
" selamat pagi pak " sapa pegawainya.
" Pagi " jawab Haidar singkat.
" OMG akhirnya bos ganteng masuk juga!!" Bisik para wanita
" Itu tangannya kenapa?"
" Lo gak tau? Pak Haidar kan kecelakaan"
" Serius Lo??"
" Iya "
"Lama gak liat bos kita kok makin ganteng ya?"
" Heh itu di sampingnya ada istrinya "
" Ck Potek hati gue "
Biasanya bisikan-bisikan yang terdengar selalu membuat Haidar kesal dan risih, tapi sekarang ia merasa senang karena mau melihat bagaimana reaksi yang akan diberikan istrinya. Ia menolehkan kepalanya ke samping menatap Arum yang berjalan di sampingnya dengan ekspresi biasa saja, sontak membuat rahang Haidar menganga. Kenapa istrinya ini biasa - biasa saja?
" Sayang kamu gak papa?" Tanya Haidar setelah mereka sampai di ruangan kerja pribadi pria itu.
" Gak papa " jawab Arum singkat. Tak tau saja di dalam hatinya ia sedang berdumel sedari tadi.
" Oh yaudah aku cek pekerjaanku dulu ya" Haidar melangkah menuju kursi mejanya.
Arum tak menjawab, ia sedang kesal sekarang. Ia melihat Haidar yang sedari tadi tersenyum.
" Dih pasti kesenengan di puji sama cewek cewek! Mana centil-centil lagi, gak tau apa dia sama istrinya! " Dumel Arum dalam hati.
TOK TOK
suara ketukan pintu terdengar di barengi dengan suara seseorang yang meminta izin untuk masuk.
" Permisi pak, boleh saya masuk?" Tanya dela- sekretarisnya Haidar.
"Masuk Del " jawab Haidar.
Wanita dengan baju ketatnya masuk kedalam ruangan lalu mendekat ke arah Haidar.
" Ada apa?" Tanya Haidar singkat.
" Ini saya mau menyerahkan berkas yang harus bapak tanda tangani"
Arum memantau mereka dari sofa, dapat ia lihat wanita yang bernama dela itu sengaja mencondongkan tubuhnya saat menyerahkan berkas kepada suaminya.
Haidar memeriksa berkasnya sebelum menandatangani.
" Maaf pak sebelumnya, pak Haidar benar-benar sudah sembuh?" Tanya dela-
" Seperti yang kamu lihat " jawab Haidar tanpa melihat wanita itu.
Dela menghela nafasnya, bosnya ini paling sulit di taklukan.
" Saya sudah menandatangani semuanya, sekarang kamu bisa keluar dari ruangan saya " ucap Haidar sembari menyerahkan berkasnya.
Dela mengambil berkas yang di berikan bosnya.
__ADS_1
" Oh dan satu lagi, kosongkan jadwal saya nanti siang "
" Baik pak, saya permisi " pamitnya kemudian keluar dari ruangan.
Pandangan Haidar beralih pada istrinya yang keliatan murung, ia beranjak dari duduknya untuk menghampiri wanita itu.
" Kenapa?" Tanya Haidar setelah mendudukan diri di samping Arum.
" Gapapa" jawab Arum tanpa melihat haidar.
" kamu.....cemburu ya?" Ledek Haidar.
Mata Arum melotot mendengar ledekan suaminya " siapa yang cemburu??!!" Ngegas arum
Haidar terkekeh pelan, tangannya mencubit hidung Arum gemas " lucu banget sih kalo lagi cemburu"
" Ihh apasih! Kamu mending kerja lagi sana! Jangan salah fokus sama CEWEK" Arum sengaja menekankan di akhir kalimatnya.
Senyum Haidar semakin mengembang " dia cuma sekretaris aku " jelasnya.
" Siapa?" Tanya arum
" Dela"
" Yanga nanya!!!" Sarkasnya.
Anjir, paling pinter bikin suami malu. Jerit Haidar dalam hati.
" Yaudahh aku lanjut kerja nya biar cepet pulang " Haidar kembali menghampiri mejanya.
Pria itu di sibukkan kembali dengan berkas yang menumpuk akibat ia tidak masuk kerja lumayan lama, sedangkan Arum, ia memilih untuk memainkan handphonenya untuk menghilangkan rasa bosannya.
Sebuah ketukan di barengi dengan munculnya sosok pria berparas manis yang berjalan dengan santai lalu duduk di hadapan Haidar tanpa disuruh.
" Selamat pagi bapak Haidar yang terhormat " celetuk pria itu
Haidar menatap malas pria di depannya ini " ada apa?"
" Gue cuma mau liat sahabat tercinta gue masuk kerja lagi"
" Cih, waktu gue sakit aja Lo gak nongol-nongol " decih Haidar.
" Lo tau lah jadwal gue sepadat apa, biasa orang sibuk " ucapnya santai.
Haidar memutar bola matanya jengah, kenapa juga ia punya sahabat macam ni orang. Hufff mungkin ia lagi khilaf waktu itu.
" Gue kesini mau..." Ucapan pria itu menggantung saat matanya menemukan seseorang di ruangan ini selain dirinya dan Haidar tentunya.
" Dia Arum istri Lo?"
" Hmm" balas haidar
Arum yang namanya di sebut mendongakkan kepalanya, ia melihat pria itu berjalan ke arahnya lalu duduk di sofa yang berada di hadapannya.
" Hai aku Dito, sahabat Haidar" dito menjulurkan tangannya di hadapan Arum.
" Arum " balasnya sembari menyatukan kedua tangannya di depan dada. bukannya sombong, tapi bunda Umayyah mengajarkan kepadanya tentang batasan seorang wanita dengan lawan jenisnya, apalagi jika sudah bersuami.
Haidar yang melihatnya tersenyum kecil. Dito tidak tersinggung sama sekali, justru ia lega dengan respon Arum. Itu berarti sahabatnya tidak salah memilih menikahi wanita ini.
__ADS_1
" Salam kenal, maaf gak sempat datang ke pernikahan kalian"
" Iya gak papa" balas arum
Haidar mencoba fokus pada kerjaannya kembali, namun fokusnya terpecah saat mendengar tawa yang keluar dari mulut istrinya. Ia melirik Arum dan Dito yang sedang mengobrol dengan asik, apa yang sahabatnya ucapkan sampai bisa membuat istrinya tertawa. Senyuman manis Arum berhasil membuat hati Haidar panas.
" Ekehmmm jangansenyum" sindir Haidar dalam satu tarikan nafas.
Mereka tidak menghiraukan keberadaan Haidar, pria itu mencoba mencari-cari perhatian mereka dengan cara menggebrak meja, berdehem, menggeser kursi sampai berdecit, sampai menjatuhkan berkas pekerjaannya namun tak juga berhasil mengalihkan perhatian mereka.
Hati Haidar semakin panas, ia berjalan menghampiri mereka lalu duduk di samping istrinya seraya merangkul pundaknya hingga wanita itu menoleh.
" Loh pekerjaannya udah selesai?" Tanya arum, setahunya pekerjaan Haidar sangat menumpuk tapi kenapa cepat sekali.
" Gak fokus " ketus Haidar dengan mata menatap tajam Dito
Orang yang di lihatnya malah bersandar dengan santainya, ia cukup tau dengan maksud tatapan sahabatnya itu.
" Jadi kamu sukanya yang manis-manis?" Tanya Dito sengaja memanasi Haidar.
" Suka banget" jawab Arum antusias.
Haidar semakin menatap tajam keduanya, ngapain mereka sampai membahas hal pribadi gitu?
" Oh iya, besok di rumahku ada ngadain pesta ulang tahun pernikahan orang tuaku. Kamu datang ya?" Pinta Dito
" Gak!" Seobot Haidar.
Arum memelotot kan matanya, ia menyenggol suaminya " datang kok" ucap Arum kemudian.
Kesal dengan respon Arum, Haidar berdiri dengan tiba-tiba lalu tanpa banyak bicara ia pergi dari ruangannya. Arum yang melihat sikap suaminya yang aneh hanya mengernyitkan dahinya bingung.
" Susulin " perintah Dito Sontak membuat kepala Arum menoleh padanya.
" Susulin, dia lagi cemburu " ucap Dito
Mata Arum melebar, sejak kapan suaminya cemburu? Kenapa ia tidak sadar.
Dengan cepat ia beranjak untuk menyusul suaminya yang lagi ngambek.
Setelah keluar dari ruangan, Arum celingukan mencari keberadaan Haidar. Saat matanya menangkap sosok yang di cari, ia cepat-cepat menyusul suaminya itu.
Ketika jaraknya sudah dekat dengan suaminya, langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat dela dengan sengaja menyenggol Haidar sampai teh yang di bawa wanita itu tumpah di bagian dada pria itu.
" Eh maaf pak saya tidak sengaja " dela mengusap-usap dada Haidar dengan jarak yang dekat seolah-olah berniat membersihkan nodanya. Wanita itu sengaja mengusap dengan perlahan memberikan kesan sensualnya, sontak membuat Arum menggeram marah.
Dengan cepat Arum menghampiri mereka lalu dengan sengaja menyenggol dela hingga wanita itu sedikit tersentak " kamu gak papa kan sayang??" Tanya Arum sengaja menekankan kata sayang di akhir kalimatnya supaya wanita kegatelan itu mendengarnya.
Haidar membulatkan matanya, apa katanya tadi? Sayang? Demi apapun Haidar ingin bersorak senang sambil loncat-loncat saat ini. Pertama kali istrinya memanggilnya sayang memberikan kesan hangat di hati Haidar
Arum mengusap-usap bekas usapan dela tadi " aku kan udah bilang hati-hati, baju kamu jadi kotor kan, aku bantu gantiin bajunya ya " tanya Arum yang langsung mendapat anggukan kaku dari Haidar.
Tubuh Arum memutar menghadap dela " lain kali jalan itu hati-hati, kalo suami saya kenapa-napa kamu mau tanggung jawab?!! " Ucap Arum dingin.
" Oh dan satu lagi...... Jangan pernah sentuh suami saya lagi!!" Ketus Arum kemudian ia menarik tangan Haidar ke ruangan kerja pria itu.
Dela menatap sinis kepergian mereka, tangannya mengepal erat menahan kekesalannya. Ia melihat sekeliling yang sedang memandangnya rendah " cih pengganggu " gumam dela menatap punggung Arum yang mulai menjauh.
...****************...
__ADS_1