
Hari ini Arum menjadi pendiam, hal itu membuat Haidar sangat yakin kalau istrinya itu mendengar percakapannya kemarin.
Haidar memandang istrinya yang baru selesai mandi dengan rambut yang masih basah
" Rum....bisa bantu aku buat belajar jalan?" Tanya Haidar, ia sengaja mencari-cari akal supaya istrinya itu tidak mengabaikannya.
Arum memandang Haidar ragu, kemudian dengan berat kakinya melangkah mendekati pria itu. Tangannya tersodor di depan haidar, bukannya menggapai tangan Arum, Haidar malah mengodok sakunya kemudian meletakkan uang di tangan Arum yang tersodor.
Alis Arum mengernyit, tak mengerti dengan jalan pikiran suaminya " aku bukan minta uang!! Mana tangannya cepet!" Kesal Arum
" Kirain minta uang " ucapnya santai, lalu tangannya menggapai tangan Arum yang menahannya saat ia berdiri. Diam-diam ia tersenyum kecil, ia lebih senang saat wanita itu kesal padanya di banding mengabaikan kehadirannya.
Dengan perlahan Arum menuntun Haidar untuk berjalan, sudah 10 menit mereka berlatih.
" Kamu berdiri disini " Arum memundurkan langkahnya tak terlalu jauh " kamu dari sana jalan kesini " ucap Arum yang langsung di turuti oleh Haidar.
Haidar mencoba berjalan dengan perlahan ke arah istrinya yang sudah menunggu dengan harap. Sebentar lagi untuk ia bisa menggapai tangan Arum dan-
HAP
ia berhasil. Arum bersorak senang, saking senangnya ia sampai memeluk Haidar tanpa sadar. Tentu saja pria itu mencari kesempatan dengan menahan pinggang Arum saat wanita itu tersadar dan akan melepaskan pelukannya.
Arum seketika gugup, ia menatap manik suaminya yang menatapnya dalam " lepasin " ucap Arum
" Maaf " lirih Haidar dengan mata sendunya.
Mata Arum mulai berkaca-kaca, ia jadi teringat kembali dengan ucapan Haidar kemarin" kenapa minta maaf?" Tanya Arum dengan suara bergetar.
" Kamu dengar semuanya kemarin kan? Maaf gak bilang sebelumnya"
Arum tersenyum miris " gak papa kok.... gapapa kalo emang kamu jadiin aku pelarianmu "
Haidar menggeleng-gelengkan kepalanya, bukan itu maksudnya " enggak! Aku gak jadiin kamu pelarian, aku sayang sama kamu Arum"
" Tapi cinta kamu buat Gita kan?" Tanya Arum skakmat
" Enggak lagi! Aku akan lupain Gita, kamu juga lupain reza " ucap Haidar.
Mata Arum melebar " kamu tau?"
" Aku tau kamu suka sama dia Arum, kita gak ada bedanya."
" Sekarang kita coba hilangin sama-sama ya " ucap Haidar
Arum menganggukan kepalanya " sekarang lepasin " ucap Arum pelan.
" Cium dulu " ujar Haidar dengan alis naik turun.
Arum membulatkan matanya " gak mau!" Ujar Arum dengan tangan menutup mulutnya.
CUP
Haidar mengecup kening Arum " masih sakit?" Tangannya mengelus kening Arum pelan.
__ADS_1
Arum menggelengkan kepalanya " maaf, aku gak maksud nyakitin kamu" ujar Haidar.
" Aku tau, makasih udah ngehentiin zela "
" Kamu sadar waktu itu?"
Arum terdiam sebentar " aku tau apa yang dilakuin zela tapi aku gak bisa mengendalikan tubuh aku saat di kuasai zela, dia yang ambil alih tubuh aku "
Haidar menganggukan kepalanya mengerti.
" Mau sampai kapan kayak gini?" Kesal arum, bukannya melepaskannya, Haidar malah mengeratkan tangannya pada pinggang Arum.
" Sampai kamu gak panggil aku Haidar lagi" ucap Haidar banyak maunya.
" Ck terus maunya apa?" Tanya Arum mulai ngegas.
" Terserah mau apa, mas? Honey? Cintaku? Atau sayang juga boleh "
Arum menatap Haidar horor, ia menghela nafasnya lalu mengumpulkan niatnya untuk memenuhi keinginan suaminya " mas " cicit Arum dengan wajah menunduk malu
Senyum Haidar mengembang, ia sangat suka melihat istrinya yang sedang malu-malu kucing " panggil sekali lagi sayang " bisik Haidar.
Bulu kuduknya berdiri mendengar bisikan Haidar, saking gelinya tangan Arum reflek mendorong kuat Haidar hingga pria itu tersungkur ke belakang.
Anjir demen banget dorong suami. Kaget haidar dalam hati
" Ihhhh haidarr jangan bisik-bisik kayak setannn tau!!" Kesal Arum mengusap-usap telinganya.
Arum menghela nafasnya lalu menghampiri suaminya yang terduduk di lantai " iya iya maaf mas gak sengaja "
Bibir Haidar berkedut menahan senyum, tapi ia mencoba menahannya.
" Mas maaf " ucap Arum lagi, ia menggoncang-goncangkan tangan haidar yang sedang memalingkan kepalanya. Sepertinya ia mempunyai ide supaya Haidar tidak ngambek lagi. Perlahan ia memajukan badannya berniat mencium pipi suaminya, namun Haidar malah menolehkan kepalanya hingga bibir mereka bertemu.
Bola mata Arum membelalak, dengan cepat ia menjauhkan wajahnya namun Haidar menahan tengkuknya lalu memperdalam ciumannya.
Arum mematung di tempat, jantungnya berdegup kencang. Ia memukul dada Haidar saat merasa nafasnya mulai menipis.
" Udah mulai berani curi star hmm?" Tanya Haidar jail.
Nafas Arum masih terengah-engah, wajahnya sudah memerah " a-aku mau cium pipi kamu bukan bibir!! Cari kesempatan ya kamu!!" Ngegas Arum
" Kapan lagi kan kamu nyosor duluan " ucap Haidar cengengesan.
" Jangan ngomong sama aku!!!" Ketus Arum kemudian ia pergi dari hadapan Haidar.
" Yah sayanggg kok ngambek sihh?? Yangg!!" Teriak Haidar namun tak di gubris sama sekali oleh istrinya.
Senyum di bibir Haidar terus mengembang " manis banget bibir istri gue " gumamnya sambil senyum-senyum gak jelas.
Berbeda dengan Arum yang sedari tadi menggerutu, mulutnya komat-kamit merutuki Haidar. Saat Arum kedapur, ia berpapasan dengan bi Inah yang sedang menyapu lantai.
" Eh non gak papa kan?" Tanya bi Inah
__ADS_1
Arum menghentikan langkahnya " iya gapapa kok bi " jawabnya dengan senyum di bibirnya.
" Non serius? Kok bibirnya bengkak sama merah? Ada hewan yang gigit ya?" Tanya bi Inah polos.
Pertanyaan bi Inah menghilangkan senyum di bibir Arum, di ganti dengan bibirnya yang cemberut, ia kembali kesal dengan Haidar.
" I-iya bi, tadi ada yang gigit aku jadi bengkak hehe. Boleh minta tolong Bi?"
" Boleh non"
" Tolong beli obat pembasmi Hewan bi!! Biar gak ada yang berani gigit aku sembarangan lagi!" Kesal Arum sengaja mengeraskan suaranya, ia tau suaminya sedang melihat mereka.
Bi Inah sampai terperanjat mendengar kekesalan Arum " hehe maaf bi emosi " ucap Arum kemudian ia pergi mengambil air minum untuk meredakan kekesalannya.
Sedangkan Haidar, ia sedang tertawa terpingkal-pingkal melihat kekesalan istrinya.
Bi Inah yang melihat kedua majikannya yang aneh hanya bisa mengerutkan alisnya bingung, ia harus segera lapor pada Salma. Ya, Salma sengaja menyuruh bi Inah untuk melapor apapun yang mereka lakukan.
Bi inah menjauh dari jangkauan majikannya untuk menelfon Salma, bisa gawat kalo ia ketahuan.
" Halo?" Terdengar suara dari sebrang sana
" Halo nyonya saya mau lapor "
" Bagus. Ada apa?" Tanya Salma tidak sabaran.
" Saya mau lapor kalo non arum di gigit hewan sampai bibirnya bengkak dan merah"
" Hah bagaimana bisa?? Haidar gimana?"
" Tuan tidak papa, tadi dia malah menertawakan non arum "
"APAA??! Jangan-jangan anak itu tidak melindungi istrinya, Saya kesana sekarang" suara di sebrang sana terputus.
......................
" Sayang, ayolahhh maafin aku. Lagian gak bengkak lagi kan "
" Tapikan aku jadi malu sama bi Inah!" Kesal Arum
Haidar tertawa mendengar keluhan istrinya.
" Jangan ketawa " ngegas Arum
" Bi Inah gak akan ngerti, apalagi kamu udah bilang karena hewan yang gigit kan tadi " ucap Haidar dengan tampang menyebalkannya.
" Gak ada masalah lagi kan??" Ucap Haidar santai.
" HAIDARRRR!!!" Teriak Salma dari arah pintu.
Mampus! Apalagi ini?. Jerit Haidar dalam hati.
...****************...
__ADS_1