
Tubuh ini masih terasa lelah, bayangan kejadian semalam masih aku ingat dengan jelas. Bagaimana pria itu untuk pertama kali menyentuhku dengan lembut dan penuh kehangatan. Jujur, setiap sentuhan yang dibuat Henry begitu memabukkan, hingga untuk pertama kalinya aku bisa merasakan apa itu kenikmatan bercinta, dan bagaimana seorang wanita mencapai sebuah puncak rasa nyaman yang membuatnya seolah terbang tinggi bersama pasangannya. Tunggu! Aku membuka mata ini setelah aku ingat jika kenyataan tidaklah seindah seperti yang aku bayangkan tadi.
Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Pria itu tak ada! Henry pergi sebelum aku bangun, lalu sejak kapan Henry pergi dan meninggalkanku sendiri di kamar ini? Pria itu jelas seperti buru-buru sekali pergi kali ini. Apakah Henry melakukannya karena ingin menghindariku setelah apa yang terjadi dengan kami semalam?
Aku tersenyum pahit. Apa yang aku harapkan? Pernyataan cinta dari Henry Bastian Campbell, yang memang secara status adalah suamiku sendiri, tapi tidak dengan hatinya. Aku sadar betul akan hal itu dan aku akan selalu ingat batasanku sebagai istri kontrak yang hanya sah di atas kertas. Jadi untuk apa aku berharap lebih padanya?
Menganggap apa yang terjadi padaku hanyalah sebuah mimpi, aku mencoba untuk bangkit dan berdiri meskipun rasa lemah masih menerpa. Aku harus bekerja, aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan kebebasanku begitu saja.
...
Campbell Corporation
“Apakah kau staf magang itu, Miss?” Seorang pria berperawakan tinggi tegap berdiri di sampingku yang tengah menunggu lift.
“Ah, ya, Sir. Saya Angelina Louis, karyawan magang dari tim pemasaran.” Aku tersenyum ramah menyapa pria perlente yang ada di sebelahku.
“Tim di bawah pimpinan Nickollas Franklyn? Hebat sekali, tampaknya suasana perusahaan ini akan semakin menyenangkan jika ada karyawan secantik kau di sini,” sanjung pria berparas tampan itu terang-terangan.
“Anda terlalu memuji, Mr. Tapi terima kasih, saya jadi lebih bersemangat bekerja karena semua karyawan di perusahaan ini menyambut hangat staf magang seperti saya,” balasku seraya tersenyum tulus.
“Alan Jones, itu namaku, Miss. Louis.” Pria bernama Alan Jones itu memperkenalkan diri dengan penuh percaya diri.
Ting.
Di saat yang sama lift di depan kami terbuka. Aku yang hendak melangkah tertegun sejenak saat menyadari jika di dalam lift yang sama, berdiri seorang pria yang paling aku hindari kini tepat berdiri di depanku dengan ekspresi wajah dinginnya yang datar. Tatapan kami pun bertemu untuk sekian detik, namun aku cepat-cepat berpaling menghindar dari tatapannya yang tajam saat menatapku.
“Mr. Campbell, selamat pagi. Kebetulan kita bertemu di sini,” pria perlente itu menyapa Henry dengan senyum cerahnya.
“Selamat pagi, Mr. Campbell.” Ucapku sedikit menundukkan kepalaku di depan Henry yang masih memasang wajah dinginnya yang tanpa ekspresi.
Kini di dalam lift hanya ada kami bertiga. Suasana yang hangat tadi seketika berubah menjadi dingin di dalam lift.
__ADS_1
“Apa kau sudah melakukan tugas yang aku berikan padamu, Manager Jones?” Henry berkata dengan nada tegas dan sikapnya yang berwibawa.
Pandangan mata Henry tak sedikit pun berpaling. Melihat sikapnya yang demikian, aku hanya bisa mengumpat dalam hati, “Dasar, Bos sombong!”
“Tentu saja sudah, Mr. Campbell. Saya akan memberikan laporannya pagi ini kepada Anda,” Alan Jones menjawab dengan sikapnya yang formal.
Ting.
Kami pun sampai di lantai yang kami tuju. Tanpa berkata apa pun Henry keluar lebih dulu dari lift. Entah bagaimana, aku hanya bisa menatapnya terpaku.
“Sampai bertemu lagi, Miss. Louis. Abaikan hal yang menyebalkan yang ada di perusahaan ini. Tetaplah semangat bekerja!” Alan Jones berkata lirih seraya mengedipkan mata dan mengepalkan satu tangannya, seakan memberikan semangat untukku yang masih berdiri seperti orang linglung.
“Aku lihat kau tadi satu lift dengan Mr. Jones dan juga Mr. Campbell, Angelina?” Sandra mendekatiku yang baru saja duduk di meja kerjaku.
“Iya.” Aku menyahut singkat.
“Katakan bagaimana rasanya?” Kali ini Sandra melihatku dengan pandangan mata berbinar.
“Iya. Katakan padaku, bagaimana rasanya satu lift dengan dua pria tampan di kantor ini, Angelina?” Sandra tampak penasaran.
“Apa itu tidak berlebihan, Sandra?” aku menyahut tak habis pikir.
“Astaga, Angelina. Jika aku jadi kau jelas aku akan pingsan!” Sandra terkekeh kecil dengan gayanya yang centil.
“Untung saja kau tak menyukai pria tampan. Jika tidak, mungkin aku akan menganggapmu sebagai saingan untuk merebut perhatian dari Manager Jones.” Sandra terkekeh kecil kembali, namun kalimatnya kali ini cukup mengejutku.
“Apa maksudmu kau menyukai Mr. Jones, Sandra?” aku bertanya sengaja memancing.
Secara refleks Sandra mengibas-ngibaskan satu tangannya ke udara, “Astaga, bukan itu maksudku!” sangkalnya menepis dengan cepat.
Aku tersenyum melihat sikapnya yang sedikit salah tingkah, “Sayang sekali, padahal kau sepertinya cocok sekali dengannya,” ledekku.
__ADS_1
“Astaga, benarkah itu?!” Sandra menutup mulutnya merasa terkejut, sepertinya ia sadar kalau tingkahnya itu jelas terlihat berlawanan dengan pengakuannya tadi padaku.
Hingga akhirnya kami pun tertawa kecil bersama-sama sebelum kembali mulai bekerja.
Hari ini aku bekerja lembur, pekerjaanku mulai menumpuk di hari keduaku bekerja. Untuk bisa menyesuaikan dengan tim baruku, aku harus benar-benar giat bekerja agar bisa menunjukkan pada diriku sendiri jika aku mampu untuk melakukannya. Dan aku bisa menunjukkan pada Henry jika pria itu telah salah meremehkanku.
“Apa kau yakin akan lembur malam ini, Angelina?” Sandra bertanya memastikan, tatapannya terlihat khawatir melihatku.
“Aku yakin, Sandra. Kau tak perlu khawatir,” ujarku meyakinkan.
“Baiklah, aku akan pulang dulu. Masih ada Mr. Campbell dan beberapa staf lain yang juga lembur di sini. Aku sarankan kau harus pulang sebelum mereka pulang, Angelina,” Sandra mengingatkan.
“Apa, Mr. Campbell?” Lidahku terasa kelu saat mengucapkan nama itu.
“Ya, beliau memang selalu lembur jika akan ada rapat besok.” Sandra bangkit dan mengambil tasnya, “Baiklah, aku pulang lebih dulu. Sampai bertemu besok, Angelina.” Sandra melambaikan tangannya padaku dan aku pun membalas hal yang sama.
Aku melirik arloji yang ada di tanganku, dan aku cukup terkejut saat melihat sudah pukul tujuh lewat. Pandanganku berkeliling melihat ruangan kantor yang kini hanya ada aku seorang. Astaga, apa aku terlalu fokus bekerja sehingga aku tak menyadari jika para staf lain sudah lebih dulu pulang?
Tak mau menunda lagi, aku segera berkemas untuk pulang sebelum waktu semakin malam. Karena bekerja lembur adalah keinginanku, akan menjadi masalah jika ada atasan yang melihatku pulang sampai larut malam.
Saat aku sedang menunggu taksi untuk pulang, secara mengejutkan sebuah mobil berhenti tepat di depanku. Orang dalam mobil itu membuka jendela mobil, dan ternyata dia adalah Alan Jones.
“Kau pulang larut malam sekali, Angelina?” tegurnya padaku.
“Iya, tadi saya harus menyelesaikan beberapa dokumen yang harus dikumpulkan besok,” jawabku dengan sedikit canggung.
“Kau benar-benar hebat. Semangat kerjamu begitu keras, aku salut,” sanjungnya, “Ayo, ikutlah pulang bersamaku, aku akan mengantarkanmu pulang. Ini sudah malam akan cukup sulit untuk mencari taksi,” tawarnya perhatian.
“Tidak perlu, Mr. Jones. Terima kasih. Saya bisa pulang sendiri, lagipula saya tidak ingin merepotkan Anda,” aku mencoba beralasan.
Di saat yang sama itu juga sebuah mobil yang aku kenal melintas di depan kami dengan cepat. Mobil Henry, aku tahu itu adalah mobilnya. Apakah pria itu melihatku? Astaga, bisa menjadi masalah jika sampai pria itu melihatku bersama dengan Alan Jones secara kebetulan seperti ini. Lalu apa yang harus aku lakukan?
__ADS_1