Istri Ganda Haidar

Istri Ganda Haidar
Eps 24 - ISTANA BONEKA


__ADS_3

" pak boleh kami duluan?" Tanya Haidar pada orang di depannya.


" Enak saja! Saya yang mengantri duluan" sewot orang itu.


" Gini pak, istri saya sedari tadi rewel. Jadi boleh kan kami duluan? Ini ada sedikit Rizki buat bapak" Haidar mengeluarkan uang seratus ribu.


" Kamu nyuap saya?!!!"


" Eh bukan pak, saya cuma mau berbagi" ucap Haidar nyengir.


Bapak- bapak itu menatap Haidar sinis " mana?!" Ucapnya menengadahkan tangannya.


" Eh ini pak" Haidar sedikit kaget, ia kira orang itu akan marah padanya tapi ternyata tidak.


" Aku juga mau!!" Ucap seorang anak kecil di depan bapak-bapak tadi.


" Boleh " Haidar memberikan uangnya pada anak itu.


" Silahkan om duluan " ucap anak kecil itu


" Makasih sayang" Haidar mengusap pelan rambut anak itu.


Arum yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya " sama anak kecil aja gak mau ngalah" gumamnya


" Saya juga mau!!"


" Saya juga!!"


" Aku juga om "


" Aku juga ganteng "


" Gue juga bro"


Orang-orang yang mengantri disana menjadi heboh dan saling mengalah membiarkan Haidar dan Arum untuk duluan. Haidar memberikan uang seratus ribu per orang untuk imbalan, Jadilah mereka berdua  berada di atas perahu kereta untuk menyusuri rumah boneka itu.


Haidar hanya melihat boneka yang melambai-lambai dengan wajah datarnya, berbeda dengan Arum yang melihatnya dengan antusias.


" Ihh lucu banget" seru Arum


" Mas liat itu lucu kan?" Arum menunjuk satu boneka yang menurut Haidar kayak boneka chucky.


Dengan malas ia menanggapi " hmmm lucu kayak boneka chucky "


Arum memukul pelan tangan Haidar " aww sakit sayang! Kok tangan aku yang luka di pukul sih?" Kesal Haidar.


" Abisnya kamu ngeselin! Bonekanya lucu juga di bilang kayak chucky!" Gerutunya.


" Kamu aniaya aku cuma gara-gara boneka jelek itu?"


" Ih Haidar jangan gitu!!" Pekik Arum kesal.


" Sekali lagi kamu sebut nama aku, bibir kamu aku cium!" Ancam Haidar, istrinya ini suka sekali memanggil namanya langsung.


Tangan Arum dengan cepat menutup bibirnya " gak mau " ucapnya kurang jelas.


Haidar menghela nafasnya, ini kapan selesainya sih?? Ia sudah bosan melihat boneka-boneka itu.


Setelah beberapa menit menyusuri istana boneka, akhirnya mereka keluar dari bangunan itu.


" Mau kemana lagi?" Tanya Haidar.


" Kita istrihat dulu aja, aku capek " keluh arum

__ADS_1


" Yaudah kita duduk disana " Haidar menarik tangan Arum ke tempat duduk yang memang sengaja disediakan.


" Mau eskrim?"


"Mau!!" Jawab Arum dengan antusias


Haidar mengelus gemas kepala Arum yang tertutup dengan hijab " kamu tunggu disini " pesan Haidar kemudian berlalu dari sana


Arum menunggu Haidar dengan sabar, matanya menatap orang-orang yang berlalu-lalang. Pandangannya berhenti pada seorang anak perempuan berusia 6 tahun yang baru saja terjatuh di hadapannya.


Dengan cepat Arum bangkit dari duduknya untuk menolong anak kecil itu " adek gak apa-apa?" Tanya Arum seraya membantu anak kecil itu.


" Hiks sakit " keluhnya


" Suttt gak boleh nangis, Adek cantik kan kuat jadi gak boleh nangis. Faham?" Anak kecil itu mengangguk seraya mengelap air matanya


" Ih pinter " Arum mencubit gemas pipinya " nama kamu siapa?"


" Nama aku syila, kalo kakak cantik siapa?" Tanya anak itu balik


" Nama kakak Arumi, kamu boleh panggil kakak Arum" balas Arum dengan senyuman hangatnya.


Mata syila berkedip lucu " boleh aku panggil kak Rumi?"


Senyum di wajah Arum seketika hilang, ia jadi teringat seseorang yang selalu memanggilnya dengan sebutan nama itu.


" Kakak kenapa?"


Arum tersentak dari lamunannya " enggak apa-apa, kamu boleh panggil kakak apapun" syila tersenyum senang.


" Oh iya, kamu kesini sama siapa?" Tanya Arum, ia tidak melihat orang tua dari anak ini.


" Aku kesini sama om aku "


" Aku kabur dari om heheh "


" Eh gak boleh gitu, nanti om kamu nyariin. Kasian dia "


" Abisnya om ngelarang terus, ini gak boleh itu gak boleh " adu syila.


" Itu buat kebaikan syila juga, sekarang kakak anterin kamu ke om ya?" Syila menganggukan kepalanya, ia menggandeng tangan Arum erat.


Baru satu langkah mereka berjalan, sebuah teriakan menghentikan mereka.


" Sayang!!" Arum menoleh ke sumber suara.


" Mau kemana? Terus ini anak siapa?" Tanya Haidar beruntun


" Aku mau anterin syila ke om nya, tadi dia jatuh di depan aku" jelas arum


Kepala Haidar menganguk " oh yaudah nih eskrim nya buat kamu...dan ini buat adek kecil yang manis " Haidar memberikan eskrim pada Arum dan juga pada anak kecil itu.


Mata syila berbinar melihat makanan kesukaannya " wahhhhh makasih om ganteng " ucapnya sembari tersenyum manis.


" Iya sama-sama cantik " balasnya seraya mengacak pelan puncak kepala syila.


" Syila!!!" Teriak seseorang dari kejauhan.


" Om!!" Balas teriak syila.


Dikarenakan posisi Haidar menghadap ke arah orang yang berteriak jadi ia lebih dulu mengetahui siapa orang itu, sedangkan Arum yang memang posisinya membelakangi berniat menolehkan kepalanya namun dengan cepat Haidar menahan kepalanya.


" Sayang!! Kita pulang sekarang" Haidar menarik Arum sebelum wanita itu sempat menoleh

__ADS_1


" Tapi mas, syila... " Arum mencoba melihat kebelakang tapi Haidar selalu menghalangi pandangannya dengan tubuh tingginya itu.


" Syila Udah sama om nya, kita pulang... badan aku tiba-tiba lemas " alibinya sembari tetap berjalan.


Arum mendadak panik " kamu gak apa-apa kan? Pasti kecapean karena aku ya? Maaf " lirihnya.


" Enggak sayang....bukan salah kamu, maka dari itu kita pulang sekarang ya? " Pinta Haidar yang langsung mendapat anggukan dari Arum


Haidar tersenyum senang, ia diam-diam bernafas lega. Untungnya ia bisa mencegah lebih cepat, kalau tidak sudah di pastikan istrinya bertemu dengan laki-laki itu.


.


.


.


.


" Syila kamu kemana aja, om khawatir tau!!"


" Maaf om, syila tadi ketemu sama kakak cantik dan om ganteng yang baikkkkk banget " ucap syila bersemangat.


" Kakak cantik?"


" Iya, namanya kak Rumi "


DEG


Tubuh Reza mematung mendengar ucapan keponakannya ini, Rumi? Nama orang yang selama ini Reza cari-cari keberadaannya, apa Rumi yang keponakannya maksud adalah Rumi yang sama?


" Nama aslinya Rumi? " Tanya Reza penasaran.


" Bukan, nama aslinya Arumi tapi aku panggil kak Rumi"


Mata Reza melebar, benar. Dia wanita yang sama. Hatinya berdegup tak karuan.


" Dimana dia?" Reza celingukan mencari keberadaan arum.


" Kak Rumi udah pergi sama om ganteng " ucap syila menghentikan pergerakan Reza


" Om ganteng? " Alisnya mengernyit bingung.


Syila menganggukan kepalanya " iya, om yang ngasih eskrim ini buat aku"


Reza mengambil handphonenya yang ada di saku kemudian memperlihatkan sebuah foto kepada keponakannya.


" Apa ini kak Rumi yang syila maksud?" Reza memperlihatkan foto Arum yang sempat ia ambil diam-diam saat wanita itu lengah.


" Iya itu!! Tapi yang tadi pake jilbab"


Dengan sekali hentakan keponakannya itu sudah berada di gendongannya, walaupun berumur 6 tahun tapi tubuh syila kecil hingga mudah untuk ia gendong.


" Om Eza!! Kenapa lari-lari?!!" Pekik syila di gendongan Reza yang sedang berlari.


" Kita kejar kak Rumi, syila bantu om nyari ya? " Syila menganggukan kepalanya patuh, anak kecil itu celingukan mencari Arum.


" Itu yang naik taxi!! " ujar syila menunjuk ke arah jalanan


Reza melihat Arum yang masuk ke dalam taxi di susul dengan seorang pria yang juga masuk. sebelum masuk, pria itu sempat menatapnya namun kemudian segera masuk ke dalam.


" Rumi!!!" Teriak Reza, namun sayang taxi itu sudah berjalan menjauh. Kalaupun ia mengejarnya dengan mobilnya, tetap saja ia akan kehilangan jejak wanita itu.


Reza mendesah frustasi, kalau saja ia lebih cepat menemui syila pasti ia akan bertemu dengan Arum " jadi Lo di Jakarta rum?" Lirihnya pelan

__ADS_1


...****************...


__ADS_2