
Cahaya terang menyilaukan seakan menarik paksa tubuh Haidar masuk kedalamnya, tubuhnya seperti melayang mengikuti tarikan cahaya itu lalu kemudian gelap menghampirinya.
BLAM
Kelopak mata milik Haidar terbuka menampakan mata hitam tajamnya, retinanya masih menyesuaikan cahaya disekitarnya.
" Gue dimana?" Gumamnya, kamar seseorang. Tempat yang pertama kali ia lihat saat membuka matanya tapi dia tidak mengenal tempat ini.
Kepalanya menoleh ke arah samping, betapa terkejutnya ketika melihat seorang gadis tengah tertidur di sampingnya " astaghfirullah!! Gue gak macem-macemin anak orang kan ini, kok gue tidur disini" paniknya sembari menjauh.
" Tunggu-tunggu....kok gue ngerasa familiar sama muka gadis ini" Haidar melihat wajah gadis itu secara seksama" lah dia kan Arum istri gue " ucapnya agak lega
" Tapi kok mukanya lebih muda dari sebelumnya ya" anehnya.
Haidar mendekat untuk menyentuh muka Arum, namun..
BLUS..... Dia tidak bisa menyentuhnya.
Haidar mematung di tempat, kenapa tangannya tembus? Dia mencobanya sekali lagi namun hasilnya tetap sama.
" A-apa gue udah meninggal karena kecelakaan itu?" Lirihnya
" ARUMM!!!" sebuah teriakan tiba-tiba mengagetkan Haidar bertepatan dengan munculnya seorang wanita paruh baya dengan ember kecil ditangannya, tunggu...ember buat apa?
BYURRR
Wanita itu menumpahkan ember yang berisi air ke kepala Arum, sontak membuat Haidar membelalakkan matanya. Sedangkan Arum tersentak kaget akibat air dingin yang menerpa wajahnya.
" Bagus!! Enak-enakan tidur, lihat tuh jam berapa? Cepat siapkan makanan!!" Haidar melihat jam dinding yang menunjukan pukul 5 pagi tapi wanita ini semarah itu pada Arum.
" Ma-maaf bu, aku kecapean jadi telat bangun" lirih Arum
" ibu?" bingung haidar
" Halah jangan banyak alasan, cepatt masak!"
" Iya bu, aku solat subuh dulu"
" Cepetan!!" Ujarnya lalu pergi dari kamar Arum.
Arum melihat bajunya yang ikutan basah kemudian dia beranjak untuk menunaikan kewajibannya.
" Rumm" panggil Haidar namun tak terdengar oleh gadis itu
Haidar mengikuti langkah arum ke kamar mandi " rum kamu gak liat aku? Rum jawab" tidak ada sahutan sama sekali, gadis itu hendak membuka bajunya yang basah membuat Haidar kelimpungan.
" Eh eh mu apa tuh, keluar dar keluar!! Pintu mana pintu?" Panik Haidar mendadak bego
__ADS_1
Dia pun akhirnya hanya memutar tubuhnya membelakangi Arum " ekhemm gue ngintip dosa gak ya? Dia kan istri gue" ujarnya " enggak Haidar Lo gak boleh kaya pencuri" tegasnya.
...****************...
Setelah menunaikan kewajibannya, Arum segera turun kebawah untuk menyiapkan makanan. Jangan lupakan dengan Haidar yang selalu mengikuti kemanapun Arum pergi.
" Masak apa ya?" Gumam Arum
"Nasi goreng aja kali ya" ucapnya sembari menyiapkan bahan-bahannya. Haidar hanya menyimak saja sambil duduk di atas meja.
PRANGGG
suara barang pecah mengalihkan perhatian mereka berdua.
" Diammm saya bilanggg!!" Bentak seorang pria paruh baya
" Aku gak akan tinggal diam kalo kamu selingkuh mas!"
" Urus aja urusan kamu! Jangan urus urusan saya!"
" Aku istri kamu mas!!"
" Istri? Saya nikahin kamu karena kesalahan yang sudah terlanjur saya buat, jadi urus saja anak kamu itu"
" Dia juga anak kamu!!"
" Anak itu cuma kesalahan bagi saya" ucap pria itu lalu pergi ke kamarnya.
" Ibu " cicit Arum menghampiri ibunya.
" APA??!! Jangan panggil saya dengan sebutan itu!! Sampai kapanpun saya tidak akan anggap kamu anak saya, hadirnya kamu buat hidup saya hancur!!" Bentak ibunya Arum kemudian pergi meninggalkan Arum yang sudah menangis.
Haidar mematung mendengar kenyataan di hadapannya, jadi Arum bukan anak kandungnya bunda umayyah, tapi dia adalah anaknya wanita tadi. Ingin sekali dia memeluk tubuh ringkih di hadapannya, namun tidak bisa. Haidar hanya bisa melihat kesedihan dari seorang anak yang tidak diinginkan kehadirannya.
Tidak ingin larut dalam kesedihan, Arum pun menyelesaikan pekerjaannya lalu beranjak ke kamar untuk berganti baju dengan seragam sekolahnya.
" Arum masih SMA?" Gumam Haidar " jadi gue kembali ke masa lalu istri gue sendiri?"
Saat akan berangkat, Arum melihat papahnya sedang duduk membaca koran " Pah aku pamit sekolah dulu ya" pamit Arum dengan tangan yang terulur namun di hiraukan olehnya. Arum tersenyum miris lalu menarik kembali tangan yang berniat untuk menyalami papahnya itu " assalamu'alaikum" ucapnya
" Wa'alaikumussalam" bukan. Bukan papahnya yang jawab melainkan Haidar.
Dia menatap pria itu dengan tatapan tajamnya, kalau saja tidak tembus dia sudah menghajar pria itu.
Haidar mengikuti Arum yang berjalan menyusuri jalanan untuk pergi ke kesekolah " rum kenapa jalan kan ada taksi?" Tanya Haidar " kamu juga belum sarapan, eh tunggu...kamu juga kenapa gak pake hijabnya" dia menghela nafasnya karena suaranya tidak terdengar oleh Arum
" Arum?" Panggil seseorang yang berhenti dengan motornya
__ADS_1
" eh Kak Juna" ucap Arum pada kakak seniornya itu
" Kamu bisa telat kalo jalan, ayok naik "
" Eh gak usah kak makasih "
" Kamu mau telat? Bentar lagi bel loh" Haidar menatap sinis cowok yang bernama Juna itu
" Orang gak mau jangan di paksa!! " Sinis Haidar
" Hmm tapi kak-"
" Udah ayok " ujarnya dengan tangan menarik pergelangan tangan Arum sontak membuat Haidar melotot.
" Hehhhh main pegang aja!! Dia istri orang woyy!! " Kesalnya dengan tangan terangkat untuk melepaskan cekalan Juna namun tidak bisa.
Dengan terpaksa Arum naik ke motor Juna diikuti oleh haidar yang nangkring di ujung jok motor yang tersisa sedikit " bagusan juga motor besar gue, kalah cuma Vespa jelek ginimah " gerutunya.
Di perjalanan, Haidar terus saja berdumel " dih dih sengaja di gas gasin sama rem ngedadak biar apa coba? Biar istri gue peluk gitu?cih "
" Udah nyampe" ujar Juna
Haidar sudah turun duluan" dia juga tau kali " ucap Haidar memutar bola matanya jengah
" Makasih ya kak atas tumpangannya " ucap Arum dengan senyum manis di bibirnya.
" Dih senyum segala " kesal Haidar
" Iya sama-sama, kamu belajar yang bener ya" ucap Juna dengan tangan mengacak rambut Arum pelan
" GAK USAH PEGANG-PEGANG WOY " ingin sekali Haidar pelintir itu tangan.
" Iya kakak juga, aku permisi ya" pamitnya lalu pergi dari hadapan juna.
Arum berjalan menuju kelas dengan melewati lapangan untuk mempersingkat waktu, terlalu jauh jika harus menyusuri koridor. ketika berjalan, dari kejauhan terlihat sebuah bola sepak mengarah pada Arum dengan kecepatan penuh. Dengan cepat Haidar berjalan kehadapan Arum untuk menghalau bola namun usahanya sia-sia karena bola itu menembus tubuhnya.
BUGH
Bola itu menimpa keras kepala Arum " awwww " ringis Arum memegang kepalanya.
Haidar melihat Arum yang sedang menunduk, apa kepribadian kedua gadis itu akan muncul? Bahaya kalau itu terjadi.
" Eh sorry " ucap seseorang yang melemparkan bola tadi
Arum mengangkat kepalanya menatap orang itu, Haidar sampai was-was menunggu respon yang akan Arum berikan.
TBC
__ADS_1
...****************...
...Tunggu kelanjutannya ya 🤗...