
Keesokan harinya.......
" Eh guys, hasil matematika kemarin di umumin sekarang kan?" Tanya ketua kelas
" Iya gue jadi deg degan deh, takut nilainya jelek" jawab anak-anak lain
" Kira-kira siapa ya yang dapat nilai paling bagus?"
" Udah pasti Riri lah, dia kan peringkat satu yagak ri?"
" Iya bener tuh"
" Ah kalian bisa aja " balas Riri malu-malu.
KRINGGG
" Eh masuk masuk!!" Teriak yang lain saat melihat gurunya berjalan ke arah kelas mereka
" Selamat pagi anak-anak"
" Pagi Bu" ucap semua murid
" Sebelum kita mulai ulangannya, ibu dikasih amanah dari guru matematika kalian untuk mengumumkan hasil ulangan kemarin"
" Robert!!"
" Saya Bu!" Jawab siswa yang bernama Robert.
" Kamu remedial"
" Ijal, jeri, Riko...kalian juga remedial"
" Yahh" keluh mereka
" Jessica, nilai kamu 80 "
" Tari, nilai kamu 85"
SKIP.....
" RIRI, nilai kamu 96 " ucap ibu guru membuat Riri tersenyum bangga
" Wawww seperti dugaan kita, riri pasti paling bes-"
" Arum, nilai kamu 99 "
" WHATT!! gila hampir sempurna" heboh semua murid kelas
" Gue bangga sama Lo rum " ucap Rani terharu
" Arum paling the best "
Arum hanya menanggapi mereka dengan senyuman, dia bangkit untuk mengambil kertas hasil ulangannya.
" Selamat ya ibu bangga sama kamu, lain kali lebih teliti ya biar nilainya seratus" ucap Bu guru mengerlingkan matanya.
" Makasih Bu, Arum akan lebih berusaha lagi" balasnya dengan senyuman lalu kembali ke bangkunya.
" Pinter juga bini gue " ucap Haidar bangga.
Riri diam-diam meremas kertas hasil ulangannya, dikalahkan merupakan suatu hal yang tidak bisa ia biarkan.
" Sekarang kalian kerjakan soal yang sudah ibu berikan"
__ADS_1
" Baik Bu "
Semua orang larut dengan soal fisika yang mereka kerjakan, sampai tidak ada yang tau kalau riri merencanakan niat jahatnya. Dia menuliskan sesuatu pada kertas kecil lalu sengaja melemparkannya ke arah meja guru di depan sana.
Guru itu mengernyitkan keningnya saat melihat sebuah kertas mendarat di mejanya, diambilnya kertas tersebut lalu ia buka. Betapa terkejutnya saat melihat isi kertas yang berisi contekan itu mengatas namakan seseorang.
" Arumi Nasha Razela!!" Panggil Bu guru membuat semua orang menoleh padanya.
" Saya Bu?" Tanya Arum bingung
" Kemari kamu!" Perintah guru itu yang langsung dipatuhi oleh Arum
" Ada apa Bu?" Tanya Arum sopan.
" Ini maksudnya apa?" Kertas yang ada di tangannya diangkat di depan wajah Arum.
Mata Arum melebar, dia tidak melakukan itu semua tapi mengapa di sana tertulis namanya " bukan saya Bu! Saya tidak pernah menyontek" bantah arum, ucapannya menyita perhatian seluruh murid.
" Jangan bohong!! Disini tertulis nama kamu!"
" Tapi bukan saya Bu, ibu bisa tanya sama Riri teman sebangku saya......" Arum menatap ke arah Riri " Ri kamu juga liat kan aku dari tadi gak ngapa-ngapain selain ngerjain tugasnya?"
Kini Riri menjadi sorotan semua orang, mereka menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut gadis itu " hmm maaf rum aku gak bisa belain kamu karena aku liat sendiri kamu ngelempar contekan ke yang lain tapi malah salah sasaran" jawaban Riri berhasil membuat heboh anak kelas.
Arum menatap Riri kecewa, dia salah apa sama Riri sehingga gadis itu tega mengatakan kebohongan yang tidak Arum lakukan.
" Mau ngelak apa lagi kamu? Mentang-mentang nilai kamu selalu bagus jadi kamu seenaknya begini hah?"
" Saya benar-benar tidak melakukan itu Bu" lirih Arum
" Keluar dari ruangan saya "
" Tapi Bu saya sudah menyelesaikan tugasnya" Arum memberikan kertas hasil jawabannya.
semua orang melotot saat melihat kertas ulangan Arum di sobek, termasuk Haidar.
" Keluar dari ruangan ini!" Perintah guru itu.
Dengan kepala menunduk Arum keluar dari kelasnya, dia memutuskan untuk pergi ke rooftop sekolah untuk menenangkan pikirannya.
Setelah sampai, dia menumpahkan kesedihannya disana. Rasa kecewa, lelah, marah, semuanya tercampur menjadi satu. Haidar menatap iba Arum, ingin rasanya dia memeluk tubuh lemah istrinya.
" Mau sampai kapan nangisnya?" Tanya seseorang mengejutkan Arum.
Arum menatap Reza- teman kelasnya yang sudah duduk di sampingnya " Lo ngapain disini?" Tanya Arum sembari mengusap air matanya.
" Nemenin Lo "
" Cih " decih Haidar.
"Gak usah, emangnya Lo udah selesai ngerjain tugasnya?"
" Gue di keluarin" ucapnya santai membuat kepala Arum tertoleh sepenuhnya menghadap Reza.
" Hah? Kok bisa "
" Gue ketahuan nyontek " ujarnya cengengesan, namun kenyataannya dia sengaja melakukan hal itu.
Arum menundukkan kembali kepalanya, hatinya kembali sedih " gue tau bukan lo " ujar Reza membuat kepala Arum mendongak melihatnya.
"Gue tau bukan lo yang lempar itu kertas, Lo gak usah sedih, di keluarin sekali gak buat kita gak naik kelas kan"
" Bukan masalah naik kelasnya, Lo tau kan gue sekolah disini itu pake beasiswa. Gue harus pertahanin nilai gue kalau enggak beasiswa gue pasti di cabut " lirihnya.
__ADS_1
Usapan lembut mendarat di kepala Arum " gue ngerti, gue bakal bantuin Lo cari pelakunya terus kita laporin supaya nilai Lo gak jadi merah"
" Jangan!!" Cegah Arum cepat.
"Kenapa?" Tanya Reza
" Eumm karena...karena-"
" Karena sahabat Lo pelakunya" ujar Reza mengejutkan Arum
"Bagaimana Lo tau?"
Reza tersenyum tipis " gue liat dia yang lempar"
Mata Arum kembali berkaca-kaca, dia sudah menganggap Riri seperti saudaranya tapi dia tega melakukan itu semua.
PUK
Reza membawa kepala Arum untuk bersandar di bahunya " gue pinjemin bahu gue buat Lo, nangis semau lo " ucapnya membuat tangis Arum kembali pecah.
" Sial" kesal Haidar, perlakuan cowok itu pada Arum membuat dia sedikit minder. Ingat ya hanya sedikit.
Puas dengan kesedihannya, Arum menyudahi tangisnya. Dia melihat baju Reza yang basah akibat air matanya " maaf baju Lo jadi basah"
" Gak masalah"
" Makasih " ucap Arum tulus
" Hmmm, kalo Lo butuh bantuan apapun Lo bisa cari gue "
" Kenapa?"
" Apanya?" Tanya Reza bingung
" Kenapa harus Lo?" Tanya Arum membungkam Reza.
" Karena gue suka sama Lo " ucap Reza to the point
Arum dan Haidar mematung mendengar ungkapan cinta cowok itu.
Reza menggaruk tengkuknya yang tidak gatal " mungkin cara gue kecepatan, tapi gue bener-bener sayang sama Lo Arum"
"Gu-gue...gue "Arum bingung harus menjawab apa.
" Lo gak perlu jawab!" Serobot reza
" Gue cuma mau Lo tau perasaan gue jadi gak perlu di jawab heheh" ucap Reza canggung.
" Makasih" ucap Arum membuat Reza menoleh padanya " makasih udah mau jujur sama gue, tapi gue belum mau pacaran"
" Kita gak perlu pacaran, tapi izinin gue buat Deket sama Lo, jagain Lo, gapapa kan?"Arum tersenyum lalu menganggukan kepalanya setuju.
" Sahabat?" Tangan Reza terulur di depan Arum yang langsung di sambut oleh gadis itu.
" Sahabat" ucapnya dengan senyum manisnya.
Di tempat itu, awal dari persahabatan mereka dimulai. Tak tau saja wajah Haidar sudah merah menahan kesal, dia merasa tersaingi dengan cowok itu.
TBC
...****************...
...see you🤗...
__ADS_1