
Arum menarik tangan Haidar menuju ruang kerja pria itu, disana sudah tidak ada dito. Entah kemana pria satu itu, Ia kemudian mendudukkan suaminya di kursi kebesarannya.
" Kenapa diem aja tadi??!" Sewot Arum
" Sengaja hah? Sengaja biar di sentuh sama wanita sexy itu?"
" Pake nyentuh-nyentuh dada lagi!"
" Wanita itu sengaja tau numpahin minumannya! Aku liat tadi!"
" Dari awal dia datang juga aku udah tau kalo dia tertarik sama kamu!! Pake di condong- condongin segala lagi badannya! buat apa coba? Mau pamer yang besar?"
Haidar menatap istrinya yang terus saja berdumel melampiaskan kekesalannya. Senyum tipis Haidar terukir di bibirnya.
" Harus ya pake baju yang ketat gitu waktu kerja?!! Apa disini gak ada peraturan buat-" ucapan Arum terpotong akibat Haidar yang menarik tangannya kencang hingga ia terduduk di pangkuan suaminya.
Mata pria itu menatap dalam istrinya " udah cemburunya?" Tanya Haidar dengan suara beratnya.
Mendengar suara berat Haidar membuat bulu kuduk Arum meremang, jantungnya berdegup tak karuan " ak-aku gak cemburu "
Haidar tersenyum lebar " aku suka liat kamu cemburu kayak gini " bisiknya tepat di samping telinga arum
" Dan aku juga gak suka liat kamu dekat sama pria lain " lirih Haidar.
Arum menelan ludahnya susah payah, kemana keberaniannya tadi, melihat tatapan dalam suaminya saja bikin nyalinya menciut " t-tapi dia sahabat kamu "
" Tetep aku gak suka kalo kamu mengabaikan aku"
" Maaf " cicit Arum dengan kepala menunduk.
Haidar mengangkat dagu Arum supaya tidak menunduk " aku juga minta maaf, nanti aku suruh semua pegawai wanita disini buat pakai gamis aja " ucapnya santai sontak membuat Arum melotot
" Gak gitu juga " Arum memukul pelan dada Haidar.
Tawa kecil keluar dari mulut haidar, di tambah dengan matanya yang menyipit akibat tertawa. Arum yang melihatnya sampai terpana, kenapa suaminya jadi lebih tampan dua kali lipat saat tertawa.
Tawa Haidar berhenti, ia melihat istrinya yang sedang memperhatikannya dalam. Dengan perlahan tapi pasti wajahnya mendekati wajah istrinya. Bukannya menghindar seperti biasanya , Arum seperti terhipnotis dengan tatapan suaminya. Wajahnya ikutan maju lebih dekat dengan mata yang sudah menutup.
Saat bibir mereka hampir bertemu, sebuah suara mengagetkan mereka hingga menggagalkan aksinya.
" Dar!! Astaghfirullah!!!! Mata suci gue ternodai " pekik dito yang membuka pintu tanpa permisi.
Sial. Umpat Haidar kesal.
Sedangkan arum menyembunyikan wajahnya pada dada bidang suaminya, terlalu malu untuk ia menunjukkan wajah yang sudah memerah itu.
" ganggu lu ahhh!!" Kesal Haidar.
__ADS_1
Dito melangkah dengan santai tanpa rasa bersalahnya duduk di sofa.
" Sorry gue gak tau, lagian Lo gak bisa tahan apa? Ini masih di kantor woy!!"
Haidar memutar bola matanya " serah gue lah, kantor-kantor gue! Lo gak akan ngerti karena gak punya bini, Lo gak bakal tau gimana rasanya berduaan sambil ci- awwww " pekik Haidar setelah Arum menyubit pinggangnya
" Sayang kok di cubit sih?" keluh Haidar dengan bibir cemberutnya.
" Jangan banyak omong!" Bisik Arum
Dito tertawa kecil " bagus rum, emang kurang di filter mulut suamimu itu" kompor dito
" Diem Lo, jangan ngomong sama istri gue!!"
" Cih posesif " komentar dito
Haidar menatap sengit sahabatnya, kenapa juga ia mempunyai sahabat macem Dito gini, hufff mungkin ia lagi khilaf waktu itu " mau apa kesini cepat ngomong"
" Santai bro, buru-buru amat" sindir Dito " gue kesini mau ngomongin tentang pencarian kita soal nagit..." dito menggantungkan kalimatnya, ia melirik Arum tak enak. Wanita itu cukup tau siapa yang akan mereka bahas, kenapa hatinya jadi takut.
Sadar dengan keadaan, Arum berniat untuk turun dari pangkuan Haidar namun pria itu malah mengeratkan tangannya pada pinggangnya.
" Mas " Arum memohon untuk di lepaskan, ia malu di lihat oleh dito dalam posisi bergini.
Karena tidak tega dengan wajah memelas Arum, akhirnya Haidar mau melepaskannya. Wanita itu bangkit dari pangkuan sauminya lalu menatap Dito tak enak.
" Disini aja " balas haidar. Kemudian matanya menatap Dito kembali.
" Lanjutkan"
" Lo...yakin?" Tanya Dito ragu
Haidar menganggukan kepalanya yakin, ia tidak mau menyembunyikan apapun dari istrinya.
" Nagita Udah ketemu " ucap Dito hati-hati. Takutnya akan terjadi pertengkaran antara mereka " dia pergi ke Singapura saat itu dan sekarang dia udah balik "
Hati haidar berkecamuk, ia memang sempat menyuruh sahabatnya ini untuk mencari keberadaan Nagita yang hilang tiba-tiba saat pernikahan dirinya dengan wanita itu tinggal menghitung hari. Tapi kini keadaannya sudah berubah, ia sudah punya istri yang harus ia jaga hatinya.
" Gue...gak perduli lagi " ucap Haidar
Rahang Dito terbuka, enak sekali sahabatnya ini bicara. Ia sudah menghabiskan waktu buat melacak keberadaan mantan pacarnya itu dan sekarang dengan entengnya bilang tidak perduli? What the.....
" Semudah itu kawan??"
Haidar berdecak " nanti gue transfer ke rekening lo " ucap Haidar.
Cengiran lebar terukir di bibir Dito " ehehe gitu dong " ucapnya cengengesan.
__ADS_1
" Udah kan?" Usir Haidar secara tak langsung.
" Ck iye iye gue pergi nih " Dito bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju pintu
" See you Arum " ucap Dito mengedipkan sebelah matanya sebelum ia benar-benar keluar dari sana
" Ck jangan balik lagi!!!" Teriak Haidar kesal.
*
*
*
Sesuai rencananya pagi tadi, Haidar membawa Arum jalan-jalan ke sebuah taman hiburan yaitu Dufan. Mereka menghabiskan waktu untuk menaiki berbagai wahana.
" Mau kesana " pinta Arum dengan jari menunjuk pada bangunan istana boneka.
Haidar menggeleng-gelengkan kepalanya cepat " masa kesana sih sayang? Itukan buat anak kecil " ucap Haidar, bisa turun karismanya jika ia harus benar-benar kesana.
" Kamu gak mau?" Arum menatap Haidar dengan mata berkaca-kaca. Masuk ke istana boneka merupakan keinginannya sejak dulu.
Haidar yang melihat istrinya akan menangis jadi kelabakan, masa gara-gara istana boneka ia sampai membuat istrinya menangis.
" Eh eh jangan nangis " panik Haidar, ia memeluk istrinya lalu mengusap-usap punggungnya.
" Udah turutin aja mas, itu istrinya lagi ngidam kali " celetuk seseorang di sampingnya.
Haidar sampai tersentak kaget, sejak kapan ibu-ibu itu berada di sampingnya? Perasaan tadi gak ada deh.
" Ngi-ngidam?" Tanya Haidar cengo
" Iya, saya juga waktu ngidam gitu bawaannya mau nangis dan manja sama suami" bisik ibu itu.
Haidar tersenyum bodoh, gimana mau ngidam nyentuh aja belum.
" Ayo kesana" ucap Arum menarik-narik baju Haidar layaknya anak kecil.
" Udah sana turutin" ibu itu mendorong-dorong Haidar hingga mau tak mau ia harus menuruti istrinya.
Wajah ceria Arum kembali lagi, senyum manisnya kembali terukir di bibir manis istrinya. Hal itu cukup membuat Haidar ikut tersenyum.
Senyum Haidar kemudian luntur setelah melihat orang yang mengantri begitu banyaknya " i-ini serius mau kesana? Liat itu... Antriannya lama sayang " bujuk haidar
" Kamu gak niat ya temenin aku? Yaudah aku sendiri aja " ucap Arum dengan nada sedihnya.
" Ck gak gitu.... Ikut aku " Haidar menarik tangan Arum untuk mengikutinya.
__ADS_1
...****************...