
" ini rotinya " Haidar menyerahkan pembalut yang ia beli
Arum menatap Haidar kesal " kok lama banget sih? Ini juga kenapa banyak banget?!!!"
" Yakan aku gak tau kamu suka rasa apa sayang "
" Rasa- rasa!! Emangnya eskrim!!" Sewot Arum
Anjay sensi banget bini gue. Batin Haidar
Haidar menghela nafasnya, ia Mecari kotak obat yang selalu ia bawa di mobil " sutttt diem! Sini aku obatin luka kamu " ucap Haidar begitu menemukan barang yang ia cari.
Perlahan namun pasti, Haidar membersihkan semua luka di wajah Arum. Tak lupa dengan mulut yang meniup-niup luka yang masih basah " jangan jauh-jauh dariku lagi, ini terakhir kalinya kamu luka " ujar Haidar dengan suara beratnya.
Arum menatap suaminya yang menatapnya khawatir, tangannya terangkat untuk mengelus rahang tegas Haidar " aku gak papa " Arum tersenyum untuk menenangkan suaminya.
Tangan Haidar menarik Arum ke dalam pelukannya " maaf, seharusnya aku gak libatin kamu " lirihnya
" Ini bukan salah kamu, udah ya kita pulang "
Haidar melerai pelukannya " yaudah, kamu harus istirahat cepet " balasnya sembari menjalankan mobilnya kembali.
Kringg kringg kringg
Suara dering telfon membuyarkan fokus mereka berdua
" Tolong angkat sayang" ucap Haidar yang langsung dipatuhi oleh Arum
" Halo nak pungutt " terdengar suara di sebrang sana yang tak lain adalah Salma.
Haidar mendengus kesal mendengar lontaran mamahnya itu, berbeda dengan Arum yang susah payah menahan tawanya.
" Maaf dengan siapa ya?"
" Dasar anak durjaman!! " Gerutu suara di sebrang sana
Haidar terkekeh geli " iya mamahku yang cantik, ada apa gerangan?"
" Ini mama udah pulang, lupa kasih tau kamu kalo besok ada acara kumpul-kumpul kayak biasanya di vila kakek, kalian datang kan?" Tanya Salma
Mereka berdua terdiam, Haidar dapat melihat perubahan wajah Arum yang seketika murung. Apa istrinya masih teringat dengan omongan kakeknya waktu di rumah sakit saat itu? Ia tau betul perasaan Arum saat ini " eummm kayaknya kita gak bakal datang mah " putus Haidar.
Kepala Arum langsung menoleh ke arah Haidar begitu mendengar jawaban yang keluar dari bibir suaminya itu
" Tapi kenapa? Kakek pasti kecewa kalau kamu gak datang "
Dapat Arum lihat wajah suaminya yang kebingungan, sepertinya ia tau apa yang di pikirkan Haidar saat ini
" Kita gak bakal-"
" Kita datang kok mah " serobot Arum membuat Haidar terkejut.
" Sayang!" Bisik Haidar tak setuju
__ADS_1
Salma tersenyum di sebrang sana " bener ya? Besok kalian datang jam 9 pagi ya "
" Iya mah siap "
" Oke kalau gitu mamah tutup ya sayang, assalamu'alaikum "
" Wa'alaikumussalam " jawab Arum kemudian meletakan kembali handphone Haidar bertepatan dengan sampainya mereka di rumahnya.
" Kita gak usah datang " putus Haidar
" Kenapa gitu? " Tanya Arum berusaha biasa saja namun tak bisa di pungkiri kalau hatinya sedikit takut.
" Kamu lagi sakit " balas haidar mencari alasan.
" Aku cuma luka dikit, lagian kaki aku juga cuma keseleo biasa. Besok juga sembuh "
Mata Haidar kesana-kemari mencari alasan supaya istrinya ini tidak pergi, saat sibuk dengan pikirannya, sebuah tangan mengusap pipinya lembut sontak Haidar menitik fokuskan matanya ke wajah Arum yang tersenyum manis.
" Kamu takut kakek gak Nerima aku lagi?" Tanya Arum tepat sasaran. Haidar terdiamĀ enggan untuk menjawab pertanyaan istrinya yang jelas jelas jawabannya adalah iya.
" Dengerin aku, kita gak bisa ngehindar dari kakek kamu. Aku mau berusaha buat kakek restuin hubungan kita, aku mau nunjukin kalo aku pantas buat kamu. Kamu mau bantu aku kan?" Ucap Arum lembut.
Haidar mengusap tangan yang ada di pipinya " aku takut kakek nyakitin kamu sayang "
Senyuman tipis terukir di bibir Arum " itu gak bakalan terjadi, kamu kan superhero aku kalo ada yang nyakitin " ucap Arum dengan kerlingan nakalnya.
Kedua sudut bibir Haidar tertarik, tangannya mencubit hidung istrinya pelan " oh udah pinter sekarang ya, belajar dari mana kamu hmm?" Gemas Haidar.
" dari kamu " jawab Arum dengan senyum manisnya.
Gerakan tiba-tiba Haidar membuat Arum terheran-heran " kenapa?" Tanya Arum di gendongan Haidar.
" Gemes pengen terkam kamu di kamar " ucap Haidar santai.
Mata Arum melotot " ihhhhh mesumm!!" Pekik Arum
" Mesum sama istri sendiri gak dosa!" Balas haidar dengan senyum menyeringainya.
Tangan Arum memain-mainkan dasi Haidar " hmmm aku kan lagi datang bulan mas " ucap Arum tak enak hati.
Ucapan Arum berhasil membuat langkah Haidar terhenti, bahunya merosot tak bertenaga " aku lupa " ucapnya tak bersemangat.
" Udah jangan sedih " bujuk arum namun Haidar hanya melanjutkan jalannya dengan lesu.
" Mas!" Panggil Arum karena Haidar tak menjawabnya.
" Mass ngomong dongg!!" Arum mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah suaminya yang lesu.
" Mas!!" Masih tidak ada jawaban.
" Ihhhh Haidar!!" Arum menjambak rambut Haidar melampiaskan kekesalannya.
" Awwww anjirrr!!!" Pekik haidar, dengan reflek ia menjatuhkan tubuh Arum kebawah.
__ADS_1
GUBRAGGG
" AWWW sakit hiks" erang Arum
Mendengar erangan Arum, Haidar segera berjongkok untuk menggapai kembali tubuh istrinya namun Arum menepis tangannya.
" Sayang maaf gak sengaja "
" Jangan dekat-dekat!!! Aku aduin sama mamah kalo kamu diemin, jatuhin dan ngumpatin aku!! Hiks" ucap Arum sambil menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya.
" Siapa yang ngumpatin kamu?"
" Tadi anjir anjir itu apa maksudnya?!!" Sewot Arum
" Itu aku reflek sayang...abisnya kamu Jambak rambut aku, udah ya aku bantu ke kamar"
" Gak mau anjir!!"
" Eh astaghfirullah!!!!! Bilang apa barusan?!!" Pekik Haidar
" Anjir " celetuk Arum
" hehhh gak boleh!!!!!" Omel Haidar.
Arum mendengus " aku kan ngikutin kamu!!" Sewot Arum
Haidar menjambak rambutnya frustasi " yaudah aku minta maaf, jangan ngomong gitu lagi " ucap Haidar mengelah, memang berdebat dengan wanita tidak ada menangnya.
Arum terdiam sesaat sebelum tangisnya kembali terdengar membuat Haidar kelabakan " eh eh kok nangis lagi? Aku minta maaf sayang "
Kepala Arum menggeleng-geleng " bukan kamu yang salah tapi aku huaaaaaa.....maaf udah Jambak kamu hiks, udah marahin kamu juga..aku bukan istri yang baik buat kamu, kamu boleh aduin ke mamah hiks " tangan Arum mengambil handphonenya lalu memberikannya pada Haidar dengan berat hati " ini kamu telfon mamah " cicitnya.
Sudut bibir Haidar berkedut, ia kasihan melihat istrinya menangis seperti ini tapi ia juga ingin tertawa terbahak-bahak melihat tingkah istrinya ini namun ia mencoba menahannya. Untuk menyembunyikan tawanya, Haidar bergerak untuk memeluk tubuh Arum " suttt udah aku maafin, jangan nangis lagi " ucapnya dengan senyum yang tak bisa ia tahan lagi.
Arum sesenggukan di dalam pelukan Haidar " kamu boleh bilang ke mamah kok kalo kamu udah capek sama aku, kamu bisa lepas dari aku "
Haidar melonggarkan pelukannya " kamu bicara apa sih? Aku gak suka kamu ngomong kayak gitu " ucap Haidar tidak suka, tangannya mengangkat Arum di pundaknya seperti karung beras.
" Mass turunin!!! " Haidar tak menggubris teriakan Arum
" Masss nanti bayi aku keteken " ucap Arum berhasil menghentikan Haidar.
Haidar mematung di tempat, ia segera menurunkan Arum dari pundaknya " bayi?" Tanya Haidar, hatinya mendadak sakit. Ia bahkan belum menyentuh istrinya
" Iyaa, bayi bakteri yang ada di perut aku maksudnya hehe " cengir Arum
Wajah Haidar berubah datar " anjir gue di prank " gerutu Haidar dengan suara pelan.
" Kamu ngumpatin aku lagi??" Tanya Arum dengan mata mulai berkaca-kaca kembali.
" Eh bu-bukann!!!" Dengan cepat Haidar mengangkat Arum menuju kamar mereka.
" Huaaaaaa mamahhhh!!!! Anak pungut mamah jahatt!!!"
__ADS_1
...****************...