
" iya gak papa " ucap Arum singkat lalu melanjutkan langkahnya.
Respon yang Arum berikan membuat Haidar bingung, gadis itu tidak berubah? Bagaimana bisa? apa kepribadian gandanya bukan bawaan lahir tapi karena alasan tertentu? Dia jadi makin penasaran dengan kehidupan Arum yang sebenarnya.
Sesampainya di kelas, Arum segera duduk di bangkunya. Disana sudah ada teman sebangkunya sekaligus sahabatnya.
" Tumben lo telat rum?" Tanya Riri
" gue telat bangun "
" Oh pantesan "
" Eh lo udah siapin buat nanti ulangan?" Tanya Arum
" Udah dongg gue kan harus dapat nilai bagus, kalau enggak ortu gue bisa marah"
Arum menganggukkan kepalanya mengerti " semangat ya " ucapnya dengan senyum manisnya membuat Haidar yang menyimak dari tadi juga ikutan mengembangkan senyumannya.
" Lo juga " balas Riri
Mereka mengikuti pembelajaran dengan seksama, tak jauh berbeda dengan orang yang sedang tidur selonjoran dibangku gadis itu sembari mengamati wajah istrinya dengan seksama " istri gue imut juga waktu SMA" gumamnya sambil senyum-senyum gak jelas.
KRINGGG. Bel istirahat berbunyi
" Ke kantin yuk" ajak Riri
" Eummm enggak deh ri, gue mau ke perpus soalnya"
" Yah perpus terus, padahal lo kan udah pintar rum" Arum tersenyum kecil, bukan masalah pintar atau enggaknya tapi arum harus lebih berjuang dari pada teman-temannya karena dia harus mempertahankan nilainya supaya beasiswanya tidak di cabut.
" Lo tahu kan gue bersekolah disini karena beasiswa"
Riri menghela nafasnya " yaudah deh kalo gitu gue duluan ya"pamit Riri yang di angguki oleh Arum.
Setelah Riri pergi, Arum segera berjalan menuju perpustakaan. Sepanjang perjalanan dia selalu mendapat sapaan dari orang yang lewat, dapat Haidar simpulkan bahwa Arum merupakan gadis yang ceria serta ramah sehingga orang lain tak segan-segan menyapanya.
Sampailah mereka di perpustakaan kemudian mereka mendudukkan diri di tempat paling pojok, tempat kesukaan Arum. Lama bergulat dengan bukunya, Arum tiba-tiba meringis memegangi perutnya.
" Rumm kamu gapapa? Muka kamu pucat " panik Haidar namun hasilnya tetap sama arum tidak bisa mendengar suaranya.
" Ini gak ada yang sadar apa anak orang lagi kesakitan woy " teriak Haidar pada orang-orang disana
" ARUMM" tiba-tiba sebuah suara menyita perhatian Haidar bersamaan dengan munculnya sosok Juna
" Arum kamu kenapa?" Tanya Juna memegang kedua pipi gadis itu
Haidar mengepalkan tangannya menahan kekesalan dalam hatinya " kali ini gue izinin Lo pegang istri gue karena dia lagi kesakitan " geram Haidar sedikit tidak rela
" Kamu udah makan?" Tanya Juna yang dibalas gelengan oleh Arum
__ADS_1
" Kita ke UKS, nanti aku bawain makanannya"
" Gak usah kak, aku baik baik aja kok" lirihnya dengan suara pelan
" Enggak, muka kamu pucat " dengan cepat Juna mengangkat tubuh ringan arum ala bridal style sontak membuat kedua mata Arum dan Haidar melebar.
" Eh gak usah gendong aku kak, aku masih kuat " mohon Arum dalam gendongannya.
" Jangan bantah " ujar Juna dengan nada tegas membuat Arum tak bisa berkutik
Juna membawa Arum ke UKS meninggalkan seseorang yang mati-matian menahan amarahnya " cari kesempatan dalam kesempitan tuh anak " geramnya Kemudian mengikuti langkah mereka yang tengah jadi sorotan saat ini, bagaimana tidak menjadi sorotan? Seorang Juna yang jadi incaran banyak cewek sedang menggendong seorang gadis di hadapan semua orang.
" Kamu tunggu disini, aku beli makanan untuk kamu dulu" ucap Juna setelah membaringkan Arum di tempat tidur UKS.
" eh gak us-" ucapan Arum terpotong karena sebuah jari mendarat di bibirnya
" Jangan ngomong terus kamu lagi sakit" ucapnya kemudian berlalu dari sana melewati tubuh Haidar yang sedari tadi menatapnya tajam
" Gue patahin juga tu jari " kesalnya dengan tangan meninju-ninju udara.
" kak Juna baik banget sih" ucap Arum pelan dengan sedikit senyum di bibirnya.
" Dihh cuma gitu mah suami Lo juga bisa!! gue beli sekalian sama kantin-kantinnya kalo Lo mau !!" Sewot Haidar , Sejak kapan dia jadi banyak omong begini.
Tak lama kemudian Juna kembali dengan makanan di tangannya " nih makan dulu " ucapnya sembari menyodorkan makanannya pada arum
" Gak perlu, ganti sama waktu kamu aja "
" Maksudnya?" Bingung Arum
" Pulang sekolah temenin beli hadiah buat adik aku ya?"
" Cih ada maunya, pake aku kamu segala lagi " decih Haidar
Arum terdiam sebentar, sebenarnya dia ingin menolak karena takut ibunya marah kalo pulang telat tapi dia juga gak enak hati dengan cowok yang selalu menolongnya ini " hmmm boleh tapi aku gak bisa lama-lama"
Senyuman Juna terbit " iya gak lama kok"
" hmmm sekarang mending Kak Juna masuk ke kelas dulu, soalnya ini udah jam masuk pelajaran " ucap Arum halus supaya tidak menyinggung juna.
" Kamu gak papa sendiri disini?"
" Ada gue " ucap Haidar nyambung terus
" Gapapa kok, aku juga mau tidur"
" Yaudah kamu istirahat ya, aku ke kelas dulu" pamit Juna sembari mengelus lembut kepala Arum.
" Hus hus sana pergi " usir Haidar
__ADS_1
Baru sebentar Arum menutup matanya, tiba-tiba seseorang membuka pintu dengan kencang lalu menarik rambut Arum yang sedang tertidur " awwww sakit " jerit Arum
" Woyy nenek lampir dateng-dateng cari ribut!!" kesal Haidar namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
" Seneng Lo di gendong sama Juna hah? Jangan kegatelan Lo yah, dia milik gue!" Bentak Mery
" Ampun kak, aku gak bermaksud rebut kak Juna"
" Halah bacot " mery menghempaskan rambut Arum kasar membuat kepala gadis itu terbentur meja.
Arum mengepalkan tangannya, dia ingin maju melawan namun sisi lain dalam dirinya menolak dan menghentikan niatnya seolah olah raga dan jiwanya bertentangan, hal itu tak luput dari penglihatan Haidar.
Mery mendekat untuk menampar Arum, namun tangannya mengambang di udara karena sebuah tangan mencekal erat pergelangan tangannya.
" Hentikan" teriak Juna marah
" Apa yang Lo lakukan mer "
" A-aku gak suka liat kamu dekat sama dia" ucap mery gugup
" Emang Lo siapa gue hah? Lo cuma sahabat gue mer gak lebih "
" Tapi gue cinta sama Lo Juna" ucap mery dengan mata berkaca-kaca.
" Gue hanya anggap Lo sahabat gue, gak lebih. Sekarang Lo pergi dari sini "
" uuuu so sad " ucap Haidar prihatin
Mery mengepalkan tangannya, dia menatap Arum tajam lalu pergi dari sana dengan langkah di hentakan.
" Kamu gak papa?" Tanya Juna pada Arum
" Kakak sebaiknya jangan terlalu dekat sama Arum"
" Kenapa? Karena Mery? Dia cuma sahabat aku"
" Tapi tetep aja dia suka sama kakak, aku jadi gak enak hati kalo kak Juna terlalu dekat sama aku"
" Kamu jangan perduliin dia ya sekarang kamu tidur lagi, kesehatan kamu lebih penting sekarang " ucap Juna.
Arum menghela napasnya sebelum dia menuruti perintah Juna.
" Caper " komentar Haidar dengan tangan menopang dagu.
TBC
...****************...
...Love sekebon buat yang udah baca💙🤗...
__ADS_1