ISTRI KONTRAK PENEBUS HUTANG

ISTRI KONTRAK PENEBUS HUTANG
Datanglah padaku, Sayang


__ADS_3

“Apa?? Axel Campbell?! Apa aku tidak salah dengar? Bagaimana bisa dia ada di sini dan ingin bertemu denganku?!” Aku bertanya dalam hati.


Awalnya aku ingin menolak, dengan keadaanku yang masih seperti ini, bagaimana bisa aku bertemu dengan orang lain? Apalagi bertatap muka dengan pria yang merupakan kakak iparku sendiri? Sungguh pertemuan dengan situasi yang sangat buruk. Namun, aku kembali berpikir jika kedatangan Axel Campbell pasti tidak mungkin jika tanpa sebuah alasan. Aku tidak mungkin bisa seterusnya menghindar darinya bukan? Dan satu yang pasti, aku bukanlah seorang pengecut. Apa pun tujuan pria yang tak lain adalah kakak tiri dari suamiku itu, aku harus menghadapinya. Ya, oleh sebab itu aku putuskan untuk menemui Axel Campbell, dan dengan dibantu oleh Miranda aku pun bersiap-siap.


“Mr. Campbell? Ada perlu apa datang ke sini menemuiku?” aku bertanya menyapa pria yang berdiri di teras rumah dengan posisi membelakangiku.


“Angelina Louis. Senang kita bertemu kembali.” Pria yang memiliki wajah sama rupawannya dengan Henry itu mengulas senyumnya yang terlihat memikat.


“Kau tidak keberatan jika aku memanggilmu dengan nama Angelina, atau mungkin adik iparku?” sambung Axel kemudian mengejutkanku.


“Apa maksudnya? Aku tak mengerti,” aku menyahut dengan suara gugup yang tak bisa ditutupi.


Axel melangkah mendekatiku seraya tersenyum penuh arti, “Tak perlu merasa canggung padaku, karena aku sudah tahu semuanya, Angelina,” ujarnya penuh keyakinan.


Entah kenapa aku hanya bisa terdiam membisu terpaku di tempat.


“Aku minta maaf padamu sebelumnya karena mungkin kedatanganku mengejutkanmu, Angelina. Tapi percayalah aku tak ada maksud buruk dengan datang langsung menemuimu seperti ini, aku hanya ingin datang menyapa adik iparku sendiri. Itu tidak menjadi masalah 'kan?” Sekali lagi Axel menampilkan senyumannya, kali ini senyuman penuh arti.


“A-apa Henry tahu kau datang ke sini?” aku memberanikan diri untuk bertanya meskipun bibir ini terasa kelu untuk bicara.


“Tidak. Dia tidak tahu aku datang menemuimu di sini,” Axel menjawab dengan sikapnya yang santai.


“A-apa???” Tentu aku terkejut sekaligus tak habis pikir dengan sikapnya yang demikian.


“Kenapa? Apa kau takut jika Henry akan marah padamu seperti yang dilakukannya padamu semalam?”

__ADS_1


Deg!!


Kalimat yang baru saja diucapkan Axel Campbell kali ini sukses membuatku terkejut setengah mati.


“A-apa?? Bagaimana bisa kau tahu semuanya?” Secara refleks aku pun melangkah mundur saat Axel semakin mendekatiku.


“Tentu saja aku sudah tahu semuanya. Bukankah aku ini adalah saudara tertua dari suamimu? Aku bisa mengetahui apa yang tak diketahui orang dengan caraku sendiri,” jawabnya tanpa ragu-ragu, “Tenanglah, Angelina. Aku bukanlah ancaman bagimu. Jadi kau tak perlu merasa takut padaku,” sambungnya kembali.


“Maaf, tapi kedatanganmu di tempat ini dengan tiba-tiba saja sudah membuatku tidak nyaman,” sahutku gamblang.


Bukannya tersinggung, Axel justru terkekeh menanggapinya.


“Kau benar-benar wanita yang menarik, Angelina. Pantas saja, adikku sepertinya tergila-gila padamu. Oh, tidak! Bahkan sepertinya hampir semua pria di Campbell Corporation tergila-gila padamu,” ujar Axel.


“Ada apa denganmu? Kau sedang sakit?” Axel menatap padaku dengan kedua netra menyempit.


“Tidak, aku baik-baik saja.” Aku menyahut lirih dengan satu tangan memegang kepalaku yang semakin terasa pusing.


“Kau tidak baik-baik saja, Angelina. Wajahmu terlihat pucat,” tukas Axel.


Aku menggeleng, “Bisa kau tinggalkan aku sekarang, Mr. Axel Campbell? Aku hanya butuh istirahat.” Aku mencoba menyangkal walau tubuhku terasa semakin lemah.


“Tidak! Kau pikir aku ini bodoh? Meninggalkan wanita yang sedang sakit seperti ini?”


Itu adalah kalimat terakhir aku dengar sebelum akhirnya aku benar-benar pingsan dan tak ingat apa-apa lagi setelahnya.

__ADS_1


***


Malamnya seperti yang dijanjikan Henry, ia menemui Carla di tempat tinggal kekasihnya itu. Carla yang sudah tahu Henry akan datang pun mempersiapkan diri dengan penampilan terbaiknya. Kali ini Carla menggunakan lingerie seksi yang menggoda mata untuk menyambut sang kekasih yang sedang ditunggunya itu datang.


Henry yang sudah biasa keluar masuk ke penthouse Carla hanya bisa terpaku saat melihat kekasihnya itu kini sudah berpose menantang di atas ranjang. Kedua netra biru tajam milik Henry tak berkedip melihat pemandangan di depan matanya sekarang. Sebagai pria normal, tidak mungkin jika tidak tergoda melihat tubuh wanita yang hanya terbalut lingerie seksi menantang seperti yang dikenakan Carla.


Carla sengaja memperlihatkan senyuman di bibirnya yang sensual dan berkata, “Selamat datang kembali, Henry Sayang. Datanglah padaku. Aku merindukanmu.” Carla menunjukkan satu telunjuknya agar Henry mendekat padanya.


“Apa kini kau sedang merayuku?” Henry melonggarkan dasinya seraya mengangkat sudut bibirnya merasa tertantang.


“Tidak, ini adalah caraku untuk menyambutmu dan memastikan jika kau tak akan melupakan malam ini, Henry Bastian Campbell.” Carla kini berganti posisi duduk di atas ranjang menyambut Henry yang mendekat padanya.


“Oya? Kalau begitu, ayo kita lihat apakah kau berhasil melakukannya?” Henry mengulas senyumnya yang menantang.


“Tentu sayang, lihatlah aku dan pastikan hatimu selalu untukku setelah malam ini.” Tanpa perlu izin dari sang pemilik, Carla mulai membuka pengait dan resleting celana milik Henry yang kini sudah berdiri tepat di tepi ranjang.


Setelah berhasil meloloskan rudal kebanggaan milik Henry, tanpa ragu Carla langsung memposisikan diri membuat benda lunak itu masuk ke dalam mulutnya. Tak butuh waktu lama, lenguhan dan desah*n dari mulut Henry mulai terdengar seiring dengan gerakan mulut Carla, serta cara Carla memperlakukan benda kebanggaan milik Henry dengan semua keahlian yang Carla miliki.


“Ohh, ****! Kau memang selalu ahli dalam melakukannya, Carla,” des*h Henry dengan suara yang mulai terdengar berat.


Carla tersenyum di balik kegiatan yang masih dilakukannya. Ia semakin agresif memainkan rudal Henry hingga pria itu semakin memanas. Tak kuasa lagi menahan hasratnya lebih lama, Henry mulai melepaskan sisa pakaian yang masih melekat di tubuhnya, kemudian menghempaskan tubuh s*ksi Carla hingga jatuh telentang di atas ranjang.


“Akan aku buat kau menyesal malam ini karena kau telah membuat gair*hku bangkit!” ucap Henry serak dengan pandangan mata yang kini sudah diselimuti gair*h.


Merasa bangga misinya berhasil, Carla pun tersenyum dan berucap dengan suaranya yang sensual, “Aku tak sabar menantinya, Sayang. Lakukanlah sesukamu, aku milikmu malam ini.”

__ADS_1


__ADS_2