Istri Ganda Haidar

Istri Ganda Haidar
Eps 15 - KITA AKHIRI SEMUANYA?


__ADS_3

Setelah kejadian ciuman kilas yang Haidar lakukan pada Arum, wanita itu semakin menghindari suaminya. Kepalanya bahkan tak pernah terangkat menghadap Haidar barang sedikitpun, ciuman pertamanya berefek besar pada jantung Arum. Rasa malunya lebih mendominasi dirinya saat ini.


" Rum " sudah berapa kali Haidar memanggil Arum, namun jawabannya tetap sama.


" Hmm?" Arum menjawab tanpa menatapnya.


Haidar menghela nafas panjang, apa dia melakukan kesalahan dengan mencium istrinya? Bahkan itu hanya sebuah kecupan kilas.


" Mau makan " Haidar sengaja memancing interaksi di antara mereka.


Arum yang tadinya duduk, kini beranjak mengambil makanan di meja lalu menghampiri suaminya yang menatapnya santai seolah-olah tak terjadi apapun di antara mereka. Apa ciuman hal biasa bagi Haidar? Itu yang dipikirkan Arum.


" Nih " Arum menyerahkan mangkuk berisi bubur pada suaminya.


" Suapin" ujar Haidar manja, mau tak mau Arum harus menuruti permintaan suaminya yang tiba-tiba manja ini. Arum mengarahkan sendok yang sudah berisi makanan ke arah Haidar tanpa mengangkat pandangannya.


DUK


" Astaghfirullah arumm, mulutku disini!" Haidar menggerutu pelan sontak membuat kepala Arum terangkat seketika, matanya melotot ketika melihat pipi suaminya basah akibat bubur yang ia suapkan tadi.


" Ma-maaf gak sengaja " dengan cepat Arum menyambar tisu di meja lalu mengelap pipi suaminya yang sedang cemberut itu.


Mata Arum fokus mengelapi pipi Haidar sampai sebuah tangan menahan tangannya yang sedang mengelap, ragu-ragu ia menatap manik Haidar yang sedari tadi menatapnya dalam.


" Jangan menghindariku Arum" lirih haidar, ia tidak tahan melihat Arum menghindarinya " kamu marah karena aku cium?" Haidar menatap wajah istrinya yang seketika memerah.


" Jangan di bahas!!" Arum mendengus kesal " ini pertama kalinya buatku, mungkin tidak bagimu " suaranya memelan di akhir ucapannya.


Bibir Haidar berkedut menahan senyum, jadi ini yang membuat istrinya menghindari dirinya? Lucu sekali istri kecilnya ini, ah dia jadi gemas " maksudnya aku pernah ciuman sebelumnya gitu?" Pancing Haidar.


Mata Arum melotot" ihh kok kamu biasa aja sih ngomong 'itu', bener kan udah pernah sama mantan kamu sebelumnya?" Mata Arum memicing curiga.


" Kalau iya gimana?" Ucap haidar, wajah Arum berubah menjadi murung. Sudah ia duga itu bukan hal yang baru bagi pria itu.


" Oh " jawab Arum seadanya, tangannya mengaduk-aduk bubur di mangkuk dengan lesu.


Haidar memegang tangan Arum yang sedang mengaduk makanannya " kamu yang pertama " adukan tangannya terhenti mendengar pernyataan Haidar, kenapa hatinya merasa senang dan lega sekali?


" Bohong!"ketus arum, ia tak tau kenapa sikapnya diluar kendalinya, yang pasti ia tidak rela kalo suaminya melakukan 'itu' bersama orang lain.


" Masa sama suami aja gak percaya? Yakali aku ciuma-"


" Ishh jangan disebuttt!! Sebutnya 'itu' aja, jangan terlalu frontal "


" Yaudah iya, aku gak pernah lakuin 'itu' sama yang lain kecuali sama istri sendiri" ucap Haidar dengan sungguh-sungguh, mau bagaimanapun ia masih tau batasan.


" Ya bagus, emang harus gitu" Arum bersikap acuh tak acuh padahal hatinya bersorak gembira, Arum kembali menyuapi Haidar dengan telaten sampai buburnya habis.

__ADS_1


" Rum"


" hmm?" Kini Arum balas menatap Haidar.


" Kita mulai ciptakan kehidupan rumah tangga yang bahagia, kamu mau kan?"


" Meskipun kita dijodohkan tapi bukan berarti kita gak akan saling jatuh cinta kan? Kita buka hati kita masing-masing dan lupakan masa lalu, kamu bersedia kan?" Haidar terdiam menunggu jawaban yang akan diberikan Arum dan tak lama kemudian wanita itu menganggukan kepalanya pertanda mau.


Senyum bahagia tak dapat Haidar tahan, dengan sekali tarikan tubuh istrinya sudah berada di dekapannya. Entah sejak kapan rasa sayangnya pada Arum tumbuh, yang pasti dia sangat takut kehilangan wanitanya ini.


TOK


TOK


Suara ketukan pintu melepas pelukan mereka, setelah pintu terbuka munculah sepasang suami istri yang datang dengan tergesa-gesa " Haidar! Akhirnya kamu sadar juga nak, mamah khawatir kamu gak bangun " Salma memeluk putranya erat, cairan bening yang membasahi pipinya mewakili rasa syukurnya.


" Anak mamah ini kan kuat, masa mamahnya cengeng " cengiran lebar menghiasi wajah Haidar, ia tidak suka membuat ibunya sedih.


Salma mengusap air matanya " jangan bikin mamah khawatir lagi, baru aja nikah bukannya berbulan madu malah masuk rumah sakit" cibir Salma


" Ck malah ngeledek, bukannya di sayang-sayang kasih hadiah kek"


" Jangan manja! Udah jadi suami juga" sinis Nathan pada anaknya.


" Yaelah pah sensi amat, kali-kali kan kalian mau kasih hadiah " Haidar tau papahnya paling cemburuan kalo ia selalu di manja oleh Salma.


" Mamah emang mau ngasih hadiah" salma mengangkat kepalanya songong " nih buat kalian" Salma mengangkat 2 tiket bulan madu ke Swiss.


" Mamah mau kalian semakin dekat, meskipun kalian gak saling kenal sebelumnya tapi mamah tau Arum yang terbaik buat Haidar" suasana seketika menjadi melow


" Menurut saya tidak" ucap seseorang yang baru datang


Perhatian mereka teralihkan kepada seorang paruh baya dengan setelan jas yang selalu melekat pada tubuhnya. Dia adalah reno, kakeknya haidar. Pemilik dari perusahaan yang Haidar pimpin.


" Ayahh?" Ucap Nathan kaget


Derap langkah sepatunya menggema di ruangan yang seketika hening itu, langkahnya berhenti di samping Haidar yang berhadapan dengan Arum di sebrang sana. Matanya memandang tak ramah pada wanita itu hingga Arum tak berani menatap manik tajam milik kakeknya haidar.


" kamu ngapain masih disini? Bukannya saya sudah bilang jangan dekati cucu saya lagi!!" Sentak Reno pada Arum membuat tubuh wanita itu sedikit bergetar.


Haidar cukup terkejut mendengar bentakan Reno, apa yang ia lewatkan ketika ia koma?


" Maksud kakek apa?" Tanya Haidar bingung


" Liat tangan kananmu Haidar!! Tanganmu retak dan sulit buat menyembuhkannya kembali!! "


Mata Haidar turun melihat tangan kanannya yang di sangga dengan kain penopang yang di kalung kan pada lehernya, ia berusaha menggerakkan tangan kanannya tapi susah.

__ADS_1


" Kenapa kakek nyalahin istri Haidar?"


" Kakek tau yang bikin kamu kayak gini itu dia" telunjuk Reno terangkat di depan wajah Arum " seandainya saya tidak membiarkan cucu saya menikahi wanita yang gak jelas asal-usulnya seperti kamu, ini semua gak akan terjadi!" Tandas Reno.


" Cukup kek!!" Sentak Haidar, tangannya menggenggam tangan istrinya yang sudah menangis.


" Kamu mau melawan kakek gara-gara wanita ini?? Ingat kamu penerus perusahaan kakek! dengan tangan kananmu yang cacad gini buat kamu gak berguna haidar?!!"


" Yahh!! Cukup! " Nathan tidak tahan dengan sikap kearoganan ayahnya, sudah cukup dia yang menjadi korban dari kearoganan ayahnya dulu.


" Apaa??? Kamu mau ngelawan ayah juga?" Sentak Reno.


" Sudah cukup yah, Haidar baru bangun dari komanya. Sebaiknya ayah jangan buat keributan disini"


" Mas Nathan benar yah, Haidar butuh ketenangan supaya dia bisa cepat sembuh" bujuk Salma, mertuanya itu paling menyayangi Salma dibanding menantu lainnya.


Reno menghela nafasnya " baiklah, semoga kamu cepat sembuh dan segera meninggalkan wanita itu" setelah mengatakannya, Reno pergi dari ruangan Haidar.


Salma mendekati Arum yang sedang menangis dalam diam, tangannya mengusap-usap bahu menantunya itu berharap dapat menenangkannya " gak usah masukin ke hati ucapan kakek tadi ya, dia cuma khawatir aja sama cucunya"


Kepala Arum menganguk meskipun berat " maafin Arum" lirihnya pelan.


" Enggak sayang, itu bukan salah kamu. Udah ya jangan nangis" Arum menganggukan kepalanya lagi kini dengan senyuman tipisnya.


Salma bernafas lega melihat senyuman Arum meskipun sedikit " kalian gapapa kan kami tinggal?" Tanya Salma ragu


" Iya lagian ini udah malem juga, kalian pulang aja " jawab Haidar santai


" Kenapa kamu kayak seneng gitu kita pergi?" Celetuk Salma


" Bukan gitu mah, yakali kalian mau disini semalaman"


Nathan mendengus sebal " bilang aja kalo mau berduaan"


Haidar terkekeh geli " masa gitu aja gak tau "


Salma memutar bola matanya " yaudah si kita juga mau berduaan yakan sayang?" Salma menatap suaminya genit


" Udah ayok, malu mah udah tua juga" Nathan menarik istrinya untuk keluar.


Setelah kedua orang tuanya pergi, tatapan Haidar beralih menatap Arum yang masih menunduk " rum kit-"


" Apa kita akhiri saja semuanya?" Ucap Arum dengan tangan mengepal menahan gejolak di dalam hatinya.


TBC


...****************...

__ADS_1


...MAKASIH YANG UDAH BACA CEIRTA INIπŸ€—...


...JANGAN LUPA TAP ( πŸ’™ ) YA πŸ€—...


__ADS_2