
Haidar menatap Arum tak percaya, dengan mudahnya wanita itu berniat mengakhiri sesuatu yang bahkan belum mereka mulai.
" rum! Kita bahkan belum memulainya!" Haidar agak meninggikan suaranya.
" Bagus, itu bahkan lebih memudahkan kita buat mengak-"
" ARUM!!" bentak Haidar tanpa sadar
Arum terdiam mendengar bentakan Haidar, bendungan di matanya yang ia tahan sedari tadi akhirnya pecah. Isakan demi isakan terdengar jelas memenuhi ruangan, rasa bersalah tiba-tiba memenuhi hati haidar setelah membentak istrinya.
" Dengerin aku.." Haidar menarik tubuh Arum supaya lebih dekat dengannya, ia mendudukkan wanita itu di pangkuannya sambil menghadapnya.
" Turunin aku " Arum berusaha turun namun tenaganya kalah besar, meskipun Haidar menggunakan sebelah tangannya untuk menahan tapi tenaganya tak bisa diragukan lagi.
" Haidar please.... Kaki kamu bisa sakit " permohonan Arum tidak di gubris sama sekali oleh Haidar.
" Arum kamu tau kan pernikahan itu bukan main-main, aku milih kamu buat jadi pendamping hidupku. aku mau menerima masa lalumu begitupun sebaliknya, kita mulai semuanya dari awal. Jadi jangan pernah coba akhiri hubungan kita, paham?" Arum tidak menjawab ucapan Haidar dengan anggukan maupun gelengan.
" tapi yang di katakan kakek semuanya benar, kamu bahkan gak tau asal-usul aku yang sebenarnya" Arum mencoba menghindari tatapan Haidar.
" i know! aku tau segalanya tentangmu Arum "
Arum menggeleng-gelengkan kepalanya " kamu gak akan pernah tau" lirih Arum
" tentang apa yang aku gak tau? orang tua aslimu? sahabat penghianat mu? tentang Reza? atau Juna?" Haidar membeberkan semuanya, ia ingin kejelasan tentang hubungannya saat ini juga.
sontak kepala Arum terangkat menatap Haidar, jantungnya memompa dengan cepat. bagaimana pria itu bisa tau semua tentang masa lalunya? padahal mereka baru kenal setelah menikah. " bagaimana kamu tau itu semua?" tangannya mulai bergetar
" sudah kubilang segalanya tentangmu sudah ku ketahui, sekarang apa yang kamu takuti?"
Arum menundukkan kepalanya " tangan kamu " cicitnya.
" tanganku gak kenapa-napa, bentar lagi juga sembuh. kamu gak usah khawatir soal ini " Arum akhirnya menganggukan kepalanya, ia sedikit lega sekarang.
" jadi....kita mulai lagi dari awal?" tanya Haidar dengan sebelah alis terangkat.
" i-iya " ucap Arum pelan namun masih bisa terdengar oleh Haidar.
__ADS_1
senyum Haidar merekah " mulai dari sekarang kita harus saling terbuka "
mulut Arum terbuka kemudian tertutup kembali, ia ingin menanyakan sesuatu tapi terlalu gengsi untuk dia tanyakan. Haidar yang melihatnya langsung mengerti dengan jalan pikiran Arum
" mau tanya apa?" tanya Haidar dengan senyum di wajahnya
mata Arum melotot, kenapa suaminya selalu mudah menebak pikirannya " ci-cinta pertama kamu siapa?" cicitnya.
senyum Haidar seketika sirna, ia selalu sensitif jika menyangkut satu hal itu " jangan bahas itu " ucap Haidar dingin.
" kenapa? katanya mau saling terbuka tapi mana buktinya?" gerutu Arum
Haidar memijat pelipisnya pelan " Nagita!" ia menatap Arum yang terdiam " Nagita cinta pertama sekaligus mantan satu-satunya yang sudah menghianatiku, jadi tolong jangan bahas dia lagi "
kepala Arum menganguk mengerti, ia tidak mau mengambil resiko jika terus menanyakannya meskipun berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya.
" sekarang giliranku, saat kamu terjun dari jembatan, siapa yang sudah menolongmu?" tanya Haidar, ia sangat penasaran dengan kelanjutan cerita masa lalu Arum.
mata Arum melebar mendengar pertanyaan Haidar, untuk yang kesekian kalinya pria itu berhasil mengejutkan Arum. sejauh itu Haidar mengetahui masa lalunya? bahkan ia tidak tau sama sekali tentang masa lalu pria itu. sepertinya ia harus menjelaskan segalanya tentang masa lalunya " bunda sama ayah, mereka sempat liat aku lompat dari jembatan itu. Ayah nolongin aku dengan ikutan terjun ke sungai dan berhasil nyelamatin aku yang udah gak sadarkan diri waktu itu, mereka rawat serta mendidik aku dengan agama sampai aku mutusin buat berhijab "
Haidar mengusap kepala Arum yang tertutup hijabnya " aku senang kamu selamat Arum, lupakan masa lalu yang menyakitimu, oke?" Arum menganggukan kepalanya, ia tidak mau berurusan dengan siapapun di masa lalunya. termasuk Reza, meskipun masih ada ruang yang tersisa dihatinya untuk pria itu.
Arum berniat untuk turun tapi tangan suaminya masih bertengger di pinggangnya " suruh siapa turun?" tanya Haidar membingungkan Arum.
" kan mau tidur "
" disini " ucap Haidar santai sontak membuat rahang Arum menganga.
Haidar menggeser posisinya ke arah kanan, menyisakan tempat untuk istrinya di samping kirinya. Untung ia di tempatkan di ruang VIP oleh keluarganya, jadi tempat tidurnya cukup muat untuk di isi berdua.
Dengan ragu Arum membaringkan tubuhnya di samping Haidar, ia takut suaminya mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang. Haidar menjadikan tangan kirinya sebagai bantalan Arum lalu menariknya lebih dekat menghadapnya " tidur " ucap Haidar pelan.
Bukannya mengantuk, Arum malah tidak bisa tidur. kepalanya mendongak melihat suaminya yang sudah tertidur, matanya terpaku pada wajah Haidar yang menurutnya sangat tampan. Matanya yang sipit, hidung mancung, rahang tegas, bibir merah muda serta rahang yang tegas. sungguh ciptaan yang sem-
" udah liatinnya?" celetuk haidar membuyarkan lamunan Arum.
mata Arum sontak melotot kaget, kenapa harus keciduk sih?!! pikirnya. " Si-siapa yang liatin?!! orang tadi ada nyamuk juga" ucap Arum ngegas.
__ADS_1
Haidar terkekeh pelan, gengsian sekali istrinya ini " yaudah cepet tidur, nanti nyamuknya gigit leher kamu" celetuk haidar.
" mana ada? orang aku pake hijab, mana bisa nyamuk gigit leherku"
ujung bibir Haidar terangkat " bisa sayang, nyamuk yang ini serba bisa " bisik Haidar tepat di telinga Arum
Arum menelan ludahnya susah payah, ia mengerti sekarang nyamuk yang dimaksud suaminya " a-aku tidur " cicitnya kemudian menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Haidar.
" kok tidur sih? gak mau liat nyamuknya?" tanya Haidar jail
" GAK!!"
" ayolah nyamuknya katanya mau gigit sekali aja "
" gak mau!!"
" ck yaudah cepet tidur " perintah Haidar langsung dituruti oleh Arum, tak butuh waktu lama untuk Arum tertidur. Haidar yang melihat istrinya sudah tertidurpun turut menyusulnya ke alam mimpi, untuk pertama kalinya mereka tidur dengan posisi sedekat ini.
......................
Adzan subuh berkumandang memanggil semua umat Islam untuk menunaikan kewajibannya
" rumm bangun" Haidar menepuk-nepuk pipi Arum supaya wanita itu bangun
Arum menggeliat kecil lalu mengusap matanya pelan, yang pertama kali dia lihat ketika membuka matanya yaitu wajah suaminya yang sedang senyum-senyum gak jelas " udah subuh ya?" tanya arum
" iya, kamu cuci muka dulu terus ambil wudhu "
Arum bangun dari tidurnya " aku bantuin kamu dulu ya " wanita itu membantu Haidar untuk duduk di kursi roda, lalu dia membantu Haidar ke kamar mandi untuk berwudhu. setelah selesai, barulah dia yang ke kamar mandi untuk berwudhu. Arum berdiri di hadapan cermin berniat untuk mencuci muka terlebih dahulu, saat hijabnya di buka dia melihat ada sesuatu yang janggal di lehernya. Jejak kemerahan yang tak terlalu jelas terlihat di lehernya yang putih, bola matanya melebar, jangan-jangan ini ulah suaminya? pantesan dia senyum-senyum gak jelas tadi.
" HAIDARRR APA YANG KAMU LAKUKAN??!!" Teriak Arum di dalam kamar mandi
Haidar yang mendengar teriakkan istrinya hanya tersenyum penuh kemenangan " nyobain dikit gak salah kan hehe" gumamnya sambil cengengesan.
TBC
...****************...
__ADS_1
...JANGAN LUPA TAP ( 💙 ) & ( 👍 ) YA🤗...