
Seminggu sudah Haidar di rawat di rumah sakit dan kini pria itu sedang merengek kepada ibunya untuk di pulangkan sekarang, memang benar anak laki-laki akan menjadi seperti anak kecil saat berhadapan dengan ibunya.
" Ayolah mah! Haidar bosen disini teruss, lagian aku udah sembuh" pria itu terus memohon pada ibunya untuk pulang. Sedangkan arum, ia hanya diam menyimak suaminya merengek seperti anak kecil yang menginginkan mainan.
" Sembuh apanya?!! Kaki kamu aja belum kuat jalan so soan mau pulang" ketus Salma
" Lagian apa bedanya sih mah? Dirumah juga bisa kan? Haidar punya istri yang bisa jaga Haidar, yakan sayang?" Ucap Haidar menatap Arum dengan tatapan memelas berharap istrinya dapat membantu merayu ibunya.
Arum menghela nafasnya,kemudian ia menatap mertuanya " Haidar bener mah, biar Arum yang jaga dia di rumah" ucapnya membela Haidar.
Salma menatap sebal Haidar yang memasang wajah kemenangannya " ck yaudah kalo gitu mamah urus kepulangan kamu " finalnya.
" Biar papah aja yang urus " ujar Nathan lalu pergi dari sana.
" Kalian mau pulang kerumah mana?"
" Rumah Haidar dong mahh, masa punya rumah sendiri gak di pake, mana mahal lagi " celetuk haidar
Salma memutarkan bola matanya, menurutnya setiap kata yang keluar dari mulut anaknya selalu menyebalkan baginya " dih sombong jangan di pelihara" sarkas Salma
" Bukan sombong mah tapi sekilas info " ucap Haidar membuat Salma mendengus.
Salma beralih menatap menantunya " sayang kamu yang sabar ya ngadepin anak pungut mamah, soalnya orangnya nyebelin "
Arum yang mendengarnya hanya tertawa
" Astaghfirullah mamah ini berdosa banget bilang aku anak pungut, pas buatnya aja mamah enak-en-......awww" pekiknya saat dua cubitan sekaligus mendarat di pinggangnya.
" Bibirmu mau aku lem?!!" Kesal Arum, kenapa suaminya ini sangat frontal sekali.
" Gak mau, maunya di ciu-...aww" pekik Haidar karena mendapat cubitan lagi dari mamah dan istrinya.
" Kalian tega banget kdrt pasien! " Ucap Haidar dengan bibir cemberut.
" Salahin aja tuh mulutmu yang gak ada filternya" ketus Salma
" Suratnya udah di urus, kamu bisa pulang sekarang" ucap Nathan memotong perdebatan mereka.
Senyum Haidar mengembang, dengan semangatnya dia bersorak layaknya anak kecil. Bahkan kini dia sudah duduk tenang di kursi roda menunggu istrinya selesai berkemas.
..........
" Ini rumahnya?" Tanya Arum setelah mereka sampai di sebuah rumah minimalis yang memiliki 2 lantai, tidak terlalu besar namun cukup mewah.
__ADS_1
" Iya, kamu gak suka ya?"
Dengan cepat Arum menggelengkan kepalanya " suka!!!! Suka banget" ucap Arum dengan antusias.
Haidar tersenyum senang " syukurlah kalo suka, ayu masuk"
" Mamah sama papah cuma bisa nganterin kamu sampai sini ya, kita ada urusan penting" ucap Salma.
" Iya gapapa mah, Haidar biar Arum yang urus"
" Yaudah kita pamit ya, assalamu'alaikum"
" Wa'alaikumussalam " ucap haidar dan Arum bersamaan.
Mereka berdua kemudian masuk kedalam rumah, berkali kali Arum berdecak kagum melihat interior rumah yang menurutnya sangat bagus.
" Kamar kita di atas, tapi sementara di bawah dulu gapapa kan? Nanti kalo aku udah bisa jalan kita pindah ke atas "
" Iya gapapa lagian sama aja kan mau dimanapun juga " ucap Arum, ini yang Haidar sukai dari wanita itu, mudah di atur dan tidak banyak tingkah.
" Aku cari pembantu buat bersih-bersih di rumah ya?"
Arum menggeleng " gak usahh, aku masih bisa urus sendiri"
Helaan nafas keluar dari mulut Arum " yaudahh terserah kamu" pasrahnya.
Arum mendorong kursi roda Haidar menuju kamar bawah, ia membantu memindahkan Haidar ke atas kasur
" aku mau mandi dulu ya " ucap Arum, lalu dia pergi ke kamar mandi setelah mendapat anggukan dari suaminya.
Berselang lama Arum keluar dari kamar mandi dengan baju lengkapnya, harum semerbak sabun strawberry milik Arum tercium jelas di hidung Haidar.
" Aku juga mau mandi " celetuk haidar
Arum menatap suaminya dengan ragu " aku lapin aja ya?" Tawar Arum yang langsung mendapat anggukan dari Haidar.
Kaki wanita itu beranjak untuk mengambil air serta kain untuk menyeka tubuh suaminya, tak butuh waktu lama Arum kembali dengan ember berisi air di tangannya. Ia duduk di hadapan Haidar lalu membuka kemeja pria itu perlahan supaya tidak mengenai tangannya yang terluka.
Kain yang sudah basah dengan air ia usapkan pada tangan kiri suaminya, berlanjut pada dada dan perutnya. Arum tak berani melihat mata Haidar, kepalanya menunduk sampai tak sadar posisi kepala dengan dagu pria itu lumayan dekat hingga saat dia mendongak tanpa sengaja kepalanya terbentur dengan dagu pria itu cukup keras.
" Awww " ringis keduanya berbarengan.
" Kamu gak papa?" Tanya Haidar khawatir, ia mengelus-elus kepala Arum pelan.
__ADS_1
Tangan Arum memegang tangan Haidar yang ada di kepalanya dengan kepala mendongak menatap manik pria itu.
DEG
Gawat! Dapat Haidar lihat tatapan yang berbeda dari istrinya, dan ia tau kini sedang berhadapan dengan siapa.... ya Zela. Wanita itu berubah akibat benturan di kepalanya.
( * Kita sebut Arum dengan sebutan zela dulu ya kalo dia berubah )
Zela menurunkan tangan Haidar yang ada dikepalanya, senyuman devil terukir di bibirnya " hmmm, biar aku yang lanjutin " bisiknya di samping telinga Haidar membuat pria itu membeku.
" G-gak usah, udah selesai kok" dengan cepat Haidar mengambil bajunya yang tergeletak di sampingnya namun ditahan oleh zela.
" No! Punggung kamu belum di bersihin, diam atau aku....." Zela mendekatkan tubuhnya sontak membuat mata Haidar melotot
" O-oke oke aku diam " pasrah haidar.
Zela tersenyum senang, tangannya mengelap punggung Haidar dari depan sehingga posisi mereka seperti berpelukan. Dengan sengaja zela memepetkan tubuhnya lebih dekat, hidungnya mengendus-endus leher Haidar membuat pria itu menegang. Zela mendorong pelan tubuh Haidar namun Sebelum zela melakukan hal yang akan membuat Haidar kehilangan akal sehatnya, pria itu dengan cepat menyentil kening zela agak keras agar wanita itu sadar.
" Maaf" gumam Haidar sebelum dia menyentil kening istrinya dengan mata terpejam
PLETAKK......kepala Arum sampai terdongak ke atas.
" Shhhh" ringis Arum mengusap keningnya yang merah.
" rum?" Panggil Haidar dengan wajah bersalahnya, napasnya agak terengah-engah.
Kepala Arum menunduk " hiks sakit" cicitnya dengan suara bergetar menahan tangis.
Haidar semakin kelimpungan mendengar tangisan istrinya yang pecah " eh mana aku liat" tangannya mengangkat kepala Arum supaya menghadapnya, matanya seketika melotot saat melihat bekas jarinya yang memerah pada kening istrinya itu.
" A-aku minta maaf rumm " Haidar membawa Arum kedalam pelukannya.
" Hiks jahat banget sihh " kepala Arum sampai berdenyut sakit.
Haidar mengeratkan pelukannya, rasa bersalahnya semakin besar. Bukan maksudnya menyakiti Arum tapi tadi ia hanya panik dengan tekanan yang zela lakukan padanya, ia takut sampai melakukan sesuatu yang akan membuat Arum membencinya. Ia tau istrinya itu belum siap dengan hal itu.
" Maaf, maaf, maaf" gumamnya pelan, namun tiba-tiba sebuah teriakan mengagetkan mereka.
" HAIDARRR!!! KAMU APAINN MENANTU MAMAHH!!!" Pekik Salma dari arah pintu mengagetkan kedua insan yang sedang berpelukan itu.
TBC
...****************...
__ADS_1
...Jangan lupa tap 💙 & 👍 ya🤗...