potong Haidar.
Arum menatap Haidar tak percaya, darimana suaminya itu mengetahui segalanya tentang masa lalunya? " Tapi dari mana kamu tau kalau dia udah-" ucapan Arum terpotong oleh pelukan Haidar yang hangat.
" Suttt, aku tau dia gak sempat nyentuh kamu sayang " bisik Haidar " maaf aku gak ada disana waktu itu " sambungnya membuat tangis Arum pecah.
" Aku takut hiks, dia hampir nodain aku. Kalau aja waktu itu aku gak sempat nyelamatin diri, aku pasti udah gak suci lagi mass " keluh Arum dengan tangisnya.
" Dan mas pasti jijik kan sama aku hiks, kamu pasti gak mau nyentuh aku kan?"
" Suttt, enggak sayang.. justru aku nunggu kamu siapp " Haidar semakin mengeratkan pelukannya.
" aku siap "
" ukhukkk " Haidar sampai tersedak ludahnya sendiri mendengar Jawaban Arum yang tiba-tiba " sa-sayang kamu yakin??" Tanya Haidar memastikan.
" Yakin, aku belum ngasih hak mas selama ini. Maafin aku " lirih Arum sedih.
Senyum Haidar mengembang " ikut mas " Haidar membawa Arum untuk berwudhu lalu mengerjakan solat terlebih dahulu.
Setelah melakukan solat mereka segera naik ke atas kasur, tangan Haidar terangkat ke ubun-ubun istrinya lalu membacakan doa ibadah suami istri.
" Kamu yakin?" Tanya Haidar lagi.
" Iya mas " yakin Arum.
Dan merekapun akhirnya melakukan ibadah suami istri pada malam itu muehehehe.
__ADS_1
Keesokan harinya......
" Sayang, biar aku aja yang cuci " ucap Haidar begitu melihat Arum dengan seprei yang ada di tangannya.
" Ja-jangan, aku aja " balas Arum tanpa melihat Haidar, dia malu.
Sudut bibir Haidar terangkat, lucu sekali istrinya ini " sayanggg, semalem seru ya"
" Jangannn di bahas!!!" Ngegas Arum menatapnya tajam
" ih kenapa? Bukannya semalem kamu keenak- aww Aw iya iya ampun ampun" jerit Haidar karena Arum mencubitnya
" Makannya jangan nyebelin!!!" Sewot Arum kemudian berjalan ke arah kamar mandi dengan susah payah.
" Sini aku bantu, kamu istirahat aja " cegat Haidar.
Lagi lagi Arum menolak " tapi ini darah aku "
" Gapapa sayang " Haidar merebut sepreinya dari tangan Arum.
TOK TOK TOK
Sebuah ketukan mengalihkan perhatian mereka.
" Biar aku yang buka " ujar haidar sembari berjalan ke arah pintu, sebelum itu ia sempat menyimpan seprei terlebih dahulu.
Begitu pintu dibuka, munculah Salma dari balik pintu " saat nya makan pagi " ucapnya.
" Iya mah nanti kita kebawah " ujar Haidar.
Bukannya pergi, Salma malah menatap Haidar curiga " kamu keramas di pagi yang dingin ini? " Tanya Salma aneh " liat mamah aja pake baju tebal saking dinginnya "
Haidar yang mendapat pertanyaan dari mamahnya hanya bisa mengusap tengkuknya " eummm iya mah, enak aja gitu di keramas pagi pagi hehe " alibinya
Mata Salma menyipit lagi " itu leher kamu kenapa merah merah? " Tanya Salma lagi
Haidar spontan memegang lehernya " nyamukkk mahh, iya banyak nyamuk disini haha " tawanya garing.
Salma menganggukkan kepalanya meskipun tidak puas dengan jawaban yang diberikan anaknya " menantu mamah mana?" Salma mencoba menerobos kedalam namun di tahan Haidar
" Jangan mahh, dia lagi di kamar mandi " cegat Haidar cepat
Salma makin curiga pada anaknya ini, jiwa keponya semakin meronta ronta " minggir gak!" Ucap Salma tajam
" Tapi mah...eh mahh" Haidar tak bisa lagi mencegat mamahnya yang sudah nerobos kaya banteng itu eh maksudnya kaya bidadari yang menjelma menjadi hewan bertanduk yang sudah masuk begitu aja.
" Menantuuuuuu" teriakan Salma berhasil mengagetkan Arum yang masih terdiam di pintu kamar mandi dengan tangan yang memegang seprei dan tanpa menggunakan hijabnya.
" Iya mah?" Tanya Arum bingung.
Salma melihat ke adaan menantunya yang tak jauh berbeda dengan anaknya, parahnya lagi tanda merahnya lebih banyak dibanding anaknya " kemari " suruh Salma, ia sengaja tidak mendekat langsung.
Arum mendekat perlahan dengan susah payah menahan sakit " i-iya mah?" Tanya Arum lagi.
Senyum Salma mengembang, dia sebenarnya sudah curiga dari awal dan akhirnya dugaannya benar. Hatinya sangatttt Senang tak terhingga " gapapa, mamah cuma mau pesan. Nanti kalau kalian turun buat makan pagi, jangan lupa pakaikan syal di leher suami kamu ya " pesan Salma sembari menahan tawa " hmm menantu mamah ganas juga ya " celetuknya dengan tawa yang mulai meledak.
Wajah Arum sudah memerah menahan malu, Haidar yang melihatnya dengan sigap menarik ibunya untuk keluar " mamahh ituuuu papah nyariin, udah ya bye " Haidar menutup pintunya dengan cepat membuat tawa Salma semakin meledak
Haidar menghela nafasnya lega, dia berbalik mendekati Arum yang masih menahan malunya " sayangg ..."
" Jangannn ngomong!!!!" Ketus arum lalu masuk kedalam kamar mandi
" Lahhhhh kok aku yang di marahin sihh sayang?"
" Bodo amat" jawab Arum di dalam kamar mandi
__ADS_1
Hufff untung sayang, ucap Haidar sembari mengusap dadanya tabah.
...****************...