
“Apakah ada sesuatu yang terjadi saat aku tak ada?” Axel bertanya posesif seraya mengelus rambutku setelah selesai kami bercinta malam itu.
“Apa kau yakin?” selidiknya.
“Ya, aku yakin. Kau tak perlu khawatir,” aku meyakinkan.
“Baiklah aku percaya padamu. Syukurlah, jika memang tak ada masalah selama aku pergi,” ujar Axel mengecup lembut rambutku yang terbaring di salah satu lengannya yang kokoh.
Axel memejamkan matanya, merasa lelah setelah percintaan panas kami. Melihatnya sekarang, entah kenapa membuatku merasa bersalah. Kenapa? Selama pernikahan aku belum bisa memberikan sepenuhnya hatiku untuknya. Meskipun selama ini Axel Campbell selalu memberikanku banyak cinta. Kenapa aku seperti ini? Aku sendiri tak tahu. Tak hanya tampan, Axel adalah pria penyayang meskipun sosoknya masih misterius untukku.
Axel Campbell adalah sosok pria dan suami sempurna di mata semua wanita. Sebuah gambaran pria yang tanpa cela di mata orang. Tetapi tetap saja aku belum bisa memberikan seluruh hatiku untuknya. Aku sendiri tak tahu, kenapa aku seperti ini? Mungkinkah karena pernikahanku yang sebelumnya? Ataukah karena hatiku masih tertinggal di sana?
Henry Bastian Campbell. Nama itu belum bisa aku lupakan sampai detik ini. Apalagi jika melihat putraku yang begitu mirip seperti sosok ayah kandungnya. Kenyataan itu membuatku tak bisa begitu mudah melupakan bayang-bayang pria kejam itu dari pikiranku?
...
Cahaya yang masuk di sela-sela tirai kamar membuatku membuka mata ini yang masih terasa berat. Rasa lelah sisa semalam membuat tubuhku terasa remuk dan enggan beranjak. Ketika aku bangun untuk membersihkan diri sebuah tangan menghalangiku untuk bangun.
“Tetaplah bersamaku, sudah aku katakan jika aku tak akan membiarkanmu untuk bangun walau hanya sebentar,” larang sebuah tangan besar di balik selimut yang menutupi polos tubuhnya bagian bawah.
“Axel, aku harus mandi,” kilahku.
“Itu bisa dilakukan nanti. Lagipula kau mandi akan percuma, karena nanti tetap akan berkeringat lagi.”
__ADS_1
“A-apa???” Seketika telingaku terasa panas saat mendengar kalimat vulgar yang dilontarkan Axel.
Senyum jahil di wajah tampan itu terlihat tanpa dosa. Kedua netranya masih setengah terbuka melihat ke arahku. Seolah memamerkan dada bidangnya yang sedikit berbulu dan terlihat jantan itu, Axel melipat satu tangannya ke belakang kepalanya dengan sikap cuek.
“Kita masih memiliki pekerjaan di ranjang ini, Angelina,” ucapnya dengan senyuman penuh arti.
“Tidak!”
Tahu apa maksudnya, aku lebih memilih untuk bangkit, namun Axel lebih cepat menarik tanganku hingga tubuhku jatuh ke ranjang. Dengan gerakan cepat, saat itu pula Axel menindih tubuh polosku.
“Tidak akan aku biarkan kau pergi! Karena kita harus membuat adik untuk Andrew mulai sekarang.”
“A-apa??!” kedua mataku membelalak menatap pria yang kini sudah berganti posisi di atas tubuhku.
Axel tersenyum miring dan berkata, “Ya. Kita harus membuat adik untuk Andrew. Agar anak kita tidak kesepian lagi bermain seorang diri,” tuturnya penuh percaya diri.
“Benarkah? Aku pikir aku ini adalah pria seksi yang tampan,” sahut Axel dengan senyuman penuh percaya dirinya.
“Ish! Kenapa sifat narsismu itu tidak berubah?” aku mengumpat dengan bibir mengerucut sebal.
“Fufufu. Kau tahu? Pria tampan ini tergila-gila padamu, Angelina sayang,” sambungnya membuatku merona.
Belum sempat aku menyahut ucapannya, Axel ******* bibirku dengan cepat. Hingga aku kelabakan karena mendapatkan serangan mendadak seperti ini darinya. Satu tangannya meremas bukit kembarku dengan gemas, membuatku memekik di antara ******* bibirnya yang dalam. Setelah merasa puas, ia melepaskan ciumannya lalu berpindah ke ujung bukit kembarku yang terlihat menantang di depannya.
__ADS_1
Aku mendes*h keras ketika dengan lidah nakalnya Axel mempermainkan puncak berwarna pink milikku itu. Seolah bermaksud menggodaku, Axel semakin gencar memainkannya hingga aku menggelinjang merasa geli sekaligus nikmat. Rasa itu semakin membuatku mendes*h semakin keras, ketika satu tangan Axel masuk ke dalam liang sempitku yang kini basah dalam waktu cepat.
“Ohh..., Axel. Su-dah! Hentikan, ah-ku mohon....!” pintaku di antara permainan nakalnya di puncak bukit milikku dan liang sempitku yang basah.
“Maaf, sayang. Aku tak bisa. Ini terlalu nikmat. Kau menyukai aku menyentuhmu seperti ini ‘kan, Honey?” godanya dengan suara parau penuh gairah.
“Ahh...!!!”
Tanpa sadar aku melekukkan tubuhku, meliuk tak bisa menahan rasa itu. Tak bisa menahannya lagi, gelombang itu pun akhirnya datang membuat tubuhku tegang dan bergetar untuk beberapa saat.
“Sekarang giliranku. Aku datang, Honey!”
“Oughhtt!”
Belum selesai aku merasakan rasa itu, kini aku merasakan sesak di dalam inti tubuhku. Tubuhku tersentak selama beberapa saat, mencoba menguasai rudal besar dan jantan milik suamiku, Axel Campbell.
Penyatuan itu pun terjadi lagi untuk ke sekian lama. Suara nafas kami yang saling beradu semakin jelas terdengar seiring dengan gerakan pinggulnya yang menggila di atas tubuh polosku. Aku tak dapat berpikir apa-apa lagi selain rasa nikmat yang membuat kami terbang tinggi bersama untuk mencapai puncak.
“Ini terlalu nikmat, sayang. Ouhh! Kau selalu membuat gila, Angelina!” racau Axel dengan kedua mata setengah terpejam.
Axel semakin mempercepat gerakannya saat aku bisa merasakan kejantan*nnya berdenyut di dalam inti tubuhku, menandakan jika ia sudah berada di ambang limitnya, begitu juga dengan aku. Tak butuh waktu lama, gelombang itu pun datang. Axel melenguh keras di atas tubuhku bersamaan saat itu, aku bisa merasakan cairan hangat masuk ke dalam inti tubuhku.
Axel ambruk di atas tubuhku lalu mencoba mengatur nafasnya yang berat. Di antara rasa lelah itu, aku masih bisa mendengar dengan jelas ketika ia membisikkan sebuah kalimat.
__ADS_1
“Aku berharap benihku akan tumbuh subur di dalam rahimmu, dan kau tak akan bisa pergi dariku, Angelina Louis.”
Apa?? Apa maksud ucapannya itu padaku? Kenapa dia berpikir aku akan pergi meninggalkannya? Seperti biasa sikapnya yang kadang penuh misteri membuatku selalu bertanya-tanya. Namun, sampai ini aku selalu tak bisa menemukan jawabannya. Tentang alasan apa sebenarnya yang membuat seorang Axel Campbell menikahiku?