ISTRI KONTRAK PENEBUS HUTANG

ISTRI KONTRAK PENEBUS HUTANG
The pink star, part 2


__ADS_3

“Empat puluh dua juta dolar!” Seseorang menawar untuk pertama kali.


“Lima puluh tiga juta dolar!” Suara seorang wanita menyusul beberapa detik kemudian.


“Lima puluh tiga juta dolar, untuk wanita bergaun hijau! Berikutnya, siapa yang akan menawar lebih tinggi lagi?!” Sang auctioneer atau pembawa acara pria itu menampilkan senyuman cerahnya.


“Enam puluh juta dolar!” Aku terkejut ketika Axel bersuara ikut menawarkan berlian the pink star itu.


Seketika itu semua mata tampak mengalihkan pandangannya pada kami. Dengan ekor mataku aku bisa melihat tatapan mereka seolah menyiratkan banyak hal. Astaga, kenapa hal ini justru membuatku tak nyaman? Bagaimana bisa Axel Campbell menawarkan berlian itu dengan harga yang tidak main-main?


“Aku tahu kau menyukainya, Honey,” bisik Axel di telingaku dengan gayanya yang elegan. Detik itu juga aku pun memalingkan wajahku padanya penuh tanya.


“Tidak, tidak! Aku tidak setuju jika kau membuang uangmu hanya untuk sebuah perhiasan, Axel!” protesku dengan suara seperti bisikan.


“Kau tenang saja, apa yang akan terjadi nanti. Tetaplah jadi penonton, Honey.” Axel menyahut santai dengan pandangan tetap lurus ke depan.


“Fantastis! Enam puluh juta dolar telah ditawar oleh pria misterius di sebelah wanita bergaun warna putih!” pria pembawa acara tampak antusias memperkenalkan Axel Campbell di depan umum.


“Apakah ada yang berani menawar lebih tinggi lagi? Jika tidak, saya akan menghitung satu sampai tiga dari sekarang,” lanjut sang auctionneer.


“Enam puluh lima juta dolar!!” Sebuah suara bariton lantang terdengar detik itu juga, membuat kami seketika mengalihkan pandangannya pada sosok pria yang menawarkan harga tinggi.


Entah kenapa rasanya suara itu tak asing aku dengar, seperti suara seseorang yang aku kenal. Tapi mungkinkah?


“Hebat sekali enam puluh lima juta dolar ditawar oleh pria bertoxedo abu gelap di ujung kanan saya!” Pembawa acara itu menunjuk seorang pria yang yang berdiri tepat tak jauh di belakangku.

__ADS_1


Secara refleks banyak orang yang ada di ruangan ini menatap sang pria misterius itu. Tak terkecuali denganku sendiri, dan detik itu juga aku merasa jantungku berdetak semakin kencang, kala melihat sosok pria bertopeng hitam itu. Pria itu sepertinya aku mengenalnya, walaupun sebagian dari wajahnya tertutup dengan topeng. Tak hanya suara, namun postur tubuh dan model rambutnya mirip dengan seseorang yang aku kenal. Pandanganku beralih pada wanita bergaun hitam yang berdiri tepat di sisinya. Aku tercekat detik itu juga. Astaga, Ya Tuhan! Mungkinkah itu mereka??


Belum sempat menguasai keadaan, aku terperanjat ketika sepasang mata tajam dari balik topeng hitam itu melihat ke arahku. Detik itu juga aku langsung buru-buru membuang muka menghindar dari tatapan matanya.


“Kenapa? Apa kau melihat seseorang, Angelina?” Axel bertanya masih dengan sikapnya yang santai dan cenderung datar, namun aku masih bisa melihat senyum samar dari bibirnya.


Aku menggeleng gugup dan cepat-cepat menyahut, “Ah, tidak.”


“Siapa yang berani menawar lebih tinggi lagi?” Sang auctioneer bersuara kembali.


“Enam puluh delapan dolar!” Axel kembali bersuara mengejutkanku lagi.


“Tujuh puluh dua dolar!!” Suara bariton itu kembali menyahut detik berikutnya.


“Wow! Tujuh puluh dua dolar!! Angka yang luar biasa untuk The pink star!!” Pembawa acara itu bersorak antusias.


“Ini gila! Siapa pria itu?”


“Bagaimana bisa seseorang menawarkan harga setinggi itu hanya untuk sebuah perhiasan?”


“Hey, ini adalah berlian langka! Tentu pria itu bukanlah pria dari kalangan biasa.”


“Pasangannya pasti sangat beruntung memiliki pria seperti itu! Astaga aku sangat iri!”


Kasak-kusuk potongan demi potongan pembicaraan beberapa orang yang ada di ruangan sungguh jelas terdengar olehku. Aku pun hanya bisa berdiri dengan perasaan yang semakin gugup. Namun, kegugupan itu sirna saat sebuah tangan melingkari pinggulku dengan sikapnya yang penuh perhatian.

__ADS_1


“Rileks, Honey. Kau bersama denganku,” ucap pria yang tak lain adalah suamiku itu seraya menampilkan senyumnya yang menyejukkan.


“Jika tidak ada yang berani menawar lagi, maka lelang the pink star ini saya akan mulai tutup dengan hitungan-“


“Delapan puluh juta dolar!!” Belum sempat sang auctioneer atau MC itu melanjutkan ucapannya, suara bariton yang aku kenal itu menyahut kembali.


Suasana lelang cukup riuh setelah pria itu kembali menawarkan harga tinggi dengan delapan puluh juta dolar untuk the pink star.


“Siapa pria bertopeng hitam itu?? Misterius sekali, sungguh jelas jika pria itu tak ingin kalah dengan pria yang menawarkan harga tinggi sebelumnya.” Seseorang yang tak aku kenal berkomentar.


“Luar biasa! Sekali lagi pria yang sama menawarkan harga tertinggi delapan puluh juta dolar untuk The pink star!” auctioneer itu berkata penuh semangat.


“Kau ingin aku menawarkan harga yang jauh lebih tinggi dari pria itu tidak, Honey?” Axel berbisik mesra di telingaku detik itu juga.


“Tidak, tidak. Aku tidak mau, Axel.” Aku menjawab tegas dengan tatapan sedikit memohon.


“Baiklah, jika itu yang kau mau, Honey.” Sekali lagi Axel menyunggingkan senyuman penuh artinya padaku.


Astaga, sebenarnya ada apa? Apa maksud dari semua ini?


“Satu, dua, tiga! The pink star telah resmi terjual dengan harga delapan puluh juta dolar!!” sang auctineer menutup pelelangan berlian langka the pink star.


Tepuk tangan pun terdengar setelahnya. Bukannya merasa kesal atau tersinggung karena berlian langka itu tak terbeli oleh dirinya, namun aku justru melihat ekspresi Axel Campbell terlihat senang. Sungguh berbanding terbalik dengan apa yang sempat aku pikirkan tadi dalam benakku.


“Untuk Tuan terhormat yang telah menawarkan 'The pink star' seharga delapan puluh juta dolar, silakan naik ke panggung. Berlian langka atau yang diberi nama The pink star ini telah resmi menjadi milik Anda.” MC acara itu berkata.

__ADS_1


Deg!


Entah kenapa jantungku berdetak kencang kala melihat sosok itu mulai berjalan dengan langkah kokohnya yang mantap. Sampai di saat langkahnya melewatiku, aku merasa semakin gugup. Tak hanya itu, jantungku seakan ingin melompat keluar ketika sosok pria dari balik topeng hitam itu tiba-tiba berpaling padaku saat ia berjalan melewatiku. Ya, Tuhan! Melihat sosoknya dalam jarak yang begitu dekat seperti ini aku semakin yakin jika itu adalah dia. Pria itu, pria yang paling aku hindari selama kurang lebih empat tahun lamanya. Mantan suamiku sendiri sekaligus ayah biologis dari putraku Andrew Campbell, Henry Bastian Campbell.


__ADS_2